
Masuk Karisma Event Nusantara 2026 membawa Mulud Adat Bayan ke panggung nasional. Di tengah target ribuan pengunjung dan riuh promosi digital, masyarakat adat mengajukan satu syarat: pariwisata harus tunduk kepada kebudayaan.
Di Bayan, kamera memiliki batas.
Wisatawan boleh berdiri di jalan raya dan halaman Masjid Kuno Bayan Beleq. Mereka dapat menyaksikan arak-arakan, pakaian adat, peresean, dan sejumlah prosesi yang berlangsung di ruang terbuka. Namun, tidak semua pintu boleh dilewati. Ada tempat yang harus dibiarkan sunyi dari jepretan kamera. Ada benda adat yang tak boleh disentuh. Drone pun tidak dapat diterbangkan sesuka hati.
Aturan itu terdengar tidak biasa dalam industri pariwisata yang sering menawarkan kebebasan melihat, merekam, dan membagikan segala sesuatu. Tapi Mulud Adat Bayan memang tidak diselenggarakan untuk memuaskan pandangan wisatawan.
Orang luar datang sebagai tamu. Adat tetap menjadi tuan rumah.
Prinsip itulah yang dibawa masyarakat Bayan ketika tradisi tahunan mereka untuk pertama kalinya masuk dalam Karisma Event Nusantara atau KEN 2026. Mulud Adat Bayan digelar pada 26-29 Agustus 2026 di kawasan Masjid Kuno Bayan Beleq, Kecamatan Bayan, Lombok Utara.
Kementerian Pariwisata memasukkan Mulud Adat Bayan ke dalam 125 acara unggulan KEN 2026. Penetapan itu membawa tradisi religius masyarakat Sasak Bayan ke panggung promosi pariwisata nasional.
Bagi pemerintah daerah, masuknya Mulud Adat Bayan ke kalender tersebut tentu membanggakan. Lombok Utara bahkan menyumbangkan dua acara untuk KEN 2026: Mulud Adat Bayan dan Gili Festival.
Namun, di balik pengakuan itu tersimpan kekhawatiran yang tak sederhana. Semakin besar panggung yang diberikan kepada sebuah tradisi, semakin kuat pula godaan untuk mengubahnya menjadi tontonan.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Lombok Utara, Fadli, menyadari tarikan tersebut. Karena itu ia mengajukan prinsip yang terasa seperti pembalikan terhadap cara kerja pariwisata pada umumnya.
“Pariwisata yang harus mengikuti budaya, bukan budaya yang menyesuaikan kebutuhan wisatawan,” kata Fadli.
Kalimat itu menjadi bagian paling penting dari pelaksanaan Mulud Adat Bayan tahun ini. KEN bukan sekadar kesempatan mendatangkan pengunjung, melainkan ujian terhadap kedaulatan masyarakat adat dalam menentukan bagaimana kebudayaan mereka dilihat.
Bukan Pertunjukan yang Diciptakan untuk Wisatawan
Masjid Kuno Bayan Beleq berdiri sederhana di tengah lanskap Lombok Utara. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, sedangkan atap bertumpangnya menggunakan bahan-bahan tradisional. Bangunan yang diperkirakan berasal dari abad ke-16 itu dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Pulau Lombok dan menjadi saksi perjumpaan Islam dengan kebudayaan Sasak.
Di tempat inilah Mulud Adat Bayan mencapai puncaknya.
Tradisi tersebut bukan hanya peringatan atas kelahiran Nabi Muhammad. Di dalamnya tersimpan rasa syukur atas hasil bumi, penghormatan terhadap leluhur, pembagian peran sosial, dan ingatan kolektif masyarakat Bayan.
Sebuah kajian tentang pelestarian Mulud Adat Bayan mencatat bahwa tradisi ini melibatkan masyarakat dari sejumlah desa yang berada dalam kesatuan wilayah adat Bayan. Mereka datang membawa beras, padi, kelapa, sayuran, buah-buahan, dan hewan ternak. Bahan-bahan tersebut kemudian diolah dan disantap bersama.
Karena itulah Mulud Adat Bayan tidak dapat dipisahkan dari kerja bersama. Ia hidup melalui tangan banyak orang.
Rangkaian dimulai dengan menyilaq, yakni menyampaikan undangan kepada pranata adat dari berbagai kampung. Undangan itu bukan sekadar pemberitahuan acara, melainkan penegasan kembali hubungan di antara komunitas-komunitas yang terikat dalam wilayah adat Bayan.
Setelah itu berlangsung menutu atau menumbuk padi secara tradisional. Kaum perempuan menumbuk padi menggunakan lesung dan alat dari bambu. Irama tumbukan berpadu dengan bunyi gamelan Sasak.
Mesin penggiling tentu dapat menyelesaikan pekerjaan itu dengan lebih cepat. Namun, kecepatan bukan tujuan utama ritual. Menumbuk padi secara bersama-sama menghidupkan kembali cara kerja leluhur sekaligus mempertemukan masyarakat dalam satu gerak.
Pada hari berikutnya, kaum perempuan membawa bakul berisi beras di atas kepala menuju sumber air untuk menjalani bisoq meniq. Beras dicuci mengikuti ketentuan adat sebelum dimasak dalam prosesi meriap. Hidangan kemudian ditata di atas ancak, wadah dari bambu yang dibuat kaum laki-laki.
Masjid kuno juga dihias dengan kain dan umbul-umbul yang hanya dikeluarkan pada waktu tertentu. Di halaman masjid berlangsung peresean, pertarungan dua lelaki menggunakan rotan dan perisai kulit.
