FeaturesHeadlineQolamunaTokoh

Warsa Cinta

Saudaraku, tahun baru sepatutnya ajang kelahiran ulang semua orang. Pijar kembang api dan terompet malam pergantian menandai ritus peralihan: mengeluarkan yang buruk ke masa lalu, memasukan yang baik ke masa depan.

Yudi Latif, Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia

Dalam menyikapi yang lama dan yang baru, ada dua jenis kebebalan yang harus dihindari. Seseorang berkata, “Ini tua, oleh karena itu bagus.” Yang lain menukas, “Ini muda, oleh karena itu lebih baik.” Padahal, esensinya bukanlah yang tua atau yang muda, melainkan kebaikan apa yang didapat dari yang lama dan yang baru. Dalam mengarungi masa depan, sikap terbaik adalah “mempertahankan warisan masa lalu yang baik, seraya mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Krisis berulang yang melanda bangsa terjadi karena langkah perubahan melalui salah jalan: mempertahankan yang buruk, membuang yang baik. Tradisi korupsi lebih giat dipertahankan, tetapi tradisi pelayanan publik lebih malas dikembangkan. Mengimpor lebih dikehendaki daripada berswasembada; mengutang lebih dipilih daripada berswadana, menguras sumberdaya alam lebih diandalkan daripada meningkatkan nilai tambah.

Luput dari keinsyafan, bahwa nilai kehidupan tidaklah ditentukan oleh tahun-tahun dalam kehidupan kita, melainkan oleh kehidupan kita dalam tahun-tahun itu. Bukan berapa lama berkuasa, melainkan nilai apa yang ditorehkan selama berkuasa.

Dalam situasi krisis yang merongrong keutuhan dan ketahanan bangsa, momen kelahiran kembali semua orang di tahun baru ini seharusnya dapat membangkitkan kekuatan jiwa mencintai (the power of love).

Kekuatan mencintai itu terasa penting dalam menyongsong tahun-tahun padat politik (2023-2024). Politik yang sedianya merupakan seni mengelola republik demi kebajikan kolektif melalui perbaikan otoritas publik, jangan sampai terjerumus menjadi seni menipu dan memecah-belah rakyat dgn mengatasnamakan “kebajikan publik”.

Memasuki tahun baru, seribu masalah menghadang kita, namun kekuatan cinta akan membuat setiap orang lebih besar dari dirinya sendiri: membuka diri untuk berbakti, bersatu dan berbagi dengan yang lain.

Akhirnya, kekuatan cinta pun tak mengenal putus asa. Siapa yang ingin memiliki mutiara, harus ulet menahan-nahan napas, dan berani terjun menyelami samudera yg sedalam-dalamnya.

SUMBER : psikindonesia.org

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cek juga
Close
Back to top button