FeaturesHeadline

ANDAI PUTRA TRUMP MENIKAHI PUTRI KIM JONG UN

Bersatunya dua dinasti yang sangat bertolak belakang ini adalah komedi satir terbaik tentang dunia modern. Kita akan melihat bagaimana kapitalisme yang berisik mencoba berdansa dengan otoriterianisme komunis yang sunyi di bawah lampu disko.

L. Faqih Saiful Hadie

Jika hal itu terjadi, upacara pernikahan mereka pastilah melampaui sekadar ritual janji suci, ia juga akan menjadi “perjanjian damai” paling absurd dalam sejarah manusia. Jika putra Donald Trump—sebut saja Barron—benar-benar berjodoh dengan Kim Ju Ae, putri Kim Jong Un, maka kita tak kan tertarik lagi bicara soal katering prasmanan, atau berapa budget yang diperlukan buat bayar EO, melainkan bagaimana sebuah negosiasi geopolitik berlangsung dalam konteks “mushaharoh”. Ini adalah kolaborasi crossover paling ambisius, mengalahkan gabungan Marvel dan DC, di mana jas mahal dari Fifth Avenue bertemu dengan seragam militer kaku khas Pyongyang.

Saya membayangkan ​persiapan pranikahnya saja pasti bikin pening kepala. Lupakan soal debat memilih warna undangan. Di sini perdebatannya adalah apakah suvenirnya berupa gantungan kunci gedung pencakar langit atau miniatur rudal jarak menengah. Donald Trump mungkin akan bersikeras bahwa gedung resepsinya harus bertuliskan namanya dalam huruf emas raksasa yang bisa dilihat dari bulan, sementara pihak Kim Jong Un bakal menuntut barisan tentara melakukan marching band dengan sinkronisasi barisan yang bikin robot pun merasa minder.

Lalu, ​saat momen “ijab qobul” suasana di pelaminan bakal sangat tegang namun lucu macam drama tragedi komedi. Bayangkan Trump berbisik ke besannya : “Ini pernikahan paling besar, paling mewah, belum pernah ada yang seperti ini, huge!” Sementara Kim Jong Un hanya mengangguk pelan sambil memegang remote—untungnya itu cuma remote AC, bukan remote rudal nuklir. Para tamu undangan pun bingung, mau update Status di medsos tapi takut dituduh spionase sama Trump, atau mau tepuk tangan tapi takut durasinya kurang lama, nanti Kim Jong Un bisa menganggap tidak setia kepada negara.

​Masalah katering juga sangat mungkin akan menjadi medan perang selera yang epik. Di meja sebelah kiri ada tumpukan cheeseburger dan steak yang dimasak sampai sangat matang (well-done), lengkap dengan saus tomat botolan. Di meja sebelah kanan, ada kimchi fermentasi 10 tahun dan hidangan dingin yang sangat otentik. Para diplomat yang hadir mungkin akan menciptakan tren baru, memakan burger Amerika menggunakan sumpit perak ala Korut demi menghormati kedua belah pihak. Sebuah pemandangan yang pasti akan memicu perang komentar di media sosial.

​Jangan pula lupakan urusan kado pernikahan. Jika pengantin konvensional biasa nerima mesin cuci atau voucher liburan ke Lombok, pasangan ini mungkin akan menerima hadiah berupa “Zona Ekonomi Khusus”. Alih-alih bulan madu ke Pulau Lombok, mereka mungkin akan memilih jalan-jalan romantis di dalam bunker bawah tanah yang tahan ledakan nuklir, karena ya, keamanan adalah bahasa cinta utama bagi keluarga baru ini.

​Bagaimana dengan kehidupan setelah menikah? Pasti ada drama rumah tangga yang levelnya internasional. Kalau mereka bertengkar soal siapa yang malas membuang sampah misalnya, saya yakin mereka akan saling mengirim nota protes diplomatik atau melakukan uji coba peluncuran kembang api di halaman belakang sebagai bentuk gertakan. Alih-alih saling mendiamkan. Dalam kasus lain si istri mungkin akan berkata dengan otoriter namun elegan : “Sayang, kalau kamu telat pulang, aku akan menjatuhkan sanksi ekonomi pada uang jajanmu bulan depan!”

Pada akhirnya, bsrsatunya dua dinasti yang sangat bertolak belakang ini adalah komedi satir terbaik tentang dunia modern. Kita akan melihat bagaimana kapitalisme yang berisik mencoba berdansa dengan otoriterianisme komunis yang sunyi di bawah lampu disko. Meski terdengar mustahil dan mirip plot film komedi, setidaknya pernikahan ini menjamin satu hal : dunia mungkin tetap kacau, tapi setidaknya foto-foto di album pernikahan mereka akan menjadi bahan meme perdamaian yang tidak akan habis hingga hari kiamat.

Kopang, 5 Maret.

Adsvertise
Selengkapnya
Back to top button