FeaturesHeadline

400 PWNU dan PCNU Ikut Mustasyar dan Kiai Sepuh: Sikap Tegas Jelang Pleno Ro’is Aam Miftachul Akhyar

400 PWNU dan PCNU ikut arahan mustasyar dan kiai sepuh yang diselenggarakan di Tebuireng. Sikap tegas penguru NU Wilayah dan Cabang ini diputuskan jelang Pleno yang akan diadakan Ro’is Aam 9 Desember 2025 hari ini.

400 PWNU dan PCNU ikut mustasyar dan kiai sepuh. Sikap itu muncul serentak dalam forum daring yang dipimpin Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), sehari setelah para sesepuh NU berkumpul di Tebuireng. Dukungan yang massif ini memberi sinyal kuat bahwa arah gerak organisasi kini bertumpu pada keputusan para tetua.

Para pimpinan wilayah dan cabang tak lagi berbicara ragu. Mereka menyebut keputusan para mustasyar sebagai rujukan moral tertinggi. Pertemuan di Tebuireng—yang dihadiri Prof KH Ma’ruf Amin, KH Said Aqil Siradj, KH Anwar Manshur, hingga KH Umar Wahid—menjadi penanda bahwa para kiai sepuh memandang situasi NU cukup genting untuk turun tangan langsung.

Dalam forum itu, Gus Yahya memaparkan duduk persoalan kepada para sesepuh. Ia menceritakan bagaimana para kiai berusia lanjut tetap hadir meski fisik tak lagi kuat. “Para sesepuh datang bukan untuk melerai konflik kecil, tetapi untuk menyelamatkan rumah besar ini,” kata Yahya. Ia memastikan seluruh tuduhan yang beredar telah dijawab dengan data dan dokumen lengkap.

Dari Bengkulu, Rais Syuriyah PWNU KH Hasbullah Ahmad menepis narasi yang menyudutkan ketua umum. “Itu keliru. Ketua Umum justru sedang menegakkan aturan,” ujarnya. Di Bangka Belitung, Ketua PWNU Masmuni Mahatma mengingatkan bahwa AD/ART adalah jangkar utama organisasi. “Jabatan bisa berganti. Aturan tidak,” katanya singkat.

Suara serupa datang dari Sulawesi Selatan. Ketua PWNU Prof KH Hamzah Harun Al-Rasyid menyatakan bahwa dasar pemakzulan ketua umum tidak kuat. “Mandataris hanya dapat diberhentikan oleh forum yang mengangkatnya. Titik,” ujarnya. Ia menilai pesan para kiai sepuh soal islah dan penertiban informasi adalah jalur paling rasional.

Di Malang, Ketua PCNU KH Isroqunnajah mengecam serangan di media sosial yang menyeret nama para kiai. “Persoalan ini harus kembali pada tatanan. Tebuireng memberikan rambu yang jelas,” katanya.

Arah sikap para pengurus kini tersambung: mereka memilih mengikuti langkah yang digariskan para sesepuh sembari menunggu proses organisasi berjalan. Hingga situasi menemukan bentuknya, 400 PWNU dan PCNU ikut mustasyar dan kiai sepuh menjadi sikap bersama yang menegaskan di mana NU berdiri hari ini.

Adsvertise
Selengkapnya
Back to top button