HeadlineLombok TengahPilkada 2020PolitikQolamuna

Menunggu Manuver Politik Suhaili, FT

‘diam’-nya DPP Golkar terkait Musda dan kepemimpinan Golkar di NTB adalah langkah taktis Golkar untuk mengamankan posisi politik strategis di pilkada Lombok Tengah. Abah Uhel diberikan panggung sebagai “King Maker”

EDITORIAL QOLAMA

Jelang September, berbagai manuver terus digeber sejumlah partai politik untuk Pilkada Serentak Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Lombok Tengah 2020.

Koalisi dan arah dukungan sejumlah partai telah menunjukkan titik terang. Gerindera dan Nasdem final mengusung HL. Pathul Bahri yang berpasangan dengan H. Nursiah, Demokrat dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) telah klop akan mengusung pasangan Ahmad Ziadi – HL. Aswatara. Sementara PAN dan PBB kabarnya juga telah menemu kata sepakat untuk mengusung Habib – Teguh hanya saja kursinya masih kurang. Tinggal lima partai lainnya yakni Golkar, PKB, PKS, Hanura dan PDIP. Mereka masih gamang menentukan pilihan.

Kabar terakhir, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang memiliki 6 kursi di DPRD memberikan dukungan ke pasangan Masrun-Aksar. Surat Keputusan B1 KWK bahkan kabarnya telah ditandatangani Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar. Namun kejelasan dengan siapa PKB berkoalisi masih membuat SK tersebut tertahan hingga sekarang.

Sementara itu PKS dengan jumlah 6 kursi juga belum ada tanda-tanda akan mengarahkan dukungan ke salah satu pasangan bakal calon. Santer terdengar, proyek mendongkrak elektabilitas H. L. Suryade yang gagal telah memaksa PKS harus ikhlas mendukung calon diluar kader partai.

Terakhir, para petinggi PKS Lombok Tengah dikabarkan menjalin koalisi dengan PKB. Namun koalisi itu terasa “garing” setelah masing-masing partai rupanya bersikukuh agar pasangan yang diusung nanti salah seorangnya harus terdiri dari kader mereka atau minimal menggunakan baju partai mereka. Persoalan ini memungkinkan, masih akan ada bongkar pasang pasangan calon atau bahkan kemungkinan lain, “cerai” koalisi antara PKB dan PKS.

Yang paling menarik adalah Manuver Partai Golkar. Dinamika kepemimpinan DPW Golkar NTB yang hingga hari ini masih belum selesai membuat sikap para petinggi Golkar di NTB terbelah. Sejumlah petinggi partai menginginkan agar Golkar tidak “kosong” walaupun hanya mengusung wakil di Pilkada Lombok Tengah. Sementara yang lain, bersikap pragmatis dan lebih ingin “memuallafkan” calon-calon yang sudah ada untuk dipakaikan baju Golkar.

Baca Editorial Lainnya :

Berebut Kursi Partai Untuk Pilkada Lombok Tengah 2020

Penurunan Kemiskinan NTB, Mengapa Belum Gemilang?

NW, NU dan Yatofa Jelang Kontestasi Pilkada Loteng

Bandara dan Representasi Masyarakat Sasak

Untuk soalan ini, DPP Golkar hingga hari ini memilih ‘diam’ dan enggan bermanuver terkait Musda dan kepemimpinan Golkar di NTB. Sejumlah fihak memandang ini langkah taktis Golkar untuk mengamankan posisi politik strategis di pilkada Lombok Tengah terutama karena H.M. Suhaili hingga usai Pilkada nanti masih menjabat Bupati.

Dengan kata lain, DPP Golkar hari ini memberikan ruang untuk Suhaili, FT memainkan perannya sebagai “King Maker” yang akan mendesain kemenangan untuk Golkar walaupun misalnya Golkar benar-benar tidak mengusung kader sendiri di Pilkada Loteng.

Tetapi kemungkinan Golkar tidak mengusung calon ini disangsikan banyak fihak. Logikanya, kekuasaan 10 tahun Golkar di Loteng dibawah kepemimpinan Suhaili, FT sulit akan dilepas begitu saja tanpa mengusung calon walaupun hanya sebagai wakil. Wallahu A’lam.[]

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Cek juga
Close
Back to top button