EditorialHeadlineLombok TengahPolitikQolamuna

NW, NU dan Yatofa Jelang Kontestasi Pilkada Loteng

Klaim Lombok Tengah sebagai basis Suara Nahdlatul Ulama (NU) dan Yatofa memang terdengar satir. Tapi faktanya, sulit dimungkiri, tiga kali pilkada, suara NU dan Yatofa betul betul dominan dan berhasil menghantarkan Suhaili, FT menjadi Bupati dua periode”

EDITORIAL QOLAMUNA

Setiap jelang Pilkada, Politik Lombok Tengah memang paling menarik dibincang. Klaim Lombok Tengah sebagai basis Suara Nahdlatul Ulama (NU) dan Yatofa memang terdengar satir. Tapi faktanya, sulit dimungkiri, tiga kali pilkada, suara NU dan Yatofa betul betul dominan dan berhasil menghantarkan Suhaili, FT menjadi Bupati dua periode dengan wakil yang berbeda, periode pertama Normal Suzana, Periode Kedua Lalu Pathul Bahri (LBP).

Kemenangan Suhaili, FT ketika berpasangan dengan HL. Normal Suzana boleh dibilang kemenangan telak, pasangan ini berhasil meraup setengah suara rakyat Loteng yakni sekitar 57.33 persen. Namun ketika Suhaili mengambil pasangan LBP, suara pendukung Suhaili, FT-LBP turun menjadi 47.24 persen. Walaupun tetap menang, angka ini menjadi petanda masih ada 52.76 persen suara rakyat Loteng yang berpotensi diperebutkan.

Angka terakhir inilah juga yang barangkali membuat para petarung politik Loteng lebih optimis menghadapi Pilkada 2020 mendatang. Kekuatan baru dan lama mulai ambil ancang-ancang.

Penantang lama yang menarik dipelototi adalah Nahdlatul Wathan (NW). Tampak jauh-jauh hari, organisasi yang memiliki basis utama di Lombok Timur ini sudah sibuk mengatur gerakan. Sejarah kalah dua kali Pilkada secara berturut-turut di Lombok Tengah tentu saja sangat menyakitkan. Wajar saja, jika pada Pilkada 2020 mendatang, NW sepertinya akan bertarung habis-habisan.

Tersiar rumor, kubu NW Anjani dan kubu NW Pancor akan memadu kekuatan. Konsolidasi struktural dan kultural dibangun untuk menyatukan visi gerakan. Dilemparnya sentimen nama bandara ke publik disinyalir menjadi bagian dari skenario politik besar ini. Polarisasi masyarakat pada kubu yang pro dan kontra adalah pembelahan politik yang diperkirakan akan terus digelindingkan hingga dihari pencoblosan.

Indikasi bersatunya dua kekuatan NW ini bahkan sudah berlanjut dengan munculnya nama Gede Syamsul yang konon akan berpasangan dengan Khairul Rijal. Indikasi inipun sengaja dilempar untuk mejajal sejauhmana potensi bersatunya Anjani dan Pancor untuk merebut kursi Loteng.

Gerindera dan Golkar 

Kekuatan Partai di legislatif Lombok Tengah hari ini terlihat sangat berimbang, empat partai di lini tengah yakni PKB, PPP, Demokrat dan PKS masing-masing mengantongi 6 kursi. Sementara lini depan Golkar dan Gerindera masing-masing 7 Kursi dan partai sisanya PBB 4 Kursi, Nasdem 3 Kursi, Hanura 2 Kursi, PDI 1 Kursi, Berkarya 1 Kursi dan PAN 1 Kursi.

Jika melihat komposisi ini, maka dipastikan tak satupun partai yang bisa mengusung calon sendiri tanpa membangun koalisi. Aturan KPU, pasangan calon bisa diajukan dengan persyaratan minimal mengantongi 20 persen dari jumlah kursi di parlemen. Artinya masing-masing paslon minimal harus didukung 10 kursi di Parlemen.

Untuk sementara ini, Gerindera dan Golkar menjadi dua partai yang paling ditunggu-tunggu. Apakah akan tetap bersama dalam satu koalisi ataukah akan pisah untuk kemudian membangun jalan politik sendiri-sendiri. Ditunggu-tunggu, karena memang H. Suhaili, FT dan LPB adalah simbolitas kekuatan NU dan Yatofa yang masih diakui sebagai kekuatan mainstream yang bakal merepotkan untuk dikalahkan

Dalam berbagai kesempatan, LPB berulangkali mengatakan akan menunggu perintah dari Bupati H. Suhaili, FT, dan H. Suhaili, FT berkali-kali pula mengatakan, pembangunan Lombok Tengah harus berkesenambungan. Apakah gelagat ini menunjukkan dua kekuatan ini masih seiring sejalan? Belum tentu.

Di lain fihak, banyak orang mencium aroma perpecahan antara Bupati dan Wakil Bupati terutama pasca Pilgub 2018 lalu. Kekalahan Suhaili, FT pada Pilgub 2018 lalu disinyalir salah satunya karena tidak maksimalnya LBP memainkan perannya sebagai Ketua PCNU Lombok Tengah. Hal lain, bergantinya akronim Yatofa dengan JAYAGORO (Jama’ah Yatofa Gotong Royong) serta sikap ragu-ragu dari beberapa nama dari kubu Yatofa memantik kecurigaan, H. Suhaili, FT dengan keluarga Yatofa belum searah menghadapi Pilkada 2020 mendatang.

Keputusan dua partai ini sangat penting karena, sedikit atau banyak akan menentukan kemana kemudi politik partai-partai lain diarahkan. [REDAKSI]

Selengkapnya
Cloud Hosting Indonesia

Tinggalkan Balasan

Cek juga
Close
Back to top button