
Remaja hari ini merasa, ekspresi tubuh, seperti berpelukan, berciuman bahkan hubungan diluar nikah adalah keputusan personal yang tidak perlu diatur oleh norma kolektif. Fenomena ini adalah pergeseran standar kepantasan dari evolusi nilai-nilai sosial yang lebih kompleks.
Alchemia El Qohwa
FFenomena pergeseran standar kepantasan di kalangan remaja bukan sekadar perubahan perilaku, tetapi cerminan dari evolusi nilai-nilai sosial yang lebih kompleks. Seorang ibu guru yang terperanjat mendengar bahwa bagi siswinya, sekadar ciuman dengan lawan jenis bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan, adalah potret dari benturan dua zaman—era tradisional yang menekankan kepatuhan sosial versus era modern yang mengusung kebebasan individu.
Dulu, tubuh dipandang sebagai bagian dari kehormatan keluarga dan komunitas. Konsep ini sejalan dengan virtue ethics Aristoteles yang menekanka, moralitas seseorang harus mencerminkan kebajikan dan kesopanan. Standar kepantasan dikontrol ketat oleh norma sosial, menjadikannya semacam “paket moral” yang diwariskan turun-temurun. Tubuh bukan milik individu semata, tetapi juga menyangkut martabat keluarga dan kehormatan sosial.
Kini, perspektif tersebut mulai terkikis oleh konsep kebebasan individu. Michel Foucault menjelaskan bagaimana tubuh, yang dahulu dikontrol oleh institusi sosial seperti agama dan keluarga, kini menjadi ruang ekspresi personal. Dalam dunia yang semakin terbuka, batasan kepantasan menjadi cair, dan individu memiliki kebebasan untuk mendefinisikan ulang norma-norma lama.
Perubahan ini juga dipengaruhi oleh pergeseran etika moral. Jika dulu etika deontologis Kant mengajarkan bahwa aturan sosial bersifat absolut—benar tetap benar, salah tetap salah—maka kini, moralitas cenderung didasarkan pada utilitarianisme Bentham dan Mill. Artinya, selama suatu tindakan tidak merugikan orang lain, ia bisa dianggap sah dan pantas. Prinsip inilah yang membuat banyak remaja merasa bahwa ekspresi tubuh, termasuk ciuman atau cara berpakaian, adalah keputusan personal yang tidak perlu diatur oleh norma kolektif.
Namun, di balik kebebasan ini, muncul pertanyaan: Apakah pergeseran standar kepantasan ini mengarah pada kemajuan atau justru kehilangan makna moralitas? Jean-Paul Sartre menekankan kebebasan individu dalam menentukan makna hidup, tetapi apakah kebebasan itu juga berarti nihilisme dalam nilai-nilai sosial? Dalam masyarakat yang semakin individualistis, tanggung jawab moral terhadap komunitas menjadi semakin samar.
Di sinilah peran pendidikan dan keluarga menjadi krusial. Bukan dengan cara memaksakan standar lama, tetapi dengan membangun kesadaran kritis: sejauh mana kebebasan berekspresi dapat tetap selaras dengan nilai-nilai etis dan tanggung jawab sosial? Bukan soal memilih antara tradisi atau modernitas, tetapi bagaimana menemukan titik temu di antara keduanya.
Saran dan Solusi untuk Orang Tua dan Guru
Pertama, orang tua dan guru perlu membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan anak-anak dan remaja. Daripada langsung menghakimi atau melarang, lebih baik ajak mereka berdiskusi tentang alasan di balik nilai-nilai kepantasan. Gunakan pendekatan yang lebih reflektif dengan bertanya, misalnya: “Menurut kamu, apa sih arti kepantasan?”. “Bagaimana kamu melihat dampak dari tindakan ini terhadap diri sendiri dan orang lain?”. Dengan cara ini, remaja akan merasa dihargai pendapatnya sekaligus diajak berpikir kritis.
Kedua, Pendidikan moral harus disampaikan dengan cara yang relevan dengan zaman. Alih-alih hanya mengatakan “Ini dilarang dalam agama” atau “Ini memalukan bagi keluarga,” jelaskan dengan perspektif yang lebih kontekstual, seperti Dampak psikologis dari hubungan yang terlalu dini. Bahaya eksploitasi seksual di media sosial atau Pentingnya membangun self-respect dan batasan diri dalam pergaulan.
Ketiga, Anak-anak dan remaja lebih mudah meniru ketimbang hanya mendengar nasihat. Orang tua dan guru harus memberikan contoh dalam bersikap, berpakaian, dan berbicara dengan penuh hormat dan tanggung jawab. Jika ingin remaja memiliki standar kepantasan tertentu, maka lingkungan sekitarnya juga harus mencerminkan nilai tersebut.
Keempat, Media sosial menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi cara pandang remaja terhadap tubuh dan kepantasan. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan guru untuk memberikan edukasi tentang bagaimana memahami media secara kritis, Menjelaskan bahwa tidak semua standar kecantikan dan gaya hidup di media sosial itu realistis atau sehat. Mengajak mereka berdiskusi tentang bagaimana tren tertentu bisa berdampak pada perilaku dan psikologi mereka.
Kelima, Orang tua dan sekolah bisa membuat aturan tentang kepantasan yang tidak terlalu kaku, tetapi tetap memiliki batasan yang jelas misalnya, Memastikan cara berpakaian yang tetap menghormati norma budaya tanpa menghilangkan kebebasan berekspresi. Memberikan batasan yang masuk akal dalam pergaulan, seperti menjaga batasan fisik dalam interaksi dengan lawan jenis tanpa harus bersikap terlalu represif.
Keenam, Remaja acapkali hanya melihat dampak jangka pendek dari tindakan mereka. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu membantu mereka memahami konsekuensi jangka panjang dari setiap keputusan yang mereka ambil. Misalnya, Dampak psikologis dan sosial dari perilaku seksual di usia muda. Bagaimana keputusan mereka hari ini bisa mempengaruhi masa depan mereka dalam dunia kerja, hubungan, dan kehidupan sosial.
Ketujuah, alih-alih hanya mempertahankan tradisi atau sepenuhnya mengikuti arus modernitas, perlu ada keseimbangan yang bijak. Standar kepantasan bisa berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai inti seperti rasa hormat, tanggung jawab, dan kesadaran akan dampak sosial dari tindakan seseorang.
Perubahan standar kepantasan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, tetapi bukan berarti nilai-nilai moral harus ditinggalkan. Tantangan bagi orang tua dan guru adalah bagaimana menanamkan pemahaman yang lebih dalam tentang makna kepantasan, bukan sekadar memaksakan aturan tanpa alasan yang jelas. Dengan pendekatan yang lebih terbuka, reflektif, dan berbasis nilai yang kontekstual, generasi muda bisa tumbuh dengan kesadaran moral yang lebih kuat tanpa merasa terjebak dalam dogma yang kaku.
Perubahan zaman bukan ancaman, melainkan peluang untuk menciptakan generasi yang lebih sadar, bertanggung jawab, dan tetap memiliki pegangan nilai yang kokoh.[]