AgamaHeadlineIqro'

Asal Usul Tahun Hijriyah

Pernah ada yang mengusulkan agar menggunakan penanggalan kalender Islam mengacu ke Kalender bangsa Romawi, namun, usulan ditolak karena dianggap terlalu tua, dihitung sejak Zaman Dzul Qarnain , zaman sebelum Masehi.

BASUNI BAIHAQI*

Manusia telah lama mengenal hari dan bulan dalam satu tahun. Bagi bangsa Arab sendiri, dalam satu tahun mereka menghitung sesuai dengan perputaran bulan. Mereka menggunakannya sejak zaman Nabi Ibrohim. Sebagaimana firman Allah SWT.

هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نورا وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب…

“Dialah (Allah) yang menjadikan matahari bersinar, dan bulan bercahaya. Dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan (tahun) dan perhitungan (waktu)… ” QS Yunus:5

Sedangkan bangsa Persia dan Romawi, menghitung satu tahun dengan perputaran matahari. Itulah sebabnya, mengapa terdapat istilah Qomariyyah (mengikuti bulan) dan Syamsiyyah (mengikuti matahari).

Dari jumlah hari pun kedua hitungan tahun ini berselisih 11 hari. Sebab pada tahun Syamsiyyah terdapat 30/31 hari pada setiap bulannya (kecuali Februari, 28 hari. Dan 29 hari di tahun kabisat), sehinnga pada setiap tahunnya berjumlah 365 hari (366 hari untuk kabisat) . Sedangkan tahun Qomariyyah terdapat 29/30 hari pada setiap bulannya, sehinnga pada setiap tahunnya berjumlah 354 hari.

Umat muslim sendiri mengikuti tahun Hijriyyah, yang mana adalah nama lain dari tahun Qomariyyah. Dan menetapkan dua belas bulan pada setiap tahunnya sebagaimana firman Alloh

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا…

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan… ” QS At Taubah:36

Adapun nama Hijriyyah diambil dari hijrahnya Rosululloh ﷺ dari Makkah menuju madinah. Sebab dengan hijrah ini, dipisahkannya antara yang benar dan yang batil.

Pada saat kekhalifahan Umar bin Khottob, dan kepengurusan negara telah tertata rapi, Sayyidina Umar pernah menerima sebuah dokumen yang bertuliskan Sya‘ban. Sayyidina Umar berkata, “Yang dimaksud di sini, Sya‘ban yang mana? Yang lalu, akan datang, atau sekarang?” Kemudian Sayyidina Umar mengumpulkan para sahabat dan berkata kepada mereka, “Tetapkan tahun untuk masyarakat, yang bisa mereka jadikan sebagai acuan.”

Ada yang mengusulkan, agar menggunakan acuan penanggalan kalender bangsa Romawi. Namun, usulan ini dibantah karena penanggalan kalender Romawi sudah terlalu tua. Perhitungannya sudah dibuat sejak zaman Dzu Al Qarnain (zaman sebelum Masehi). Ada yang mengusulkan lagi agar menggunakan acuan penanggalan kalender bangsa Persia. Usulan ini juga dibantah karena setiap kali rajanya naik tahta, raja tersebut akan meninggalkan sejarah sebelumnya. Akhirnya mereka sepakat dengan melihat berapa lama Rasulullah ﷺ hidup bersama mereka (di Madinah).

Mereka mendapati bahwa beliau telah berada di Kota Madinah selama 10 tahun. Maka dicatatlah penanggalan kalender islam berdasarkan awal hijrah Rasulullah ﷺ, yang berarti bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun ke-16 setelah hijrah.

Imam Ibnu Al Jauzi mengatakan dalam kitabnya, bahwa perhitungan awal tahun Qomariyyah telah lama berubah. Dulu pernah dimulai perhitungannya sejak peristiwa dibakarnya Nabi Ibrohim, dan terlupakan. Setelahnya dimulai lagi perhitungannya sejak selamatnya Nabi Musa, dan terlupakan. Setelahnya dimulai lagi perhitungannya sejak diangkatnya Nabi Isa, dan terlupakan.

Sumber :

– Al Qur’an Al Karim
– Tafsir Ibnu Katsir
– Tafsir Imam Ar Rozi
– Al Munadzdzom lil Imam Ibnu Jauzi

* Mahasiswa Imam Shafie College (ISC) Yaman

RUBRIK IQRO’ | Anda dapat ikut mengisi rubrik ini dengan mengirimkan Tulisan berupa Gagasan, Opini dengan tema apapun. Redaksi akan memuatnya sepanjang tidak bertentangan dengan Nurani dan Akal Sehat. Kirim Tulisan anda beserta foto ke Email : Qolamacreative@gmail.com

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Cek juga
Close
Back to top button