
Oleh: M. Khaerol Khatoni
Di tengah persaingan global yang semakin terbuka, sebuah negara tidak hanya dinilai dari kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi, atau stabilitas politiknya. Dunia juga mengenal suatu bangsa melalui kebudayaan yang ditampilkan, nilai yang diperjuangkan, serta cerita yang dibagikan kepada masyarakat internasional.
Dalam konteks ini, budaya Nusantara semestinya ditempatkan sebagai portofolio utama identitas Indonesia di pasar global. Budaya tidak boleh dipahami sebatas peninggalan masa lalu, pertunjukan seremonial, atau pelengkap promosi pariwisata. Lebih dari itu, budaya merupakan modal sosial, ekonomi, dan diplomasi yang dapat membangun citra positif, kepercayaan, serta daya saing bangsa.
Nusa Tenggara Barat (NTB) dapat menjadi salah satu contoh nyata. Provinsi yang bertumpu pada dua pulau besar, Lombok dan Sumbawa, ini memiliki keragaman budaya yang tumbuh dalam semangat persaudaraan. Masyarakat Sasak, Samawa, Mbojo, Bali, Tionghoa, dan berbagai kelompok lainnya telah lama hidup berdampingan. Mereka memiliki bahasa, adat istiadat, kesenian, dan tradisi keagamaan yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh nilai saling menghormati dan kesadaran untuk menjaga kehidupan bersama.
Kekayaan budaya tersebut membuktikan bahwa identitas Indonesia tidak dibangun dari keseragaman. Indonesia justru menjadi kuat karena perbedaan-perbedaan yang dapat hidup dalam satu ruang kebangsaan.
NTB sebagai Wajah Kecil Indonesia
NTB dapat dilihat sebagai wajah kecil Indonesia. Di dalamnya terdapat perbedaan suku, agama, bahasa, dan adat istiadat, tetapi masyarakat tetap memiliki ruang untuk berinteraksi dan bekerja sama.
Masyarakat Sasak di Lombok serta masyarakat Samawa dan Mbojo di Pulau Sumbawa mempunyai latar budaya dan bahasa yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak menghalangi terbentuknya hubungan sosial, ekonomi, dan persaudaraan antarmasyarakat. Dalam berbagai kehidupan sehari-hari, warga terbiasa saling membantu ketika membangun rumah, membersihkan lingkungan, menyelenggarakan kegiatan adat, maupun menghadapi musibah.
Toleransi antarumat beragama juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat NTB. Di sejumlah wilayah, tempat-tempat ibadah berdiri dalam lingkungan yang berdekatan. Warga saling menghormati pelaksanaan ibadah dan perayaan hari besar agama. Mereka menyadari bahwa menjaga ketenangan orang lain dalam beribadah merupakan bagian dari upaya merawat kehidupan sosial.
Praktik semacam ini merupakan implementasi nyata Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan tidak ditempatkan sebagai alasan untuk saling menjauh, tetapi sebagai kekayaan yang saling melengkapi.
Budaya gotong royong yang hidup di Lombok dan Sumbawa juga menunjukkan kuatnya rasa kekeluargaan. Kesulitan yang dialami seseorang tidak dianggap sebagai persoalan pribadi semata, melainkan sering menjadi beban yang dihadapi bersama. Demikian pula kebahagiaan seseorang dapat dirayakan sebagai kebahagiaan bersama.
Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga. Di tengah dunia yang semakin individualistis, masyarakat global membutuhkan contoh tentang bagaimana solidaritas, toleransi, dan persaudaraan dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Budaya sebagai Instrumen Diplomasi
Menjadikan budaya Nusantara sebagai identitas Indonesia di pasar global tidak cukup dilakukan melalui promosi pariwisata atau penyelenggaraan festival tahunan. Budaya harus diposisikan sebagai instrumen diplomasi yang mampu menyampaikan karakter bangsa secara lebih halus, terbuka, dan manusiawi.
