
Pelaku sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Mari kita tidak berlebihan dalam menyikapi hal ini. Sebaiknya video ini tidak disebarluaskan lebih jauh. Kita akan koordinasi lebih lanjut untuk menentukan apakah cukup dengan maaf atau tetap melanjutkan proses hukum,” kata Irfan, Jumat (13/12/2024).
Mataram – Ketua PW GP Ansor NTB, DR. Irfan Suryadiata, M. Hum., meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan video penangkapan pelaku ujaran kebencian terhadap TGH LM Turmudzi Badaruddin, Rais Syuriyah PWNU NTB. Menurut Irfan, pelaku sudah meminta maaf, dan publik diimbau untuk bersikap bijak dalam menanggapi kasus tersebut.
“Pelaku sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Mari kita tidak berlebihan dalam menyikapi hal ini. Sebaiknya video ini tidak disebarluaskan lebih jauh. Kita akan koordinasi lebih lanjut untuk menentukan apakah cukup dengan maaf atau tetap melanjutkan proses hukum,” kata Irfan, Jumat (13/12/2024).
Irfan juga menegaskan bahwa PW GP Ansor tetap mendukung jalannya proses hukum. Namun, ia mengingatkan semua pihak agar tidak terprovokasi dan menjaga sikap. “Meski proses hukum berjalan, kita harus tetap menjaga sikap dan tidak berlebihan. Semua tindakan kita akan diperhatikan oleh masyarakat,” tegasnya.
Apresiasi untuk Kader Ansor
Pada kesempatan yang sama, Irfan memberikan apresiasi kepada kader GP Ansor yang telah berperan aktif dalam mengungkap kasus ini hingga pelaku berhasil ditangkap. “Saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah bekerja keras dalam mengusut kasus ini. Mari kita serahkan sepenuhnya kepada pihak berwenang,” ujarnya.
Irfan juga mengajak masyarakat NTB untuk terus menghormati ulama dan tokoh agama seperti TGH LM Turmudzi, yang merupakan panutan umat. Ia berharap kasus ini bisa menjadi pembelajaran untuk lebih berhati-hati dalam berbicara, berkomentar, dan bertindak, terutama di media sosial.
Pelaku Telah Diamankan Polisi
Pelaku yang diduga menyebarkan ujaran kebencian terhadap TGH LM Turmudzi telah diamankan oleh Polres Lombok Tengah. Kasus ini masih menunggu koordinasi dengan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di NTB untuk menentukan langkah selanjutnya.[]