
Road to Festival JAGAT, GUSDURian Lombok Tengah Ajak Santri Sirajul Huda Mengolah Sampah Jadi Berkah
QOLAMA.COM, LOMBOK TENGAH — GUSDURian Lombok Tengah menggelar workshop pembuatan kompos, pupuk organik cair (POC), dan budidaya maggot di Pondok Pesantren Sirajul Huda, Paok Dandak, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan bertajuk GUSDURian Lombok Tengah Goes to Pesantren: Go Green! tersebut merupakan bagian dari rangkaian Road to Festival JAGAT GUSDURian 2026. Para santri dan dewan guru mengikuti kegiatan dengan antusias, mulai dari penyampaian materi hingga praktik pengolahan sampah organik.
Hadir sebagai pemateri Koordinator JAGAT GUSDURian Lombok Tengah Muhammad Fahmi dan Koordinator Sekolah JAGAT GUSDURian Lombok Tengah Sadip Indra Sayuti. Keduanya mengenalkan cara sederhana mengubah sampah yang selama ini dianggap tidak berguna menjadi kompos, pupuk cair, dan pakan alternatif melalui budidaya maggot.
Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda, M. Khaerul Hatami, mengapresiasi kegiatan yang terselenggara melalui kerja sama GUSDURian Lombok Tengah dan Pondok Pesantren Sirajul Huda tersebut.
Menurut Hatami, edukasi dan pelatihan pengelolaan sampah sangat dibutuhkan pesantren. Aktivitas harian di dapur, kantin, warung, asrama, dan lingkungan sekolah menghasilkan sampah dalam jumlah yang tidak sedikit.
“Rata-rata pesantren menghasilkan sampah yang cukup banyak, baik dari dapur, warung, maupun aktivitas lainnya. Sampah ini jangan sampai menjadi masalah. Kalau dikelola dengan baik, justru bisa menjadi berkah,” kata Hatami.
Ia berharap pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi langkah awal untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih tertata di lingkungan Pondok Pesantren Sirajul Huda.
Dalam pemaparannya, Muhammad Fahmi mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap sampah. Sampah, kata dia, tidak semestinya langsung dibuang atau ditumpuk, melainkan perlu dipilah dan diolah sesuai dengan jenisnya.
Peserta kemudian diajak mempraktikkan pembuatan kompos dan pupuk organik cair dari sampah organik. Mereka juga mendapatkan pengenalan mengenai budidaya maggot Black Soldier Fly yang dapat membantu mengurai sampah dapur sekaligus menghasilkan pakan alternatif.
Fahmi menilai antusiasme para santri dan guru cukup tinggi. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan dan keterlibatan mereka selama praktik berlangsung.
“Karena ini baru dimulai, mungkin mereka masih dalam tahap mencoba. Namun, setelah pelatihan tadi, banyak peserta yang menyampaikan keinginan untuk membuat pupuk organik cair sendiri dari sampah dapur,” ungkap Fahmi.
Workshop di Pondok Pesantren Sirajul Huda merupakan kelanjutan program pendampingan masyarakat dalam isu lingkungan yang dilakukan GUSDURian Lombok Tengah melalui program JAGAT atau Jejaring Agama untuk Alam dan Toleransi.
Sebelumnya, GUSDURian Lombok Tengah menjalankan Program Pendampingan Masyarakat Selak Aik di Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara. Program bertema “Bersama Merawat Alam, Merawat Kemanusiaan” itu mencakup edukasi pengelolaan sampah organik, budidaya maggot, pengembangan pupuk cair, penanaman pohon, serta kegiatan membersihkan sungai dan mata air.
Pendampingan di Selak Aik kemudian diperkuat melalui Kemah Keakraban Lintas Iman pada 15–16 Agustus 2026. Bersama Pokdarwis Selak Aik dan jejaring pemuda lintas iman, kegiatan tersebut diisi dengan pemutaran film bertema lingkungan, diskusi agama dan kelestarian alam, peluncuran pengelolaan sampah, penghijauan, serta aksi membersihkan kawasan sungai.
Melalui rangkaian pendampingan dari masyarakat hingga pesantren, GUSDURian Lombok Tengah berupaya menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan dan kemanusiaan. Pesantren diharapkan dapat menjadi salah satu pusat perubahan—tempat para santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga belajar merawat bumi tempat kehidupan berlangsung.