AgamaEditorialFeaturesHeadlineTokoh

Kongres XIII JATMAN dan Rungkad-Nya Benteng Ba Alawi di Nahdlatul Ulama

Peristiwa ini menandai berakhirnya era Habib Luthfi Bin Yahya sebagai pemimpin sentral JATMAN sekaligus simbol kekuatan Ba Alawi di NU.

Kongres XIII Jam’iyyah Ahlu Thariqah Al-Mu’tabarah An Nahdliyah (JATMAN) yang akan diselenggarakan pada 21-22 Desember 2024 menjadi momentum penting dalam sejarah hubungan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan kelompok Ba Alawi di Indonesia. Peristiwa ini menandai berakhirnya era Habib Luthfi Bin Yahya sebagai pemimpin sentral JATMAN sekaligus simbol kekuatan Ba Alawi di NU.

Habib Luthfi adalah tokoh yang tak bisa dilepaskan dari perjalanan JATMAN dan pengaruhnya di NU. Sejak terpilih sebagai Rais Aam JATMAN pada Kongres IX di Pekalongan tahun 2000, ia menjadikan tarekat sebagai pilar penting dalam tradisi keagamaan NU. Bahkan, selama dua dekade lebih, Habib Luthfi berhasil mengukuhkan posisinya sebagai figur sentral dalam tradisi thariqah di Indonesia dan dunia internasional.

Sebagai Pemimpin Forum Sufi Dunia, ia memimpin lebih dari 20 kelompok tarekat, memperkuat legitimasi spiritualnya. Habib Luthfi juga berada di lingkaran kekuasaan, baik di era Presiden Jokowi maupun Prabowo. Keberadaannya di Dewan Pertimbangan Presiden dan tim kampanye Pilpres menunjukkan betapa besar pengaruhnya. Namun, semua pencapaian itu kini menghadapi tantangan serius.

Akhir Era Habib Luthfi di JATMAN

Keputusan Habib Luthfi untuk menjadikan JATMAN sebagai badan hukum pada 2019 dengan nama Perkumpulan Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An Nahdliyah (PATMAN) menjadi awal dari krisis ini. Langkah tersebut dianggap sebagai bentuk “privatisasi” JATMAN yang bertentangan dengan statusnya sebagai badan otonom NU. PBNU dengan tegas tidak mengakui PATMAN sebagai bagian dari NU, sehingga membekukan kepemimpinan JATMAN di bawah Habib Luthfi.

Kongres XIII JATMAN, yang diselenggarakan tanpa melibatkan Habib Luthfi, menjadi penanda jelas bahwa PBNU ingin mengembalikan JATMAN ke jalur yang sesuai dengan aturan organisasi. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa posisi Habib Luthfi sebagai simbol Ba Alawi di NU kini berada di ujung tanduk.

Rungkad-Nya Benteng Ba Alawi

Ba Alawi, yang selama ini dikenal sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, menghadapi berbagai tantangan, termasuk isu keabsahan nasab dan sentimen anti-Ba Alawi yang berkembang. Dalam konteks NU, Habib Luthfi adalah benteng utama yang selama ini menjaga eksistensi Ba Alawi. Namun, dengan berakhirnya dominasi Habib Luthfi di JATMAN, benteng itu kini benar-benar runtuh.

Tanpa JATMAN, Habib Luthfi akan kehilangan pijakan strategis di NU. Pengaruhnya sebagai tokoh sufi dunia, bahkan legitimasi spiritualnya sebagai seorang waliyullah di mata para pengikutnya, juga berpotensi meredup.

Refleksi dan Tantangan ke Depan

Kejatuhan Habib Luthfi dalam kepemimpinan JATMAN menjadi pelajaran penting tentang hubungan kekuasaan dan organisasi. NU, sebagai organisasi besar, telah menunjukkan bahwa ia tidak tergantung pada satu tokoh atau kelompok tertentu. Namun, pertanyaan besar yang tersisa adalah bagaimana Ba Alawi, sebagai kelompok minoritas yang memiliki sejarah panjang di Indonesia, akan merespons perubahan ini.

Kongres XIII JATMAN bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi juga titik balik dalam sejarah tradisi tarekat di Indonesia. Di satu sisi, NU memperkuat posisinya sebagai organisasi yang solid. Di sisi lain, era Habib Luthfi sebagai tokoh sentral Ba Alawi dan JATMAN tampaknya telah berakhir.

NU harus memastikan bahwa keputusan ini tidak akan membuat friksi berikutnya terutama bagi sejumlah tokoh NU yang kebetulan sampai hari ini masih loyal kepada Habib Lutfi bin Yahya.[]

Adsvertise
Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button