AgamaFeaturesHeadlineIqro'

Haramkan Maulid Nabi Sama Artinya Tidak Mencintai Nabi Sebagai Rahmat Terbesar

QOLAMA.COM | Bulan Rabi’ul Awal bagi Ummat Islam menjadi bulan yang sangat istimewa dikarenakan dibulan ini Baginda Nabi Muhammad SAW di lahirkan. Sehingga pada bulan ini, hampir semua Ummat Islam di dunia merayakan sebuah acara yang dinamakan Bulan Maulidun Rasul atau bulan Maulid.

Khusus di Lombok, Perayaan maulid dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Baik di desa maupun di Kota. Pelaksanaannyapun dilaksanakan diberbagai tingkatan, mulai dari kampung, desa, kecamatan, kabupaten bahkan maulid di tingkat provinsi.

Bentuk peringatan Maulid Nabi ini bermacam-macam. Ada yang dengan sekadar mengadakan Pembacaan Barzanji, Diba’ atau Pembacaan Al Qur’an, adapula yang mengadakan dengan mengundang para tuan Guru untuk mengisi pengajian maulid, atau bahkan ada yang dengan mengadakan roahan, atau menjamu tamu dan menyuguhkan aneka macam makanan sebagai Sahadaqah. Maka tak heran, disejumlah wilayah seperti Narmada, Masyarakat jauh jauh hari telah mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk merayakan bulan kelahiran Nabi ini.

Benarkah Maulid Nabi Bid’ah ?

Belakangan ini kembali muncul kelompok yang mengharamkan Perayaan Maulid Nabi ini, kelompok ini disebut Salafy Wahabi. Tak segan-segan mereka menyalahkan orang yang melaksanakan maulid. Mereka mengatakan, maulid nabi ini haram dan sesat karena tak pernah diajarkan dan dilaksanakan Nabi, begitupula Para Sahabat dan Para tabi’in. Sehingga hal tersebut tidak memiliki dasar.

Hal ini oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) ditolak mentah mentah, sebab tidak semua yang tidak pernah dilaksaakan nabi itu Bid’ah, haram dan sesat.

Dikatakan para Ulama Aswaja, bahwa Perayaan maulid ini merupakan tradisi yang memang belum ada dan tidak pernah dilakukan nabi, para sahabat dan tabi’in bahkan kemunculan tradisi ini jauh setelah Nabi wafat. Namun secara substansi, perayaan ini merupakan peringatan hari kegembiraan atas lahirnya Nabi Muhammad Saw.  Mereka berpendapat, adanya firman Allah dalam surah Yunus ayat 58 yang berbunyi :
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakanlah wahai Muhammad “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Oleh Allah Ta’ala, manusia diperintah untuk bergembira atas karunia dan Rahmat yang diberikan Allah SWT. Dan diketahui bahwa, kelahiran Rasulullah SAW ke dunia ini adalah salah satu Rahmat Terbesar Ummat Islam. Seperti difirmankan Allah di ayat yang lain, QS Al Anbiya ayat 107 :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِين
“Dan tidaklah kami mengutusmu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”

Berikut ini pandangan beberapa ulama Ahlussunah Wal Jama’ah terkait maulid ini, kami kutip dari website Nu Online :

Al-Imam al-Suyuthi dari kalangan ulama’ Syafi’iyyah mengatakan:

هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ
“Perayaan maulid termasuk bid’ah yang baik, pelakunya mendapat pahala. Sebab di dalamnya terdapat sisi mengagungkan derajat Nabi Saw dan menampakan kegembiraan dengan waktu dilahirkannya Rasulullah Saw”.

Dalam kesempatan yang lain, beliau mengatakan:

يُسْتَحَبُّ لَنَا إِظْهَارُ الشُّكْرِ بِمَوْلِدِهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَالْاِجْتِمَاعُ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنْ وُجُوْهِ الْقُرُبَاتِ وَإِظْهَارِ الْمَسَرَّاتِ

“Sunah bagi kami untuk memperlihatkan rasa syukur dengan cara memperingati maulid Rasulullah Saw, berkumpul, membagikan makanan dan beberapa hal lain dari berbagai macam bentuk ibadah dan luapan kegembiraan”.

Dari kalangan Hanafiyyah, Syaikh Ibnu ‘Abidin mengatakan:

اِعْلَمْ أَنَّ مِنَ الْبِدَعِ الْمَحْمُوْدَةِ عَمَلَ الْمَوْلِدِ الشَّرِيْفِ مِنَ الشَّهْرِ الَّذِيْ وُلِدَ فِيْهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ

“Ketahuilah bahwa salah satu bid’ah yang terpuji adalah perayaan maulid Nabi pada bulan dilahirkan Rasulullah Muhammad Saw”.

Bahkan setiap tempat yang di dalamnya dibacakan sejarah hidup Nabi Saw, akan dikelilingi malaikat dan dipenuhi rahmat serta ridla Allah Swt.

Al-Imam Ibnu al-Haj ulama’ dari kalangan madzhab Maliki mengatakan:

مَا مِنْ بَيْتٍ أَوْ مَحَلٍّ أَوْ مَسْجِدٍ قُرِئَ فِيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَفَّتِ الْمَلاَئِكَةُ أَهْلَ ذَلِكَ الْمَكَانِ وَعَمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ
“Tidaklah suatu rumah atau tempat yang di dalamnya dibacakan maulid Nabi Saw, kecuali malaikat mengelilingi penghuni tempat tersebut dan Allah memberi mereka limpahan rahmat dan keridloan”.

Al-Imam Ibnu Taimiyyah dari kalangan madzhab Hanbali mengatakan:

فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ
“Mengagungkan maulid Nabi dan menjadikannya sebagai hari raya telah dilakukan oleh sebagian manusia dan mereka mendapat pahala besar atas tradisi tersebut, karena niat baiknya dan karena telah mengagungkan Rasulullah Saw”.

Bahkan merayakan maulid Nabi bisa menjadi wajib bila menjadi sarana dakwah yang efektif untuk menandingi perayaan-perayaan lain yang terdapat banyak kemunkaran. Al-Syaikh al-Mubasyir al-Tharazi menegaskan:

إِنَّ الْاِحْتِفَالَ بِذِكْرَى الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ الشَّرِيْفِ أَصْبَحَ وَاجِبَا أَسَاسِيًّا لِمُوَاجَهَةِ مَا اسْتُجِدَّ مِنَ الْاِحْتِفَالَاتِ الضَّارَّةِ فِيْ هَذِهِ الْأَيَّامِ.
“Sesungguhnya perayaan maulid Nabi menjadi wajib yang bersifat siyasat untuk menandingi perayaan-perayaan lain yang membahayakan pada hari ini”.

Dari beberapa keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa tradisi merayakan maulid Nabi Saw merupakan bid’ah yang baik (disunahkan), meski tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi Saw, karena di dalamnya terdapat sisi mengagungkan dan kecintaan kepada Rasulullah Saw. Bahkan, hukum merayakan maulid bisa menjadi wajib bila menjadi sarana dakwah yang paling efektif untuk mengimbangi acara-acara yang membahayakan moral bangsa.

Berikut ini beberapa Video yang dijelaskan langsung oleh Para Ustadz dan Tuan Guru Terkait Maulid Nabi.

Dikutip Dari Berbagai Sumber

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cek juga
Close
Back to top button