Editorial QolamaHeadlineTokoh

Selamat Jalan Dr. Muhammad Syahrur

Syahrur dengan cekatan menunjukkan Beberapa ayat yang menunjukkan bahwa Islam bukanlah nama sebuah Agama, tetapi jalan keselamatan yang bisa ada disetiap generasi manusia. Sementara Iman, hanya diperuntukkan untuk Ummat Muhammad.

EDITORIAL

Salah seorang penulis produktif dan pemikir Islam paling kontroversial DR. Muhammad Syahrur dikabarkan meninggal dunia.

Dilansir dari brocarpress.com yang dikutip oleh ibtimes.com, Dr. Muhammad Syahrur meninggal dunia pada Sabtu (21/12/2019) di Abu Dhabi, Uni Emiret Arab dalam usia yang cukup senja 81 Tahun.

Dikutip dari bukunya Islam Wal Iman, Muhammad Syahrur lahir di Damaskus, Suriah, 11 April 1938. Menuntaskan pendidikan dasar dan menengah di kampung halamannya sebelum hijrah ke kota Moskow, Rusia, pada 1957 dan berhasil meraih gelar sarjana teknik sipil.

Uniknya, walaupun ia Sarjana Tekhnik, Syahrur sangat tekun mengkaji soal-soal keislaman, khususnya kajian mendalam pada tafsir Al Qur’an.

Satu karyanya yang fenomenal adalah kitab  Al-Islām wa al-Imān, Mandzūmatu al-Qiyām. Dalam karyanya ini, Syahrur dengan sangat teliti mengkaji Al Qur’an dengan pisau analisis Linguistik dan Hermeneutik.

Kesimpulan Syahrur, konsep Islam
dan Iman yang difahami mayoritas Ummat Islam saat ini keliru besar. Sebab, melihat dari segi linguistik, konsistensi pemakaian kata Islam dan Iman sangat jauh dari konsep utama At Tanzil Hakim (Al Qur’an) diturunkan.

Menurutnya, Islam lebih dulu daripada Iman. Islam adalah konsep kenabian yang ada sejak Nabi Nuh AS, sementara konsep iman baru ada setelah Nabi Muhammad SAW diutus kedunia.

Syahrur dengan cekatan menunjukkan
Beberapa ayat yang menunjukkan bahwa Islam bukanlah nama sebuah Agama, tetapi jalan keselamatan yang bisa ada disetiap generasi manusia. Sementara Iman, hanya diperuntukkan untuk Ummat Muhammad.

Syahrur mengajukan beberapa ayat sebagai landasan Argumennya, misalnya tidak seruan Allah dalam Al Qur’an yang menggunakan kalimat Ya Ayyuhalladziina Aslamu, melainkan menggunakan Ya Ayyuhalladzina Amanu.

Konsekwensinya menurut Syahrur, hal ini akan merombak total pemahaman lama tentang Rukun Iman dan Rukun Islam. Bahwa Rukun Iman menurutnya adalah semua perintah Allah dalam Al qur’an termasuk Berbakti kepada orang tua, berjihad, menghormati tetangga dan lain sebagainya.

Bahkan dengan berani, Syahrur menuding pengkategorian rukun Iman hanya terbatas pada iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir dan Qadha-Qodar adalah produk ulama khususnya syafiiyah yang tidak berlandaskan pada pemahaman yang tepat dari Al Qur’an tetapi hanya dipetik dari hadist nabi.

Sementara itu Rukun Islam menurutnya hanya 3, yakni beriman kepada Allah, Hari akhir dan beramal Sholeh berdasarkan Surrah Al Baqarah ayat 62.

Selain al-Islām wa al-Imān, Mandzūmatu al-Qiyām, Syahrur meninggalkan banyak karya-karya lainnya yang tak kalah monumental antara lain :

Tahun 1990 الكتاب والقرآن – قراءة معاصرة –
Tahun 1994 الدولة والمجتمع –
Tahun 1996 الإسلام والإيمان – منظومة القيام –
Tahun 2008 تجفيف منابع الإرهاب –
Tahun 2014 الدين والسلطة – قراءة معاصرة للحاكمية –
Tahun 2014 الإسلام والإيمان – منظومة القيم –

Pembaca Mohammad Syahrur di Indonesia tidak sedikit. Kontroversi terakhir sebagai bagian dari kajian pemikirannya adalah disertasi mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Abdul Aziz, berjudul “Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital” menuai polemik.

Syahrur telah berjasa mendobrak kejumudan berfikir ummat islam dunia dengan kajian linguistik dan hermeneutik yang menjadi minatnya. Akan banyak pemikir, penulis dan pemunat kajia keislaman yang akan merasa kehilangan setelah meninggalnya. [Red]

Tinggalkan Balasan

Cek juga
Close
Back to top button
Close