
Rumah Kaca NU: Memaknai Kegaduhan sebagai Tanda Sistem Sedang Bekerja
Ia adalah “Rumah Kaca” itu sendiri. Segala dinamika, perbedaan pendapat, bahkan gesekan antarpengurus di ruang tamu maupun dapur, bisa dilihat oleh siapa saja dari luar.
Hari-hari ini, jagat publik disuguhi drama terbuka dari dapur Nahdlatul Ulama (NU). Mulai dari beredarnya surat pemberhentian Ketua Umum silang sengkarut keabsahan dokumen, hingga manuver saling klaim, semua terpampang telanjang di mata publik.
Banyak pihak yang menyayangkan situasi ini. Ada yang menyebutnya sebagai aib yang diumbar, ada pula yang serta-merta membandingkannya dengan organisasi tetangga yang terlihat lebih rapi dan senyap. Kesimpulan prematur pun bermunculan: NU sedang kacau, manajemennya amburadul, marwahnya merosot.
Namun, benarkah demikian? Jika kita bersedia menepi sejenak dari kebisingan dan membaca situasi dengan optik yang lebih jernih, apa yang terjadi sesungguhnya bisa dimaknai secara berbeda, bahkan sebaliknya: Kegaduhan ini bukan tanda kematian, melainkan tanda kehidupan.
Logika Rumah Kaca
Mari kita jujur melihat realitas sebuah organisasi. Sistem yang sepi, tenang, dan tanpa riak seringkali bukan tanda kerapian, melainkan tanda kematian dialektika di dalamnya.
Lihatlah Korea Utara. Negara itu sangat tenang, tidak ada debat publik, tidak ada surat bocor, tidak ada kegaduhan di media. Tapi kita tahu, ketenangan itu adalah hasil dari hegemoni tunggal yang mematikan. Sebaliknya, lihatlah demokrasi di negara-negara maju seperti Inggris atau Amerika Serikat. Parlemennya selalu gaduh, debatnya keras, dan perbedaannya tajam. Bising? Tentu saja. Tapi kebisingan itulah tanda bahwa sistem demokrasi mereka sedang bekerja dan hidup.
NU memilih jalan yang mirip dengan demokrasi yang hidup itu. NU bukanlah organisasi tanpa dinding, melainkan sebuah bangunan kokoh yang dinding-dindingnya terbuat dari kaca. Ia adalah “Rumah Kaca” itu sendiri. Segala dinamika, perbedaan pendapat, bahkan gesekan antarpengurus di ruang tamu maupun dapur, bisa dilihat oleh siapa saja dari luar.
Ini bukan kelemahan, ini adalah kekuatan transparansi yang radikal. Keterbukaan ini mendidik publik bahwa di NU, tidak ada masalah yang disapu ke bawah karpet. Semuanya dikelola, diperdebatkan, dan diselesaikan.
Membandingkan NU dengan organisasi modern lain pun seringkali tidak setara (apple-to-apple). Organisasi lain mungkin dikelola dengan logika korporasi layaknya sebuah Kapal Pesiar—penumpangnya terdata, tujuannya tunggal, dan krunya sedikit. Mudah ditertibkan.
Sementara NU ibarat sebuah Benua. Isinya jutaan manusia dengan ribuan varian budaya, tarekat, aspirasi politik, hingga para Kiai lokal yang memiliki otoritas otonom. Menata Benua yang begitu luas dan padat pasti jauh lebih riuh daripada menata Kapal Pesiar.
Uji Ketangguhan Antivirus
Lebih jauh lagi, kegaduhan hari ini sejatinya adalah sebuah ujian pembuktian (stress test) bagi sistem administrasi digital yang dibangun di era KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), yang dikenal sebagai Digdaya.
Mari kita bayangkan sistem organisasi NU ini seperti perangkat sistem operasi komputer raksasa. Serangan surat pemberhentian yang tidak sesuai prosedur, manuver di luar aturan, dan klaim sepihak yang terjadi kemarin, tak ubahnya adalah serangan virus atau trojan yang mencoba merusak sistem.
Apa hasilnya? Ternyata sistem pertahanan (antivirus) NU bekerja dengan presisi. Surat pemberhentian yang tidak memenuhi syarat konstitusi organisasi tertolak oleh sistem. Barcode-nya tidak terbaca, nomornya tidak terdaftar dalam pangkalan data.
Artinya, keributan yang kita dengar hari ini sesungguhnya adalah bunyi alarm keamanan yang sedang menyala karena mendeteksi bahaya ilegalitas. Sistem itu sehat dan peka. Justru bahaya jika ada serangan inkonstitusional tapi alarmnya diam saja.
Anomali di Ruang Mesin
Namun, di balik kecanggihan sistem tersebut, ada satu anomali yang tak bisa lagi ditutupi. Sistem secanggih apa pun membutuhkan operator (admin) yang berdedikasi. Dalam struktur PBNU, penanggung jawab urusan dapur, surat-menyurat, dan administrasi adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen).
Ironisnya, ketika urusan surat-menyurat sedang diserang virus dan mengalami turbulensi, sang operator utama justru tidak terlihat di posnya. Publik malah melihat Ketua Umum harus turun tangan sendiri membereskan urusan validasi surat, dibantu oleh jajaran Wakil Sekretaris Jenderal yang sigap mengisi kekosongan.
Kejanggalan ini membuka mata kita. Jika hari ini ada yang berteriak lantang bahwa “tata kelola NU sedang buruk”, maka telunjuk itu seharusnya tidak diarahkan kepada Arsitek Sistem (Ketua Umum), melainkan kepada fungsi operator yang terindikasi macet dalam menjalankan pelayanan administrasinya.
Fakta bahwa sistem tetap bisa berjalan, surat penyelamatan organisasi tetap bisa terbit, dan roda jam’iyah tetap berputar meski operator utamanya absen, justru membuktikan ketangguhan desain organisasi yang dibangun Gus Yahya. Sistem ini didesain untuk tahan banting (resilient), bahkan terhadap kendala yang muncul dari ruang mesinnya sendiri.
Sedang “Update” Sistem
Apa yang dialami warga NU hari ini, rasanya mirip dengan momen saat gawai (HP) kita sedang melakukan pembaruan perangkat lunak (installing system update).
Saat proses update berjalan, gawai biasanya menjadi panas, kinerjanya tersendat, dan baterainya boros. Tidak nyaman memang. Tapi kita tahu, itu proses sementara yang mutlak harus dilalui agar gawai kita bisa menjalankan aplikasi-aplikasi masa depan yang lebih canggih.
NU sedang melakukan update besar-besaran: dari cara kerja lama yang serba manual, informal, dan bergantung pada mood orang per orang, menuju cara kerja baru yang berbasis sistem digital, aturan organisasi yang ketat, dan impersonal. Proses migrasi ini pasti menimbulkan gesekan (panas) dan kegaduhan. Tapi ini adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah kemajuan.
Jangan buru-buru membuang gawai yang sedang panas itu. Tunggu sebentar lagi. Saat prosesnya selesai, kita akan melihat NU yang berjalan dengan sistem operasi baru: lebih cepat, lebih transparan, dan lebih kokoh dalam menjaga marwah para Kiai dari permainan administratif yang tidak bertanggung jawab.
Oleh: Sofian Junaidi Anom, Penulis adalah Pengurus LTN PBNU dan Penggerak Komunitas Terong Gosong.
Sumber : https://peradaban.id/rumah-kaca-nu-memaknai-kegaduhan-sebagai-tanda-sistem-sedang-bekerja/