Sambut Muktamar NU dan Festival JAGAT 2026, GUSDURian Lombok Tengah Gerakkan Aksi Lingkungan dari Komunitas hingga Pesantren
LOMBOK TENGAH, Qolama.com — Menyambut Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama dan Festival JAGAT GUSDURian 2026, GUSDURian Lombok Tengah menggelar serangkaian kegiatan lintas komunitas yang berfokus pada toleransi, kelestarian lingkungan, serta pengelolaan sampah berbasis pesantren.
Muktamar Ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Sementara Festival JAGAT akan digelar pada 29–30 Agustus 2026 di Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, dan Pesantren Tebuireng, Jombang.
Bagi GUSDURian Lombok Tengah, menyambut dua agenda besar tersebut tidak cukup hanya dengan memasang spanduk atau menggelar seremoni. Semangat keislaman, kemanusiaan, toleransi, dan keadilan ekologis diterjemahkan melalui kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Salah satu kegiatan tersebut adalah Kemah Keakraban Lintas Iman yang dilaksanakan di kawasan Wisata Selak Aik, Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, pada 15–16 Agustus 2026.
Kegiatan ini mempertemukan para penggerak lintas agama, mahasiswa, pemuda, pegiat lingkungan, kelompok sadar wisata, serta masyarakat setempat dalam satu ruang perjumpaan. Mereka datang dari berbagai latar belakang, tetapi dipertemukan oleh kepedulian yang sama terhadap kehidupan bersama dan kelestarian alam.
Kemah lintas iman diisi dengan pemutaran film bertema agama dan lingkungan, diskusi, doa lintas iman, makan bersama, bersih sungai, pengenalan pengolahan sampah, budidaya maggot, serta penanaman sekitar 700 bibit pohon durian, alpukat, sengon, dan kemiri.
Kegiatan tersebut melibatkan GUSDURian Lombok Tengah, Pokdarwis Selak Aik, B3KL IAIQH Bagu, MAPASMA STITNU Al Mahsuni, GEMA Budhis, Pemuda Ahmadiyah, serta berbagai unsur masyarakat dan jejaring lintas iman.
Hadir pula Ketua FKUB Lombok Tengah TGH Lalu Mala Syar’i, Rektor IAIQH Bagu Dr. H. Muhammad Ahyar, serta perwakilan Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian, Ubaid Raouf dan Munah.
Mengusung semangat “Merawat Alam, Merajut Kebersamaan, Menebar Toleransi”, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa toleransi tidak berhenti dalam ruang diskusi. Toleransi dapat tumbuh ketika orang-orang dengan keyakinan berbeda bekerja bersama menanam pohon, membersihkan sungai, dan menjaga sumber kehidupan masyarakat.
Rangkaian kegiatan di Aik Berik juga diisi dengan temu jejaring yang membahas berbagai persoalan lingkungan di kawasan tersebut. Salah satu perhatian utama adalah ketergantungan ekonomi masyarakat pinggir hutan dan persoalan distribusi air yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada warga sekitar sumber mata air.

Kepala Desa Aik Berik, Irundia, mengatakan pelestarian hutan tidak dapat dipisahkan dari persoalan ekonomi masyarakat. Sebagian warga menggantungkan penghidupan dari kawasan hutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Pada saat yang sama, menurut Irundia, sawah masyarakat Aik Berik justru mengalami kekurangan air selama kurang lebih 20 tahun terakhir, meskipun wilayah tersebut menjadi salah satu sumber air yang menghidupi berbagai kawasan di Lombok Tengah.
“Jadi ibaratnya kami ini hanya diperas. Membuat Mandalika hidup, membuat masyarakat Lombok Tengah mendapatkan air melalui PDAM, tetapi kami sendiri tidak ditolong,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa upaya menjaga hutan tidak dapat hanya dibebankan kepada masyarakat sekitar. Pelestarian lingkungan harus berjalan bersama dengan keadilan ekonomi, pemerataan manfaat sumber daya alam, dan keberpihakan kepada warga yang selama ini hidup paling dekat dengan hutan dan sumber mata air.
Setelah Kemah Lintas Iman, rangkaian menyambut Muktamar NU dan Festival JAGAT dilanjutkan melalui program GUSDURian Lombok Tengah Goes to Pesantren: Go Green!
Kegiatan bertajuk Road to Pesantren tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Sirajul Huda Paok Dandak, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Para santri dan dewan guru diajak mempelajari cara memilah serta mengolah sampah organik menjadi kompos dan pupuk cair. Peserta juga mendapatkan materi mengenai budidaya maggot sebagai salah satu metode mengurangi sampah sisa makanan sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomi.
Materi disampaikan oleh Koordinator JAGAT GUSDURian Lombok Tengah, Muhammad Fahmi, bersama Sadip Indra Sayuti, dengan dukungan jejaring MAPASMA STITNU Al Mahsuni.
Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda, M. Khaerul Hatami, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pesantren membutuhkan pengetahuan dan sistem pengelolaan sampah yang baik karena setiap hari menghasilkan sampah dari dapur, warung, asrama, sekolah, dan berbagai aktivitas santri.
Sampah yang dihasilkan pesantren, kata dia, jangan sampai dibiarkan menjadi persoalan. Jika dikelola dengan benar, sampah organik justru dapat diubah menjadi kompos, pupuk cair, dan pakan melalui budidaya maggot.
Program Road to Pesantren tidak berhenti pada penyampaian teori. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan baru di lingkungan Pondok Pesantren Sirajul Huda melalui pemilahan sampah, pengolahan sampah organik, pembuatan kompos dan pupuk cair, serta pelibatan guru dan santri secara berkelanjutan.

Koordinator GUSDURian Lombok Tengah, Ahmad Jumaili, memandang rangkaian kegiatan tersebut sebagai upaya membawa semangat Muktamar NU dan Festival JAGAT lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Nilai agama, menurutnya, harus hadir dalam tindakan yang melindungi manusia sekaligus merawat alam. Pesantren juga memiliki posisi penting karena tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi dapat menjadi pusat perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola lingkungan.
Melalui Kemah Lintas Iman dan Road to Pesantren, GUSDURian Lombok Tengah ingin menunjukkan bahwa merawat kerukunan dan menjaga bumi merupakan dua tanggung jawab yang tidak dapat dipisahkan.
Dari Selak Aik hingga Pondok Pesantren Sirajul Huda, perjalanan menuju Jombang telah dimulai melalui kerja-kerja sederhana: mempertemukan perbedaan, membersihkan sungai, menanam pohon, mengolah sampah, dan menumbuhkan kesadaran ekologis di kalangan santri.
Sebab Muktamar dan festival bukan hanya tentang orang-orang yang berkumpul di sebuah tempat. Keduanya menemukan makna ketika nilai yang dibicarakan benar-benar dikerjakan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.