EditorialHeadlineQolamuna

Mimpi NTB Gemilang dan IPM yang Belum Menggembirakan

HUT NTB ke 65 Tahun 2020 ini diharapkan tidak sekedar seremonial apalagi klaim keberhasilan unjuk gagah-gagahan. Sisa tiga tahun kememimpinan ini harusnya menjadi kesempatan melakukan percepatan disegala sektor.

Editorial Qolama

Kamis 17 Desember 2020, Provinsi Nusa Tenggara Barat, genap berusia 62 tahun. Lebih setengah abad pembangunan telah dijalankan. Tercatat telah delapan Gubernur menjalankan ikhtiarnya membangun NTB dan masing-masing berupaya menjawab tantangan dan persoalan pada eranya masing-masing.

Ruslan Tjakranigrat (1958-1968) tercatat sebagai Gubernur pertama yang meletakkan fondasi pembangunan di bumi berjuluk Gogorancah (Bumi Gora). Kedua, H.R. Warsita Kusuma (1968-1979) melanjutkan fondasi dan mempertajam arah pembangunan. Berlanjut ke Gubernur yang ketiga Gatot Suherman (1979-1988) yang berupa membangkitkan pertanian dan swasembada beras.

Gubernur keempat dijabat Pak Warsito, (1988-1998) yang mulai merintis pembangunan pariwisata dilanjutkan Gubernur kelima Harun Al Rasyid (1998-2003) memantapkan stabilitas daerah. Gubernur keenam, Lalu Serinata(2003-2008) memulai NTB tinggal landas dengan merintis pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) dan pembukaan sejumlah kawasan wisata baru seperti KEK Mandalika. Dilanjutkan Gubernur ketujuh, TGB. Zainul Majedi, (2008-2018) dan sekarang Dr. Zulkiflimansyah.

Kita apresiasi dan mengucap terimakasih kepada semua Gubernur yang telah mencatat sejarahnya masing-masing. Aneka visi dan program telah mereka jalankan. Banyak yang berhasil tapi tak sedikit pula yang gagal. Nasib Tidak Baik (NTB) yang dilekatkan dulu berangsur-angsur hilang bersama sedikit peningkatan kesejahteraan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pariwisata dan dan infrastruktur daerah.

Dari sekian persoalan yang dihadapi daerah ini, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terus menjadi Pekerjaan Rumah yang tak kunjung bisa digeser.

Hingga tahun 2020 berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), IPM NTB masih berada di posisi paling buncit, rangking 29 dari 34 provinsi atau peringkat kelima dari bawah.

Bahkan ada kecenderungan, dimasa kepemimpinan Zul-Rohmi, IPM NTB tak kunjung menunjukkan perbaikan ditandai melambatnya laju pertumbuhan NTB selama tahun kurun waktu 2019-2020. Angka pernikahan usia anak dan stunting yang masih lebar serta jurang kemiskinan yang semakin menganga.

Pertanda buruk lainnya juga bisa dilihat melemahnya peningkatan sektor pendidikan, pariwisata dan pembangunan infrastruktur jika dibandingkan dengan masa kepemimpinan Tuan Guru Bajang Zainul Majedi.

Banner IDwebhost

Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) NTB, kasus pernikahan usia anak di NTB tahun 2019 mencapai 735 kasus dan tahun 2020 sebesar 317 kasus. Tingginya kasus pernikahan usia anak ini tentu menjadi indikator yang kasat mata langsung “menunjuk hidung” belum beres ya sejumlah hal, salah satunya kesehatan ibu dan anak di NTB.

Paparan ini sangat kontras dengan visi NTB Gemilang Zul – Rohmi dicanangkan sejak awal kepemimpinannya. Klaim keberhasilan program pembangunan patut dipertanyakan.

Ala kullihal, HUT NTB yang ke 62 di Tahun 2020 ini diharapkan tidak sekedar seremonial apalagi klaim keberhasilan unjuk gagah-gagahan. Sisa tiga tahun kememimpinan ini harusnya menjadi kesempatan melakukan percepatan disegala sektor.

Hal lain yang penting dicatat adalah, masih belum beresnya sistem tata kelola birokrasi yang efektif, efisien dan mengedepankan profesionalitas.

Khususnya, penempatan dan pengangkatan jabatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan jabatan-jabatan strategis lainnya, Gubernur Zul mestinya taat undang-undang dan mengedepankan profesionalitas bukan berdasarkan kedekatan kekerabatan, kesukuan bahkan kepentingan sekelompok orang. Sungguh menyakitkan apabila kebijakan-kebijakan kepemimpinan Zul-Rohmi dibicarakan orang sebagai politik balas jasa dan politik transaksional lima tahunan.[]

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Cek juga
Close
Back to top button