
Cerita Warga Gili Meno Terpaksa Beli Air Bersih Untuk Minum.
Lombok Utara – Hampir tiga tahun lebih, warga Gili Meno, Kabupaten Lombok Utara, (KLU) tidak pernah bisa mengakses dan menikmati kebutuhan air bersih dari pemerintah daerah KLU.
Untuk memenuhi dan menikmati air bersih, khususnya untuk kebutuhan minum dan memasak, warga terpaksa harus merogoh kantong, guna membeli air galon di pengepul yang berjualan di pusat pemerintahan Pemkab KLU.
“Untuk kebutuhan minum dan memasak, harus membeli, dimana satu galon harganya Rp. 10.000” kata Kepala Dusun Gili Meno, kepada Qolama, Kamis 21 Mei 2026.
Ia mengatakan, hal ini secara langsung menambah beban pengeluaran dari masyarakat, di tengah kondisi ekonomi sekarang yang serba sulit, tapi mau bagaimana, kondisinya memang seperti ini.
Untuk kebutuhan air mandi dan kakus sendiri, warga menggunakan air bor, tapi tetap saja rasanya asin seperti air laut dan tidak bisa digunakan untuk minum dan memasak.
Masrun pun berharap, pemasangan pipa bawah laut untuk saluran air bersih, dari Pemda KLU segera direalisasikan, agar warga Gili Meno bisa menikmati air bersih dan tidak lagi membeli.
“Minta tolonglah Pemda KLU agar memenuhi kebutuhan air bersih warga, karena bagaimanapun kami juga bagian dari masyarakat KLU yang membutuhkan perhatian”
Jaenur, warga Gili Meno lain mengaku kesal dengan Pemda KLU yang terkesan menganaktirikan warga masyarakat Gili Meno dibandingkan Gili Terawangan maupun Gili Air yang telah lama bisa menikmati air bersih.
“Tiga tahun lebih, masyarakat hidup tanpa air bersih, pada air bersih merupakan kebutuhan paling vital dan mendasar dari warga. Kami merasa didiskriminasikan” Sesal Jaenur.
Jaunur menambahkan, padahal seperti dua Gili lain, Gili Meno juga merupakan salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) cukup besar bagi Pemkab KLU.
Perhatikan saja sebelah barat, selatan dan Utara Gili Meno, banyak wisatawan mancanegara datang untuk wisata snorkeling, karena keindahan bawah lautnya.
“Pemda KLU jangan hanya mau menikmati hasilnya saja, tapi kesejahteraan masyarakat, terutama kebutuhan air bersih, sebagai hak dasar warga, tolong juga diperhatikan” terangnya.
Terpisah, pengakuan sama juga datang dari pelaku usaha wisata Gili Meno asal Australia, Madal Selvy, bahwa akibat tidak adanya saluran air bersih, banyak tamu tidak mau datang liburan ke Gili Meno.
Kalaupun ada yang datang liburan, jarang mau menginap, karena tidak adanya saluran air bersih untuk kebutuhan MCK.
“Susah dengan kondisi sekarang, tamu tidak banyak mau datang liburan, apalagi mau menginap, karena tidak ada tersedia banyak air bersih” cerita Selvy.
Sebagai solusi jangka pendek menyiasati kebutuhan air bersih, Selvy mengandalkan air hujan, termasuk membeli air bersih dari para penyuplai, dimana dalam sehari ia bisa menghabiskan sampai 10 ribu kubik.
“Saya berharap pemasangan pipanisasi yang disuarakan warga bisa direalisasikan Pemda KLU” harapnya.