Headline

IKA PMII NTB Siapkan Akademi Calon Kades, Gus Choy: Dari Baca Data sampai Strategi Menangkan Pilkades

MATARAM, Qolama.com — Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Nusa Tenggara Barat tengah menyiapkan Akademi Calon Kepala Desa, sebuah ruang penguatan kapasitas bagi kader PMII dan kalangan Nahdliyin yang bersiap maju dalam kontestasi pemilihan kepala desa.

Akademi ini dirancang bukan sekadar sebagai ruang belajar teori pemerintahan desa. Peserta akan dibekali mulai dari cara membaca data, memetakan kekuatan sosial, menyusun visi-misi, membangun citra kandidat, hingga menyiapkan strategi kampanye dan tim pemenangan.

Direktur Akademi IKA PMII NTB, Gus Choy, mengatakan konsep akademi dibuat lebih cair dengan format retreat.

“Prinsipnya kita bantu kader dan Nahdliyin yang nyalon kades untuk memenangkan Pilkades. Kemasannya retreat,” kata Gus Choy.

Menurut dia, calon kepala desa tidak cukup hanya dikenal masyarakat. Seorang kandidat juga harus memahami secara utuh desa yang hendak dipimpinnya.

Karena itu, tahapan awal akademi akan difokuskan pada persiapan diri kandidat.

“Mulai dari persiapan diri, ngulik dan baca data, mapping sosial, penguatan visi, misi, program, kemudian personal branding atau citra diri,” ujarnya.

Peserta nantinya akan diajak membaca data kependudukan, kondisi sosial, kelompok-kelompok masyarakat, isu yang berkembang, kebutuhan warga hingga potensi yang dimiliki desa.

Dari proses tersebut, kandidat diharapkan tidak menyusun visi dan program berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan persoalan nyata yang ditemukan di masyarakat.

Setelah fondasi kandidat dinilai cukup, materi akan bergerak pada tahapan yang lebih teknis terkait kontestasi Pilkades.

“Lanjut materi tentang kampanye, komunikasi publik, pengelolaan logistik, APK, teamwork atau tim sukses dan lainnya,” kata Gus Choy.

Komunikasi publik menjadi salah satu materi penting. Kandidat akan belajar bagaimana menyampaikan gagasan, membangun narasi pencalonan, berkomunikasi dengan warga hingga menjaga konsistensi pesan selama proses Pilkades.

Akademi juga akan membahas pembentukan tim kerja, pembagian peran, pengelolaan relawan dan jejaring, hingga bagaimana membangun kerja tim yang solid.

Selain itu, peserta akan diperkenalkan dengan pemetaan tokoh-tokoh berpengaruh, basis sosial kandidat, profiling kandidat lain serta pembacaan kecenderungan masyarakat melalui survei.

Ketua IKA PMII NTB, Akhdiansyah, S.H.I., melihat kepemimpinan desa sebagai salah satu ruang strategis bagi kader dan alumni untuk mengambil peran nyata di tengah masyarakat.

Menurutnya, kepala desa saat ini tidak hanya membutuhkan kemampuan administratif. Seorang kepala desa juga harus mampu membaca perubahan sosial, mengelola sumber daya, membangun komunikasi dengan masyarakat serta menerjemahkan kebutuhan warga menjadi kebijakan dan program pembangunan.

Karena itu, Akademi Calon Kepala Desa diharapkan bisa menjadi ruang untuk menyiapkan kader sebelum mereka terjun ke dalam kontestasi.

Akhdiansyah menyebut pelaksanaan akademi akan mulai menyasar sejumlah wilayah di NTB. Untuk Pulau Lombok, kegiatan direncanakan berlangsung dalam beberapa pekan ini.

“Di Lombok kita mulai minggu-minggu ini, kemudian untuk Pulau Sumbawa kita targetkan akhir September,” kata Akhdiansyah.

Skema pelaksanaan itu diharapkan dapat menjangkau lebih banyak kader dan alumni yang memiliki kesiapan maju dalam Pilkades di berbagai kabupaten di NTB.

Tidak hanya bicara soal kemenangan, akademi juga akan membahas kesiapan kandidat apabila nantinya benar-benar terpilih menjadi kepala desa.

Peserta akan diajak menyusun program prioritas, agenda kepemimpinan hingga rancangan kerja 100 hari pertama.

IKA PMII NTB juga menegaskan bahwa strategi pemenangan dalam akademi tetap ditempatkan dalam koridor demokrasi dan hukum.

Praktik politik uang, intimidasi, penyebaran informasi palsu maupun manipulasi tidak menjadi bagian dari strategi yang dikembangkan.

Akademi justru diarahkan agar para kandidat mampu memenangkan kepercayaan masyarakat melalui gagasan, komunikasi, kerja tim dan pemahaman yang kuat terhadap persoalan desa.

Sejumlah praktisi pemerintahan desa, kepala desa, akademisi, praktisi komunikasi, pemetaan sosial serta kader dan alumni yang memiliki pengalaman dalam kontestasi Pilkades direncanakan akan terlibat sebagai narasumber.[]

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button