HeadlineHukum dan KriminalMataram

Tersangka Narkoba Karang Bagu Mengaku dianiaya Dirresnarkoba Polda NTB

MATARAM, QOLAMA.COM | Setelah baru lalu ramai diberitakan menggerebek Bandar Narkoba di Lingkungan Karang Bagu, Cakranegara, kali ini Ditresnarkoba Polda NTB kembali dihebohkan dengan sebuah video pengakuan seorang tersangka Narkoba Inisial R yang menyatakan dirinya telah Diintimidasi, dipukuli, dianiaya diruang tahanan Resnarkoba Polda NTB sebelum Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dimulai di ruang penyidik.

Tak tanggung-tanggung, menurut pengakuan tersangka R, yang melakukan intimidasi ini adalah Direktur Resnarkoba Polda NTB langsung yakni Kombes Pol Helmi Kwarta Putra.

Menurut penjelasan tersangka R, Dirresnarkoba Helmi Kwarta Putra tidak hanya melakukan intimidasi, pemukulan dan penganiayaan bahkan Mantan Dirresnarkoba Kaltara itu juga memaksa dirinya mengakui kepemilikan barang bukti berupa sabu yang didapati polisi saat penggerebekan Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Lingkungan Karang Bagu Cakranegara pada 17 Juni 2020 silam.

“Kita diperlakukan kayak binatang, kayak pencuri dan dianiaya, disuruh mengakui dan memaksakan dirinya bahwa kepemilikan narkoba jenis sabu merupakan kepemilikan saya…Bahkan tanda tangan BAP itu dipaksain dan kayak anjing saya di injak” Ujarnya dalam video sambil menunjukkan leher belakanngan yang katanya bekas sulutan api rokok.

BERITA LAINNYA :

Dr. Irpan: Ditresnarkoba Polda NTB Ambil Barang Orang Tanpa Surat Sita

KASUS Perusakan UIN Mataram, Pengacara Minta Polisi Segera Tetapkan Tersangka

Disertasi Doktor Unram, Bongkar Banyak Pasal UUD Bertentangan dengan Pancasila

Tersangka R juga memprotes proses penyidikan Ditresnarkoba Polda NTB  dilakukan tanpa transparansi sehingga ia meminta mencabut kembali BAP yang telah ia tandatangani sebelumnya.

“Saya mengajukan pencabutan BAP karena proses penyidikan Dirresnarkoba Polda NTB tidak ada transparansinya” Ujarnya.

Kuasa Hukum tersangka R, Dr. Irpan Suriadiata SHI., M.Hum saat dihubungi Qolama membenarkan kliennya saat ini menarik BAP karena merasa proses penyidikan tidak transparan dan mengaku berada dibawah tekanan.

“Klien kami juga sudah menyampaikan ke kami tentang mencabut BAP karena merasa proses penyidikan tidak transparan serta berada dibawah tekanan, hal ini memang diatur dan dibolehkan dalam KUHAP” Kata Irpan.

Adapun terkait pemukulan seperti yang disampaikan kliennya, Irpan tidak mau berkomentar banyak. Ia mengaku sedang menelusuri kebenarannya, apakah benar telah terjadi penganiayaan atau tidak. Tapi jika hal itu benar terjadi, maka aparat kepolisian telah melanggar ketentuan dalam KUHAP terkait proses penyidikan.

“Ketentuan pasal 117 ayat 1  KUHAP, didalam proses penyidikan perkara, tidak boleh ada intimidasi dalam bentuk apapun terhadap tersangka atau saksi yang akan memberikan keterangan dihadapan penyidik. Karena hal itu akan berakibat pada keabsahan proses penyidikan yang di lakukan” Jelas Pengacara peraih gelar Doktor Hukum di Universitas Hukum Unram ini.

Irpan menambahkan, terkait adanya dugaan pemukulan tersebut, klien-nya telah memintanya untuk segera melaporkan hal tersebut ke Kapolda NTB, Propam Polda NTB dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk dilakukan investigasi.

“Klien kami memang telah meminta agar kami segera bersurat ke Polda, Propam dan Komnasham untuk melaporkan dugaan intimidasi yang dia ceritakan itu, kita berharap ada investigasi termasuk membuka rekaman CCTV, agar penegakan hukum di NTB dilakukan dengan benar” Ujarnya.

Ditresnarkoba Polda NTB; Itu Fitnah!

Sementara itu, Direktur Resnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Putra saat dikonfirmasi Kamis Malam, (30/7/2020) menyatakan, yang dikatakan Tersangka R bahwa ada penganiayaan dan pemukulan yang dilakukan oleh dirinya adalah Fitnah.

“Saya ini tukang tangkap bandar narkoba, bukan tukang pukul, gila apa mau zolimi orang” Ujarnya.

Dikatakannya, kemungkinan fitnah seperti ini muncul untuk dirinya karena dalam memproses hukum Bandar Narkoba, kepolisian saat ini juga  menerapkan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Sehingga apapun bentuk harta benda, usaha, rumah dan lainnya yang dihasilkan dari hasil jual beli Narkoba akan disita langsung tanpa kompromi.  

“Jika bukti penyidikan ternyata harta benda mereka itu hasil dari Narkoba maka kami akan sita semunya. Itu yang saat ini mereka takutkansehingga melawan dengan menyebar fitnah macam-macam kepada polisi.” Kata Kombes Pol Helmi yang sebelumnya bertugas di Kalimantan Utara ini.

Namun demikian, Helmi mengaku tidak takut dan akan terus melawan bandar-bandar narkoba ini karena sangat merusak.     

“Saya datang ke NTB tidak untuk bersahabat dengan bandar narkoba, saya tetap komit untuk basmi mereka apapun resikonya, saya akan pertaruhkan jabatan untuk Nawaitu saya dalam pemberantasan narkoba, doakan saja saya supaya tetap amanah” Pungkasnya. []

Tags

Tinggalkan Balasan

Cek juga
Close
Back to top button
Close