
Beliau sesungguhnya tidak sedang membutuhkan informasi dari saya, melainkan sedang membangun jembatan kepercayaan diri bagi seorang murid untuk terus belajar menulis dan meneliti.
Oleh : Lalu Faqih Saiful Hadie
Pada suatu petang di tahun 1999 (kalau saya tidak salah ingat), beliau meminta seorang santri untuk memanggil saya menghadap, lalu dengan wibawa yang menenangkan beliau memberi saya sebuah tugas : “Tolong buatkan saya tulisan pendek tentang Zoroaster itu.” Perintah itu sederhana, namun bagi saya yang sedang haus akan validasi intelektual kala itu, ia terdengar layaknya mandat agung untuk membedah sebuah peradaban kuno yang nyaris terkubur dalam sejarah.
Dengan sumber daya literatur yang sangat terbatas di masa itu, jauh sebelum era algoritma mesin pencari memudahkan segalanya, saya berusaha keras untuk mengumpulkan kepingan-kepingan informasi. Perasaan bangga yang membuncah menjadi motivasi utama yang memacu semangat saya untuk segera menuntaskan perintah tersebut. Saya merasa seperti seorang arkeolog amatir yang sedang berusaha menyusun _puzzle_ sejarah dari sebuah tradisi monoteisme tertua di dunia, demi memenuhi ekspektasi sosok yang sangat saya hormati.
Hasilnya, sebuah artikel yang sejujurnya masih berada pada taraf sangat jauh dari sempurna. Kontennya sangat terbatas, hanya berkisar pada narasi sejarah kelahiran sang nabi Persia itu serta ringkasan superfisial mengenai pokok-pokok ajaran dalam Zend Avesta, belum menyentuh ke kedalaman filosofis tentang dualisme universal antara Ahura Mazda dan Angra Mainyu yang merupakan inti dalam ajaran agama tua tersebut.
Ketika saya menyerahkan tiga halaman kertas folio tersebut, beliau menyambutnya dengan senyum hangat, dan hal itu sangat mereduksi kecemasan saya. Memang, kalau soal menghargai karya orang lain beliau memang maestronya. Setelah membaca baris demi baris tulisan saya, dengan nada yang penuh kegembiraan beliau berkata, “Bagus ini, saya akan sampaikan ke para santri besok pagi waktu santapan rohani.” Bagi saya kalimat itu adalah validasi yang sangat memotivasi.
Keesokan paginya, saya merasa seperti seorang penulis cerpen pemula yang sedang menunggu karyanya dibacakan di rubrik Cerpen Minggu Pagi RRI Mataram. Dengan perasaan sumringah, saya merapat ke pengeras suara yang tergantung di sudut gedung madrasah, tak jauh dari kediaman saya. Saya bersiap untuk mendengarkan kembali “buah pikiran” saya yang akan digemakan oleh suara beliau yang penuh karisma ke seluruh penjuru pesantren.
_Subhanallah,_ apa yang terjadi kemudian benar-benar melampaui batas ekspektasi kognitif saya. Beliau menguraikan sejarah Zoroaster dengan dialektika yang begitu luas dan mendalam, melompati batas-batas tiga lembar folio yang saya tulis. Beliau membedah konteks sosiopolitik Persia kuno hingga relevansi spiritualnya dengan zaman modern, sebuah pengajian ilmiah-spiritual yang membuat data-data mentah yang saya kumpulkan tampak seperti butiran debu di tengah padang pasir yang luas.
Di sanalah saya menyadari sebuah metode pedagogi yang luar biasa cerdas dan menyentuh sisi kemanusiaan. Beliau sesungguhnya tidak sedang membutuhkan informasi dari saya, melainkan sedang membangun jembatan kepercayaan diri bagi seorang murid untuk terus belajar menulis dan meneliti. Beliau adalah pendidik sejati yang tidak hanya mentransfer kognisi, tetapi merangsang pertumbuhan mental dengan cara memberikan ruang bagi muridnya untuk merasa berdaya melalui sebuah penugasan.