HeadlinePariwisata

Kiai Ma’ruf: MUI Akan Jadi Rujukan Standar Wisata Halal Dunia

KUTA, QOLAMA.COM | Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin (KMA) mengatakan, yang dimaksud wisata halal bukanlah obek wisata dirubah menjadi halal, tetapi fasilitas-fasilitas pariwisata yang disiapkan dengan standar halal seperti penyediaan sajian hala di restoran dan tersedianya tempat ibadah di hotel dan destinasi wisata.

Sehingga kata KMA, orang yang berkunjung di tempat-tempat wisata seperti NTB merasa nyaman dan menyenangkan.

“Jadi, bukan objek wisatanya yang diubah jadi halal, tapi layanannya yang kita beri kehalalan dengan sertifikasi dari Majelis Ulama Indonesia” Ungkap Kiyai yang juga Wakil Presiden RI terpilih 2019-2024 ini pada pembukaan The Internasional Halal Tourism Conference di Mataram, (10/10)

Kehadiran Wapres terpilih Ma’ruf Amin didampingi Menteri Pariwisata, Arif Yahya, Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah, Governor of bank Indonesia, Perry Warjiyo, Steering Committe internasional halal conference, Muhyidin Junaidi, Direktur Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), Sutan Emir, CEO Cressentrating Asia, M. Fazal Bahardeen serta bebera pejabat pemerintah lainnya.

Lanjut dalam sambutannya, Ma’ruf Amin mengatakan, Konferensi Wisata Halal Internasional MUI ini mengusung tema “Halal is Our Way of Life” di NTB karena Provinsi ini berhasil meraih gelar “World’s Best Halal Tourism Destination dan World’s Best Halal Honeymoon Destination pada tahun 2015 lalu.

“Ini upaya kita untuk menyuguhkan destinasi wisata halal kita lebih indah, Sehingga menjadi daya tarik tersendiri dan memiliki keunikan dibanding wisata di negara-negara lain” Tambahnya.

Karena itu dibawah kementerian Joko Widodo dan dirinya, Kementerian Parisata akan terus genjot untuk membenahi fasilitas-fasilitas pariwisata seperti restoran, hotel, travel dan fasilitas penunjang lainnya untuk berstandar Halal Internasional.

Selain itu, Kiyai yang akrab disapa Ma’ruf Amin ini mengatakan, lebih dari 50 lembaga sertifikasi halal dunia saat ini membangun Pariwisata Halal dengan mengacu pada standar MUI. Karena itu, MUI telah banyak memberi pengakuan kepada lembaga halal di luar negeri antara lain, Sincung halal for Taiwan.

“Lembaga itu merupakan lembaga yang mewakili MUI di Taiwan. Selain di Taiwan, ada juga di negara Korea dengan nama ‘ Ini Halal Korea’.” Katanya.

Hal senada di sampaikan Gubernur NTB, Dr. Zulkiefkimansyah bahwa, memaknai halal tourism tidak boleh direduksi maknanya sebatas halal tourism saja. Namun, konsep halal tourism akan disempurnakan dengan  inovasi-inovasi yang memungkinkan semua orang aman, tentram dan menyenangkan ketika mereka menikmati keindahan alam NTB.

“Banyak orang yang menyangka bahwa dengan adanya halal tourism kemudian orang tidak boleh lagi berenang. Sehingga cerita menakutkan ini mematahkan semangat halal tourism,” tutur gubernur NTB.

Dengan adanya Konferensi Internasional ini, Kata gubernur yang akarab di sapa Dr. Zul berharap ada konsep baru yang tawarkan untuk mengembangkan wisata halal di NTB yang lebih dikenal oleh dunia internasional. Pemerintah Provinsi NTB juga akan menyediakan sebuah pulau sebagai proyek percontohan (pilot projekt) untuk mengembangkan destinasi wisata halal.

“Sehingga orang akan berkaca di NTB.Terus terang, banyak pengusaha besar yang kami temui dari Korea, Autralia dan lainnya, ketika mereka datang ke Lombok ada aura yang berbeda,” ungkap Dr Zul.

Dr. Zul mengatakan, banyak hal yang indah, utama dan eksotisme Lombok tidak ditemukan di tempat lain. Kenapa pemerintah NTB begitu semangat mengembangkan wisata halal, karena pemerintah ingin membuktikan bahwa Islam itu sangat kompatibel juga dengan pariwisata.

“Jangan sampai umat Islam dipersepsikan tidak bersahabat dengan pariwisata,” tutur orang nomor satu di NTB.

Untuk itu, kata Dr Zul hadirnya Konferensi internasional dapat menghasilkan pemikiran yang menakjubkan. Sehingga ide tentang halal tourism menjadi sebuah konsep yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat NTB ke depannya. Menurut gubernur, untuk mengembangkan wisata halal tentu dibutuhkan konferensi internasional seperti ini.

Cek juga

Close
Back to top button
Close