Adu ketangkasan itu bukan permusuhan. Ketika pertarungan selesai, para pemain bersalaman. Kekerasan simbolik ditutup dengan perdamaian.
Puncaknya adalah Praja Mulud. Pemuda adat didandani dan diarak menuju Masjid Kuno Bayan Beleq dengan membawa hidangan. Seorang tokoh masyarakat Bayan dalam liputan pelaksanaan Mulud 2024 menjelaskan bahwa prosesi tersebut dipenuhi simbol yang menghubungkan sejarah manusia, Adam dan Hawa, kelahiran para nabi, serta penghormatan kepada Nabi Muhammad.
Tidak seluruh pesan disampaikan lewat ceramah. Masyarakat Bayan menyimpan pengetahuan dalam gerak, pakaian, makanan, bunyi, dan pembagian peran. Simbol-simbol itu menjadi semacam kitab sosial yang dibaca dengan cara menjalaninya.
Ujian Setelah Masuk Kalender Nasional
Masuknya sebuah tradisi ke kalender pariwisata nasional dapat memberikan banyak manfaat. Promosi semakin luas, kunjungan meningkat, produk masyarakat lebih dikenal, dan peluang ekonomi terbuka.
Namun, pengakuan nasional juga dapat mengubah cara orang memandang tradisi. Upacara yang semula dijalankan karena keyakinan dan kewajiban adat berisiko dinilai berdasarkan jumlah pengunjung, banyaknya unggahan di media sosial, serta uang yang beredar selama acara.
Perubahan biasanya tidak datang secara mencolok. Ia bermula dari permintaan memperpanjang pertunjukan agar wisatawan tidak kecewa. Kemudian muncul keinginan membuka area terlarang demi menghasilkan gambar yang lebih menarik. Jadwal ritual bisa didorong menyesuaikan paket perjalanan, sedangkan bagian yang dianggap kurang fotogenik perlahan disisihkan.
Pada titik itulah tradisi dapat kehilangan kewenangannya atas diri sendiri.
Masyarakat Bayan berusaha mencegah kemungkinan tersebut dengan menetapkan batas sejak awal. Pengunjung wajib berpakaian sopan, disarankan mengenakan kain adat, tidak mengganggu jalannya ritual, serta tidak mengambil foto dan video di area terlarang. Penggunaan drone harus memperoleh izin.
Aturan itu bukan bentuk penolakan terhadap wisatawan. Justru di sanalah pelajaran terpenting dari Mulud Adat Bayan: menghormati kebudayaan tidak selalu berarti dapat melihat semuanya.
Ada pengetahuan yang boleh dibagikan. Ada pula kesakralan yang bertahan karena masyarakat mempunyai hak untuk tidak mempertontonkannya.
Konsep seperti ini belakangan dikenal sebagai respectful tourism. Wisatawan tidak hanya datang untuk mengonsumsi pemandangan, tetapi belajar menempatkan diri. Mereka menyesuaikan pakaian, perilaku, dan cara mendokumentasikan pengalaman dengan norma masyarakat yang dikunjungi.
Dengan demikian, kunjungan ke Bayan bukan sekadar perjalanan menuju sebuah destinasi. Ia juga latihan untuk menahan diri.
Pemuda di Antara Adat dan Algoritma
Tantangan berikutnya berada di tangan generasi muda Bayan.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, mereka tidak hanya dilibatkan dalam persiapan ritual, tetapi juga diberi peran mempromosikan Mulud Adat Bayan melalui teknologi dan media sosial. Mereka memikul dua pekerjaan yang tidak selalu mudah dipertemukan: menjadi pewaris adat sekaligus penerjemah kebudayaan ke dalam bahasa digital.
Media sosial dapat membantu tradisi dikenal dunia. Dokumentasi digital juga penting sebagai arsip bagi generasi mendatang. Namun, algoritma bekerja dengan mencari sesuatu yang paling sensasional, paling dramatis, dan paling mudah menarik perhatian.
Ritual tidak selalu bekerja seperti itu. Sebagian tahapan berjalan lambat. Sebagian lainnya membutuhkan keheningan. Ada pula simbol yang tidak dapat dijelaskan melalui video berdurasi kurang dari satu menit.
Karena itu, keberhasilan regenerasi tidak cukup diukur dari kemampuan pemuda membuat konten. Mereka harus mengetahui siapa yang perlu diundang dalam menyilaq, cara menjalankan menutu dan bisoq meniq, batas antara ruang publik dan ruang sakral, serta alasan setiap tahapan harus dipertahankan.
Teknologi semestinya menjadi alat pewarisan, bukan kekuatan yang menentukan bentuk ritual.
Pemerintah menargetkan sekitar 2.000 pengunjung menghadiri rangkaian Mulud Adat Bayan tahun ini. Angka itu penting bagi pariwisata. Namun bagi sebuah warisan budaya yang hidup, ukuran keberhasilannya berbeda.
Pertanyaan terpenting baru dapat dijawab setelah umbul-umbul diturunkan, wisatawan meninggalkan Bayan, dan kamera berhenti merekam: apakah generasi mudanya masih mengetahui cara menggelar ritual itu pada tahun berikutnya?
Jika jawabannya ya, KEN telah membantu menjaga sebuah warisan.
Jika tidak, panggung nasional hanya akan meninggalkan keramaian—dan adat perlahan berubah menjadi pertunjukan bagi orang lain.[]