FeaturesHeadlineTokoh

Cerita Pathul Saat Berjumpa KHR. Kholil As’ad Syamsul Arifin

Tak banyak pejabat yang bisa berjumpa dengan Kiai Putra Almagfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin ini. Calon Bupati Lombok Tengah HL. Fathul Bahri, S. Ip, merasa istimewa karena menjadi salah seorang diantaranya.

Selepas kunjungan KHR. Kholil As’ad Syamsul Arifin ke Lombok pada pertengahan Juli lalu, HL. Pathul Bahri, S. Ip yang sempat ikut bershalawat bersamanya terus dihinggapi perasan ingin bertemu yang kedua kalinya. Karena itu, Calon Bupati Lombok Tengah itu berkali-kali meminta diajak sejumlah alumni Ponpes Salafiyah – Syafiiyah Sukorejo untuk sowan ke putra Kiai As’ad Syamsul Arifin tersebut.

Namun Pathul mengaku heran, semua santri dan tuan guru alumni situbondo yang diajaknya, tak satupun yang bersedia. Konon, untuk bertemu Kiai yang khas dengan pakaian putih-putih ini sangat sulit, kendatipun dengan santri-santrinya sendiri, alumni Ponpes Walisongo Situbondo.

“Saya sempat ajak sejumlah Tuan Guru yang merupakan alumni, tapi tak ada yang siap. Kata mereka sulit ketemu kiai” Cerita Pathul Bahri dihadapan ratusan anggota dan pengurus Ikatan Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo (IKSASS), Ahad, (6/12/2020) lalu.

Karena tak satupun yang bersedia, iapun nekad pergi sendiri dengan meminta salah seorang alumni sekadar mengantarnya ke rumah Kiai Kholil As’ad yang berlokasi di Mimbaan, Kabupaten Situbondo.

Dari rumah, Pria yang akrab disapa Bajang Hul ini memantapkan niat, ia sekadar ingin sowan atau silaturrahim ke kiai Kholil karena merasa kangen diajak bershalawat beberapa waktu lalu saat berkunjung  ke Lombok.

Baca Juga :

IKSASS Koordinasi dengan PCNU Loteng Menyambut Kiai Cholil As’ad di Lombok

IKSASS Rayon Lombok Barat Bagikan Sembako Ke Warga Yang Isolasi Mandiri

Kiai Azaim; Polemik Film The Santri, Utamakan Akhlak

Dengan pesawat ekonomi ia berangkat melalui Bandara Internasional Lombok menuju Bandara Juanda Surabaya. Dari Surabaya ia naik mobil menuju Situbondo ditemani seorang sopir asal bali yang beragama Hindu.

“Saya tiba sekitar jam 5 sore dan baru diterima beliau sekitar jam 11 malam selepas isya’” Kenangnya.

Pathul membenarkan cerita para alumni perihal sulitnya bertemu Kiai putra mediator berdirinya Nahdlatul Ulama itu. Saat sampai di rumahnya, Pathul tidak langsung ditemui. Bahkan ia sempat diminta oleh beberapa khadam Kiai Haji Raden Kholil As’ad agar berwudhu terlebih dahulu jika ingin bertemu kiai.

“Saya deg degan, kenapa saya disuruh berwudhu’, dalam hati apakah karena sopir saya orang Hindu“ Katanya disambut gelak tawa para alumni.

Setelah berwudhu’-pun, Pathul tak langsung ditemui. Tidak seperti bertamu pada umumnya, tak sepatah katapun ia terima dari sejumlah pembantu kiai yang lalu Lalang ditempat itu.

kiai-kholil-as'ad-situbondo
HL. Pathul Bahri berfoto dikediaman KHR. Kholil As’ad Syamsul Arifin. Foto./Ist

“Saya hanya disuruh menunggu, ya saya menunggu. Tapi niat saya bertemu kiai sudah bulat .” Kata Pathul.

Hingga sekitar jam 08.00 malam jelang azan magrib. Baru seorang khadam kiai Kholil mempersilakannya masuk ke ruang tamu. Ia menunggu lagi ditempat itu. Tak lama kemudian Kiai Kholil Keluar dan berbahasa madura berbicara dengan beberapa khadam beliau.

“Pathul Bahri atau Pathul Barri?” Tanya Kiai Kholil tiba-tiba.

Sontak Calon Bupati Lombok Tengah ini menjawab, nama pemberian ayahnya, Pathul Barri, tapi diIjazahnya tertulis Pathul Bahri.

“Bagus-bagus” Kata Kiai Kholil Singkat.

Lama terdiam, kemudian Kiai Kholil bertanya lagi, berapa jumlah pemilih di kabupaten Lombok Tengah? Ketua PCNU Loteng itu menjawab, sekitar 760.000 jiwa.

“Tujuh Ratus Enam Puluh ribu ya….. Tujuh Ratus Enam Puluh ribu…ya” Kata kiai Kholil terus mengulang-ulang kalimatnya sembari wajahnya tampak memikirkan sesuatu.

Tak ada kata-kata lagi. Tiba-tiba Kiai Kholil langsung berdiri dan shalat. Selepas shalat dan berdo’a. Kiai Kholil Kembali bertanya.

“Tujuh Ratus Enam Puluh ribu ya….. Tujuh Ratus Enam Puluh ribu…ya” Kata kiai Kholil lalu secara khusus tampak mendo’akan Pathul Bahri agar berhasil menuai hajatnya mencalonkan diri sebagai Bupati Lombok Tengah.

“Setelah itu saya langsung pamit dan ziarah ke Makam Kiai As’ad di Sukorejo” Pungkas cerita Pathul didepan para anggota dan pengurus IKSASS yang bertandang ke Rumahnya.

KHR. Kholil As’ad Syamsul Arifin adalah putra kedua dari KHR. As’ad Syamsul Arifin. KHR. As’ad Syamsul Arifin diketahui menjadi mediator kunci berdirinya Organisasi Nahdlatul Ulama yang bertugas mengantarkan tongkat dan tasbih dari KHR. Kholil Bangkalan kepada muridnya KH. Hasyim Asy’ari.

Sejak kecil KHR. Kholil As’ad sering menunjukkan keanehan-keanehannya. Kesukaannya pada ilmu kanuragan menjadikan masa mudanya ia habiskan dengan berdakwah kepada preman dan anak jalanan di kota-kota di Jawa Timur.

Hingga pada saatnya beliau kemudian mendirikan Pondok Pesantren Walisongo yang kemudian tenar dijuluki masyarakat sebagai Pesantren Anak Jalanan(Anjal). Kini beliau adalah satu-satunya putra KHR. As’ad Syamsul Arifin yang masih hidup. Baju serba putih dan shalawat nariyah sebagai ciri khasnya. []

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cek juga
Close
Back to top button