KesehatanNews

Pemprov NTB Bentuk Satgas Penanganan Covid-19 di Lingkungan Pesantren.

MATARAM – QOLAMA.COM | Mengantisipasi penularan dan penyebaran Covid-19 di lingkungan pesantren, Pemerintah Provinsi NTB membentuk Satuan Tugas (Satgas) penanganan Covid-19.

“Satgas nanti akan bertugas mengakomodir kegiatan para santri untuk bisa menjalankan protokol kesehatan covid-19” kata Asisten I Setda Provinsi NTB, Baiq Eva Nurcahyaningsih dalam rapat pembahasan kegiatan belajar mengajar di pondok pesantren pada masa pandemi covid – 19 di Ruang Rapat Sekda NTB, Jumat 27 November 2020.

Melakukan pengawasan ketat terhadap aktivitas luar yang masuk ke Ponpes, guna mengantisipasi timbulnya klaster penyebaran Covid-19 di lingkungan Ponpes.

Dikatakan, virus Covid-19 tidak memilih tempat, usia dan gender sehingga perlunya satgas yang harus memantau berbagai aktivitas anak – anak yang juga di lingkungan Pondok Pesantren.

“Harusnya disusun strategi bagaimana untuk menjaga agar tidak meluas kasus yang terjadi di Pondok Pesantren,” paparnya.

Eva melanjutkan, Keputusan bersama empat Menteri, Menteri Pendidikan dan Kebudyaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri RI nomor : 03/KB/2020, 612TAHUN2020, HK. 01.08/MENKES/502/2020, 119/4536/SJ menjadi salah satu alasan harusnya ditegaskan kembali penerapan protokol kesehatan di berbagai sekolah maupun pondok pesantren.

Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi menambahkan, keputusan bersama empat kementerian menetapkan, bahwa bulan Januari 2021 akan dimulai pendidikan tatap muka, sehingga hal ini mengharuskan Pemerintah untuk segera sigap dengan berbagai situasi yang nantinya akan terjadi, salah satunya dengan pembentukan satgas.

“Saat ini Pesantren menjadi perhatian bersama, karena kelaster Pesantren yang kemarin dimulai dari kepulangan para santri yang di Pulau Jawa, salah satunya yaitu Kelaster Temboro,”

Nantinya, Satgas covid pondok pesantren akan mengtontrol situasi protokol kesehatan dilingkungan ponpes dan dapat berkoordinasi dengan satgas desa, kecamatan, kabupaten dan kota apabila terjadi sesuatu di pondok pesantren.

Ketua Forum Kerjasama Pondok Pesantren (FKSPP), TGH. Mahalli Fiqri, mengungkapkan, virus corona paling rentan terjadi pada orang – orang yang sering melakukan interaksi. Sementara itu ponpes memiliki ciri khas seringkali berkumpul.

“Kami sangat menyambut apa yang menjadi rencana Pemprov dalam berjuang dalam menjaga keselamatan jiwa terutama para calon pemimpin, yakni para santri, sehingga nantinya akan dibentuk satgas,” ungkapnya.

Berdasarkan data Satgas penanganan Covid-19 NTB, Sampai 26 November 2020, total kasus terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 4.688 orang, dimana 583 orang terkonfirmasi masih dirawat dan diisolasi, 3.856 orang sembuh dan 249 orang meninggal dunia. Sebanyak 211 orang suspek masih isolasi, 1.857 orang kontak erat masih karantina dan 4.511 orang pelaku perjalanan masih karantina.

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cek juga
Close
Back to top button