Melalui film, musik, seni pertunjukan, sastra, kuliner, busana, kerajinan tangan, dan berbagai produk kreatif lainnya, Indonesia dapat menyampaikan pesan mengenai kedamaian, keberagaman, keterbukaan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Pesan-pesan tersebut sering kali lebih mudah diterima masyarakat internasional dibandingkan pendekatan politik yang formal dan kaku.
NTB memiliki modal besar untuk menjalankan diplomasi kebudayaan semacam itu. Lombok telah dikenal sebagai salah satu destinasi wisata internasional. Daya tariknya bukan hanya terletak pada pantai, gunung, dan bentang alam, tetapi juga pada keramahan masyarakat, tradisi lokal, kehidupan pesantren, keragaman agama, kesenian, kerajinan, serta kuliner khasnya.
Demikian pula Pulau Sumbawa mempunyai kekayaan budaya, sejarah, bahasa, dan bentang alam yang dapat dikembangkan menjadi narasi besar tentang Indonesia. Jika dikelola secara tepat, kekayaan tersebut tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga peneliti, seniman, pelaku industri kreatif, serta masyarakat internasional yang ingin mempelajari pengetahuan lokal.
Wisatawan global saat ini tidak sekadar mencari tempat yang indah untuk difoto. Mereka semakin tertarik pada pengalaman yang otentik: tinggal bersama masyarakat, mengenal tradisi, menikmati makanan lokal, menyaksikan proses pembuatan kerajinan, serta memahami cara suatu komunitas menjaga alam dan hubungan sosialnya.
Di sinilah budaya NTB dapat menjadi bagian penting dari portofolio Indonesia di mata dunia.
Dari Warisan Budaya Menjadi Kekuatan Ekonomi
Kebudayaan yang beragam, otentik, dan berakar pada nilai kemanusiaan memiliki kekuatan untuk membedakan produk Indonesia dari produk negara lain. Sebuah kerajinan tangan, kain tradisional, sajian kuliner, pertunjukan seni, atau karya film akan memiliki nilai yang lebih tinggi apabila disertai narasi budaya yang kuat.
Produk lokal tidak hanya dijual sebagai benda, tetapi juga sebagai representasi sejarah, pengetahuan, keterampilan, dan identitas komunitas yang melahirkannya. Dengan demikian, budaya dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Namun, pengembangan ekonomi berbasis budaya harus tetap menempatkan masyarakat sebagai pemilik utama. Jangan sampai budaya lokal hanya dijadikan komoditas, sementara manfaat ekonominya justru lebih banyak dinikmati pihak luar.
Pelaku budaya, perajin, seniman, masyarakat adat, dan komunitas lokal harus dilibatkan sejak tahap perencanaan, produksi, promosi, hingga pembagian keuntungan. Mereka bukan sekadar objek pertunjukan, melainkan pemilik pengetahuan sekaligus aktor utama dalam pengembangan kebudayaan.
Pengelolaan pariwisata juga harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat. Pertumbuhan jumlah wisatawan tidak boleh mengorbankan kelestarian alam, kesakralan tradisi, maupun ketenteraman warga.
Pasar global memang membutuhkan kemasan yang menarik, kualitas yang terjamin, pelayanan yang profesional, dan distribusi digital yang kuat. Akan tetapi, penyesuaian terhadap standar global tidak boleh menghilangkan keaslian nilai budaya. Modernisasi kemasan dapat dilakukan tanpa mengubah kebudayaan menjadi sekadar barang dagangan.
Tantangan Pelestarian dan Perlindungan Budaya
Di tengah globalisasi dan kemajuan teknologi, budaya NTB menghadapi berbagai tantangan. Generasi muda semakin akrab dengan budaya populer global, tetapi belum tentu memiliki pengetahuan yang memadai tentang tradisi di lingkungannya sendiri. Apabila tidak diwariskan secara terencana, sebagian bahasa, kesenian, pengetahuan lokal, dan tradisi masyarakat dapat kehilangan penerus.
Tantangan lain adalah munculnya sikap yang kurang menghargai perbedaan serta kecenderungan mengutamakan kepentingan kelompok sendiri. Jika dibiarkan, sikap tersebut dapat melemahkan nilai persaudaraan yang selama ini menjadi pondasi kehidupan masyarakat.
