EkbisHeadlineKesehatan

Pembukaan Obyek Wisata Harus Tetap Prioritaskan Masalah Kesehatan.

MATARAM – QOLAMA.COM | Pembukaan sejumlah objek wisata Provinsi Nusa Tenggara Barat selama new normal di tengah wabah Covid-19 diharapkan tetap memperhatikan masalah kesehatan sebagai prioritas utama.

“Pandemi Covid-19 mengajarkan untuk benar-benar bisa menghargai dan menempatkan kesehatan pada prioritas pertama dalam hidup, termasuk kebijakan membuka kembali objek wisata” kata Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah dalam salah satu kesempatan bertemu dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia di Mataram.

Pandemi Covid-19 mengubah beberapa tatanan kehidupan dunia, khususnya di bidang kebersihan dan kesehatan dan menjadi salah satu instrumen pembelajaran masyarakat tentang pentingnya kehidupan.

Ia juga mengatakan, dengan adanya pandemi ini, mayoritas masyarakat sudah mulai sadar bahwa dengan kesehatanlah kita bisa bekerja, beribadah, serta mengisi hidup dengan lebih produktif.

Covid-19 juga memaksa dunia dan daerah untuk memulai hidup dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Kehidupan baru yang biasa kita dengar dengan istilah kenormalan baru atau new normal.

“Pandemi ini pilihannya ada dua, apakah mau pilih aman atau produktif, kami di NTB tidak memilih salah satu, kami memilih aman dan produktif,” tegasnya.

Untuk bisa aman dan produktif sebelum ditemukannya obat dari Covid-19 tersebut, Rohmi menyampaikan bahwa harus benar-benar menerapkan protokol kesehatan dengan baik.

Meski demikian, masih banyak orang yang belum sadar akan pentingnya protokol Kesehatan padahal untuk menerapkan protokol kesehatan ini tidak memakan banyak biaya. Hal ini menjadi salah satu tugas besar dalam mengedukasi masyarakat.

“Yang dibutuhkan hanya pakai masker, jaga jarak tidak butuh biaya, apa lagi cuci tangan yang biasa kita lakukan sehari-hari, kenapa sulit? Karena berhubungan dengan mindset, kita tidak bisa melakukan dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan,” ungkapnya.

Seiring berjalannya sosialisasi dan penegakan protokol kesehatan, ia menuturkan bahwa NTB sudah mulai membangkitkan kembali perekonomian di NTB dengan terus-menerus mencari jalan bersama dengan Forkopimda dan ahli-ahli ekonomi di NTB.

Khusus bidang pariwisata, tentunya dengan cara yang berbeda. Beberapa objek wisata dibenahi terlebih dahulu sebelum dibuka kembali. Pembenahan tersebut dilakukan agar objek wisata tidak menjadi sumber penularan Covid-19.

“Untuk obyek wisata, kita harus benar-benar memilih, jangan sampai kita gegabah membuka obyek wisata, jangan sampai ada klaster obyek wisata,” jelas Umi Rohmi.

Kepala Dinas Pariwisata, H. Lalu Mohammad Faozal sebelumnya menyampaikan kesiapan beberapa titik destinasi wisata yang dibuka secara bertahap dengan beberapa penyesuaian di tengah pandemi Covid-19.

“Ada empat destinasi yang siap dibuka, tadi ibu Wagub menyampaikan sangat berhati-hati membuka objek wisata, yang utama adalah penerapan protokol kesehatan. Artinya, pembukaan destinasi bersamaan dengan penerapan protokol kesehatan,” kata Faozal.

Empat destinasi yang secara bertahap dibuka tersebut yakni Tiga gili, Rinjani, Mandalika, dan Senggigi. Keempat destinasi tersebut memiliki penyesuaian-penyesuaian untuk menghindari penyebaran Covid-19 di destinasi tersebut.

Penyesuaian yang dilakukan antara lain tidak dibukanya kolam renang, tidak diizinkannya pesta dan hal lainnya yang menimbulkan keramaian. Untuk sasaran wisatawan, Faozal mengatakan bahwa saat ini NTB fokus untuk wisatawan domestik mengingat banyak negara luar yang belum membuka penerbangannya.

“Kita tidak bicara mancanegara untuk saat ini, oleh karena itu, untuk saat ini domestik adalah pasar yang akan kami coba,” ucap Faozal.

Faozal mengukapkan bahwa dua jalur masuk dari luar NTB yakni bandara BIL dan Pelabuhan Lembar disiapkan dengan protokol kesehatan yang ketat. Selain itu, kendaraan angkutan yang beroperasi juga diimbau untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dengan pengawasan dari pemerintah.

“Kita hanya izinkan satu pintu masuk yaitu bangsal, untuk keluar masuknya orang atau barang, disitu kita siapkan tim, untuk mengecek wisatawan. Kita punya satu pos yang terdiri dari petugas KKP, imigrasi, kesehatan dan lainnya,” terang Faozal.

Ia menambahkan juga di masing-masing gili, baik itu gili meno, gili terawangan, dan gili air sudah disiapkan klinik untuk wisatawan yang membutuhkan layanan kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: