FeaturesHeadlineHukum dan KriminalInternasionalTak Berkategori

Sachs: Perang Iran Cerminkan Kekacauan Hegemoni AS, Dunia Menuju Titik Berbahaya

Ini bukan sekadar konflik geopolitik modern. Cara berpikir yang digunakan Trump dan Netanyahu seperti logika manusia abad ke-9 sebelum masehi

Dalam sebuah wawancara terbaru di kanal YouTube Glenn Diesen (GDiesen1), ekonom terkemuka Jeffrey Sachs melontarkan kritik keras terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, khususnya dalam konflik yang melibatkan Iran. Wawancara yang dipandu oleh Glenn Diesen itu menyoroti kondisi global yang dinilai semakin tidak stabil dan berpotensi menuju eskalasi berbahaya.

Sachs, yang menjabat sebagai Direktur Center for Sustainable Development di Columbia University, menilai bahwa dunia saat ini sedang menghadapi dua realitas sekaligus: perilaku politik Amerika yang semakin tidak menentu dan runtuhnya keyakinan atas dominasi militer AS.

Menurut Sachs, retorika Presiden AS Donald Trump, termasuk ancaman “mengembalikan Iran ke zaman batu”, telah mengejutkan dunia internasional. Ia juga menyoroti pidato Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dinilai sarat dengan narasi keagamaan ekstrem dan kekerasan simbolik terhadap Iran.

“Ini bukan sekadar konflik geopolitik modern. Cara berpikir yang digunakan bahkan menyerupai logika abad ke-9 sebelum masehi,” ujar Sachs.

Ia menilai bahwa narasi “shock and awe” yang selama ini menjadi andalan militer AS tidak lagi terbukti efektif. Sejumlah perkembangan di lapangan justru menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kapasitas serangan balasan yang signifikan, sementara sistem pertahanan Amerika dan sekutunya mulai menunjukkan tanda-tanda melemah.

Sachs juga mempertanyakan tujuan utama perang tersebut. “Kita bahkan tidak bisa menjelaskan secara jelas mengapa perang ini terjadi. Ini tampak seperti perang karena dorongan sesaat,” katanya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa konflik ini bukan semata tentang Iran, melainkan bagian dari upaya Amerika mempertahankan hegemoni global. Namun, menurutnya, ambisi tersebut tidak lagi realistis di tengah munculnya dunia multipolar.

Dalam wawancara itu, Sachs juga menyoroti perbedaan sikap publik antara Amerika Serikat dan Israel. Jika mayoritas publik AS menolak perang, maka di Israel, dukungan terhadap operasi militer justru cukup besar. Ia menyebut adanya tingkat dehumanisasi yang tinggi terhadap pihak lawan dalam retorika politik Israel.

Sachs memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi meningkat menjadi perang yang lebih luas, bahkan tidak menutup kemungkinan eskalasi nuklir.

Sebagai solusi, ia menyarankan peran aktif para pemimpin dunia seperti Vladimir Putin, Xi Jinping, dan Narendra Modi untuk menekan Amerika Serikat agar menghentikan eskalasi.

Di sisi lain, Sachs juga mengkritik negara-negara sekutu AS, terutama di Eropa dan kawasan Teluk, yang dinilai terlalu bergantung pada perlindungan militer Amerika. Ia bahkan mengutip pernyataan Henry Kissinger bahwa “menjadi musuh Amerika itu berbahaya, tetapi menjadi temannya bisa berakibat fatal.”

Menurut Sachs, kehadiran pangkalan militer AS di berbagai negara justru meningkatkan risiko konflik dan menggerus kedaulatan nasional.

Ia menutup dengan seruan agar negara-negara di dunia mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan negara tetangga dan tidak terjebak dalam politik “pecah belah” yang selama ini menjadi strategi kekuatan besar.

“Keamanan sejati tidak datang dari dominasi satu negara, tetapi dari kerja sama regional yang setara,” tegasnya.

Wawancara ini menjadi salah satu refleksi tajam atas dinamika geopolitik global saat ini, sekaligus peringatan bahwa arah dunia sedang berada di persimpangan yang menentukan.

Adsvertise
Selengkapnya
Back to top button