Karena itu, melestarikan budaya tidak cukup dilakukan dengan menjaga benda, pakaian, tarian, atau upacara adat. Pelestarian harus menyentuh nilai yang hidup di dalamnya: penghormatan kepada sesama, gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, sopan santun, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
Indonesia juga harus memperkuat perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual. Berbagai ekspresi budaya, desain tradisional, pengetahuan lokal, dan produk komunitas perlu didokumentasikan serta dilindungi agar tidak diklaim, disalin, atau dieksploitasi pihak luar tanpa memberikan manfaat kepada masyarakat pemiliknya.
Dokumentasi budaya harus dilakukan secara serius melalui riset, arsip digital, pendidikan, film dokumenter, publikasi, dan pelibatan komunitas. Tanpa dokumentasi yang baik, Indonesia akan kesulitan membuktikan asal-usul sekaligus mempertahankan kepemilikan atas kekayaan budayanya.
Generasi Muda sebagai Kreator Narasi
Masa depan budaya Nusantara sangat bergantung pada kemampuan generasi muda untuk memahami, merawat, dan menafsirkannya kembali. Anak muda tidak cukup hanya diminta menjadi penonton dalam acara adat. Mereka perlu diberi ruang sebagai peneliti, seniman, pembuat film, musisi, penulis, desainer, pengembang teknologi, serta pelaku usaha kreatif.
Teknologi digital dapat menjadi jembatan antara tradisi dan pasar global. Cerita tentang budaya NTB dapat disampaikan melalui film pendek, podcast, dokumenter, musik, fotografi, permainan digital, maupun konten media sosial. Dengan kemasan kreatif dan tetap berpijak pada sumber yang benar, kebudayaan lokal dapat menjangkau publik internasional tanpa kehilangan jati dirinya.
Pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, industri kreatif, dan pelaku pariwisata perlu membangun ekosistem bersama. Pendidikan budaya harus diperkuat, pelaku seni harus dilindungi, produk lokal harus mendapatkan akses pasar, dan generasi muda perlu memperoleh pelatihan untuk mengolah kekayaan budaya menjadi karya yang berkualitas.
Dengan langkah tersebut, budaya Nusantara tidak hanya dikenang sebagai identitas masa lalu, tetapi menjadi kekuatan yang hidup, produktif, dan relevan bagi masa depan.
Merawat Budaya, Memperkuat Indonesia
Budaya NTB mengajarkan bahwa perbedaan merupakan anugerah Tuhan yang harus dijaga, bukan alasan untuk menciptakan perpecahan. Seperti keindahan pantai yang lahir dari pertemuan laut dan daratan, NTB menjadi indah dan kuat karena keberagaman yang menyatu.
Nilai saling menghargai, gotong royong, toleransi, dan persaudaraan telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Nilai-nilai inilah yang harus dibawa ke panggung global sebagai wajah Indonesia.
Menempatkan budaya Nusantara sebagai portofolio utama identitas bangsa berarti menghadirkan Indonesia bukan hanya sebagai negara yang kaya sumber daya alam, tetapi juga sebagai bangsa yang memiliki kedalaman nilai, kreativitas, keramahan, dan kemampuan hidup dalam perbedaan.
Untuk mewujudkannya, Indonesia perlu memadukan pelestarian tradisi dengan inovasi modern, memperkuat perlindungan kekayaan intelektual, meningkatkan kualitas produk budaya, serta memberi ruang yang luas kepada generasi muda dan komunitas lokal.
Jika kekayaan tersebut dikelola secara adil, kreatif, dan berkelanjutan, budaya Nusantara akan menjadi sumber kebanggaan sekaligus kekuatan ekonomi dan diplomasi bangsa. NTB dapat menjadi salah satu etalase terbaiknya: sebuah wilayah yang menunjukkan kepada dunia bahwa keberagaman bukan kelemahan, melainkan energi untuk membangun perdamaian, persatuan, dan kemajuan Indonesia.