AgamaFeaturesHeadlineTak Berkategori

KA’BAH DAN SURAT DARI MASA SILAM

Narasi ini merupakan satu dari sekian banyak fragmen sejarah yang mempertegas kedudukan spiritual Ka’bah. Peristiwa ini memberikan refleksi mendalam mengenai bagaimana arogansi manusia dapat bertransformasi menjadi sebuah komitmen keimanan yang kokoh dan melampaui dimensi waktu

L. Faqih Saiful Hadie

Ka’bah juga dikenal sebagai al-bait al-‘atiq, yang secara etimologis merepresentasikan makna “rumah tua”. Bangunan monumental ini berlokasi di Makkah, sebuah kota dengan rekam jejak historis yang sangat panjang. Secara linguistik, para pakar bahasa Arab menyebutkan bahwa kata “Makkah” merupakan bentuk mashdar (nomina) dari verba “makka” yang berarti “menghisap”. Sementara itu, area sentral tempat Ka’bah berdiri disebut sebagai “Bakkah”, yang berasal dari verba “bakka” yang berarti “menumbuk”.

​Secara sosiolinguistik, para ahli bersepakat bahwa terminologi ini kemungkinan besar berkorelasi dengan peristiwa-peristiwa historis di mana otoritas Tuhan telah merendahkan pihak-pihak yang mencoba menodai kesuciannya. Salah satu contoh ikonik adalah Abrahah, Gubernur Yaman di bawah otoritas Kerajaan Habsyi (Aksum)—negara bagian di bawah pengaruh imperium Romawi—yang mengalami kehancuran total saat mencoba meruntuhkan Ka’bah.

​Jauh sebelum agresi Abrahah, catatan sejarah menyinggung sosok Tubba’ul Akbar Al-Yamani, penguasa besar dari Dinasti Himyar di Yaman. Sang raja hidup lebih dari satu milenium sebelum masa kenabian Muhammad saw. Secara psikologis, Tubba’ pada awalnya dikisahkan memiliki karakter tiran dan arogan. Ia merasa otoritas politiknya tersaingi oleh pengaruh spiritual Ka’bah yang lintas batas.

​Ketidakmampuan logika materialistiknya dalam memahami konsep ta’abbudi (peribadatan yang bersifat dogmatis) membuatnya mempertanyakan daya tarik bangunan tua tersebut. Motivasi destruktif pun muncul, ia berniat menghancurkan Ka’bah. Namun, sebelum rencana tersebut terealisasi, ia mengalami fenomena psikosomatis atau penyakit fisik yang parah, yang memaksanya mengakui keterbatasan manusia di hadapan kekuatan transendental. Namun berbeda dengan nasib tragis Abrahah, Tubba’ yang dikenal intelek ini memilih jalan pertobatan setelah mendapat bimbingan dari Balbanah, seorang cendekiawan dari Yatsrib.

​Pasca-pemulihannya, Tubba’ mengikuti Balbanah ke Yatsrib (sekarang Madinah). Di sana, ia mengkaji literatur lisan kaum Yahudi setempat mengenai ekspektasi kedatangan Nabi akhir zaman. Informasi ini memicu ketertarikan sosiopolitik yang besar bagi sang raja, hingga ia menginstruksikan para pembesarnya untuk menetap di Yatsrib guna menyambut nabi tersebut, meskipun secara kronologis waktu kehadirannya masih sangat jauh.

​Sebuah kejutan sejarah yang luar biasa tercatat dalam peristiwa ini. Tubba’ menuliskan sebuah surat formal yang ditujukan kepada Rasulullah saw, sosok yang secara biologis baru akan lahir sepuluh abad kemudian. Berikut adalah teks surat tersebut:
​اما بعد فانى امنت بك وبكتابك الذى ينزل عليك وانا على دينك وسنتك وامنت بربك و بكل ما جاء من ربك من شرائع الايمان والاسلام فان ادركتك فبها نعمت والا فا شفع لى ولا تنسنى يوم القيامة فانى من امتك الاولين. وقد بايعتك قبل مجيئك وانا على ملتك وملة ابراهيم ابيك عليه السلام.
​”Maka sesungguhnya saya percaya kepadamu, dan kepada kitab yang diturunkan kepadamu. Saya mengikuti agamamu dan sunnahmu. Saya percaya kepada Tuhanmu dan kepada apa saja yang datang dari Tuhanmu, mengenai syariat iman dan Islam. Kalau saya dapat bertemu denganmu, maka dengan pertemuan itu cukuplah dan akan membahagiakan saya. Tetapi kalau saya tidak dapat bertemu dengan engkau maka syafaati saya dan jangan lupakan saya nanti dihari kiamat, karena aku adalah salah seorang dari ummatmu yang terdahulu. Sungguh saya telah membaiatmu sebelum kehadiranmu. Saya mengikuti agamamu dan agama bapakmu Nabi Ibrahim Alaihissalam.”

​Surat tersebut dikirimkan dengan alamat yang sangat spesifik:
​الى محمد بن عبد الله بن عبد المطلب نبى الله ورسول رب العالمين . صلى الله عليه وسلم من تبع الاول حمير بن وردع
​”Kepada Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththolib Nabi Allah dan Rasul dari Tuhan Semesta Alam shallallahu alaihi wasallam. Dari Tubba’ al Awwal, Himyar bin Warda’.”

​Dokumen historis ini diwariskan secara turun-temurun melalui garis keturunan Balbanah. Berabad-abad kemudian, surat tersebut berada di tangan Abu Ayyub Al-Anshari, tokoh terkemuka dari kabilah Bani Najjar. Saat Muhammad saw diangkat menjadi Rasul, surat tersebut dikirimkan melalui seorang utusan bernama Abu Layla.

Secara fenomenal, Rasulullah telah mengetahui keberadaan surat tersebut melalui informasi wahyu (Jibril). Saat menerima surat dari masa silam tersebut, beliau bersabda: “Marhaban Yal-akhissholih” (Selamat datang, wahai saudaraku yang saleh). Secara kronometrik, beberapa perhitungan sejarah menunjukkan selang waktu antara wafatnya Raja Tubba’ hingga kelahiran Nabi Muhammad saw tepat berjumlah 1.000 tahun.

Narasi ini merupakan satu dari sekian banyak fragmen sejarah yang mempertegas kedudukan spiritual Ka’bah. Peristiwa ini memberikan refleksi mendalam mengenai bagaimana arogansi manusia dapat bertransformasi menjadi sebuah komitmen keimanan yang kokoh dan melampaui dimensi waktu.

Bahan bacaan :
Ibnu Katsir; Al-Bidayah wa al-Nihayah.
Az-Zarqani; Syarh al-Mawahib al-Ladunniyah.
Ibnu Hisyam; As-Sirah an-Nabawiyyah.
Al-Qurthubi; Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Tafsir al-Qurthubi).
Safiur-Rahman Al-Mubarakpuri; Ar-Raheeq Al-Makhtum (The Sealed Nectar).
H. Lalu Ibrohim M. Thoyyib; Ka’bah.

Adsvertise
Selengkapnya
Back to top button