AgamaHeadlineIqro'

ZOROASTER NABI ? SAYA PUN CURIGA DEMIKIAN (Bagian Pertama)

Setelah Alexander The Great wafat (323 SM), gerakan anti Macedonia kembali marak di Athena. Karena kawatir akan penganiayaan, Aristoteles kemudian meluputkan diri dari Athena dan sejak saat itu nasib naskah Avesta yang otentik itupun tidak terlacak hingga saat ini.

L. Faqih Saiful Hadie
(Tulisan ini orisinil, tanpa support AI)

Saya tidak dapat menyimpulkan dengan pasti apakah agama Majusi yang berkembang di Persia itu benar-benar berakar dari agama yang dibawa oleh Zoroaster atau Zarathustra sebagaimana kesan yang mengemuka dalam berbagai diskusi saya dengan para pemerhati sejarah dan perbandingan agama. Sumber – sumber sejarah justeru menyebutkan bahwa sejak kelahirannya, Zarathustra digambarkan sebagai tokoh antagonis terhadap eksistensi keyakinan para penyembah api pada masa itu. Artinya, tradisi penyembahan api sebagai identitas kepercayaan orang-orang Majusi memang telah lama ada dan berkembang di Tanah Persia dan sekitarnya semenjak jauh-jauh masa sebelum kelahiran Zarathustra.

Agama Zarathustra sendiri adalah nama yang dinisbatkan kepada tokoh yang membawanya yaitu Zarathustra, seperti halnya sebutan untuk monoteisme yang dibawa oleh Nabi Ibrohim yang disebut millata Ibrohim (agama Ibrohim) di dalam kitab suci umat Islam. Dalam tradisi Islam Arab, agama Zarathustra itu sendiri disebut agama Majusi, sementara literatur Barat menyebutnya Mazdaism.

Sebutan Mazdaisme (Mazdaism) merujuk kepada sistem kepercayaan agama tersebut yang meyakini bahwa diri manusia dalam kehidupanya di dunia senantiasa diliputi konflik dari dua kodrat besar yang saling bertentangan yaitu Ahura Mazda (nama yang juga digunakan untuk menyebut Tuhan Yang Maha Baik dan Bijaksana), yaitu kodrat kebajikan dan kebijaksanaan dengan antagonisnya yaitu Angriman (Angro-Mayu), sebutan untuk kodrat amarah dan angkara murka. Saya menduga kata ungry dalam bahasa Inggris yang berarti marah secara filologis memiliki hubungan erat dengan istilah ini.

Dalam konflik ini manusia dituntut untuk selalu berada di belakang Ahura Mazda yang secara filosofis bermakna manusia wajib untuk selalu melakukan kebajikan demi mengalahkan Angriman yang senantiasa mendorongnya kepada keburukan dan kemaksiatan.

Ajaran Zarathustra juga mewajibkan penganutnya untuk percaya kepada hari kebangkitan, hari penghakiman, dan hari pembalasan di mana Ahura-Mazda (Tuhan) memegang kekuasaan penuh pada hari itu. Penganut ajaran ini mengimani bahwa manusia yang berhasil memenangkan Ahura-Mazda dalam dirinya selama hidup di dunia akan dibalas dengan Paridaiza, sebuah taman indah yang tidak tergambar oleh pikiran manusia. Demikian pula sebaliknya, bagi manusia yang selama di dunia membiarkan Angriman mengusai dan mengendalikan dirinya akan ditenggelamkan ke dalam lelehan logam yang selalu mendidih yang disebut Gehannama. Untuk mencapai Paridaiza, manusia harus melintasi suatu jembatan yang disebut Civanto-Peretu yang terbentang di atas Gehannama. Ukurannya lebih tipis dari seuntai bulu yang dibelah tujuh.

Yang menarik perhatian : Paridaiza, Gehannama, Civanto – Peretu adalah sebutan-sebutan yang baik lafazh maupun ta’rifnya secara terminologis memiliki benang merah yang sangat kentara dengan Firdaus, Jahannam dan Shirothol Mustaqim, dalam tradisi ajaran Islam.

Mazdaisme, sebagaimana Yudaisme dan Nasrani yang paling klasik adalah monoteisme. Ajaran-ajarannya tentang teologi, hukum-hukum syariat dan keimanan kepada hari kiamat mencirikan bahwa agama ini dituntun oleh kitab suci. Kitab Avestak atau Avesta yang di belakang hari diklaim oleh panganut Majusi sebagai kitab suci mereka sesungguhnya adalah kitab suci yang dibawa oleh Zarathustra, seorang penyeru monoteisme yang sangat antagonistik terhadap penyembahan api dan segala bentuk paganisme. Kerumitan sejarah yang panjang telah membawa kitab suci ini terperangkap ke dalam klaim ajaran yang bertentangan dengan ajaran monoteisme yang dibawa oleh penutur utamanya.

Avesta atau Avestak dalam bahasa Persia atau Iran kuno bermakna “bacaan”. Ini juga menarik perhatian saya karena kitab suci kita umat Islam, Al-Qur’an juga bermakna “bacaan”. Hal ini memperkuat premis saya tentang kesatuan sumber dari ajaran – ajaran monoteis ini, yakni sebagai ajaran – ajaran luhur yang bersumber dari “Langit”.

Kitab Avesta sendiri di era Zarathustra yang membawanya (660 – 583 SM.) terdiri dari 21 kitab. Secara garis besar kitab ini mengajarkan sikap moral kepada manusia untuk selalu berjuang memenangkan Kodrat Ahura – Mazda dalam kehidupannya melalui Humata (pikiran yang baik), Hukhata (ucapan yang baik) dan Havarsta (perilaku yang baik).

Salah satu fase dalam sejarah panjang yang dilintasi kitab ini adalah fase penaklukan Imperium Persia oleh Alexander Agung (334 SM) . Fase ini adalah fase kunci yang menentukan nasib ontentitas kitab ini selanjutnya. Pada saat itu naskah Avesta yang utuh dan otentik hanya dua buah saja. Alexander The Great memusnahkan satu naskah dan satunya lagi dikirim ke Athena, konon kepada gurunya, Aristoteles.

Setelah Alexander The Great wafat (323 SM), gerakan anti Macedonia kembali marak di Athena. Karena kawatir akan penganiayaan, Aristoteles kemudian meluputkan diri dari Athena dan sejak saat itu nasib naskah Avesta yang otentik itupun tidak terlacak hingga saat ini.

Empat abad setelah peristiwa itu yakni pada abad pertama masehi (51 – 77 SM), Vologeses I, penguasa Parthia di Iran dari Dinasti Archacids berupaya untuk mengumpulkan kembali naskah-naskah Avesta yang tercerai berai itu menjadi satu naskah yang utuh. Tim ahli pun dibentuk namun hasilnya jauh dari apa yang diharapkan. Ayat – ayat yang ditemukan agak lengkap hanya pada bagian Ghata dari Kitab Yasna, sementara ayat-ayat lain masih tercerai berai dalam fragmen-fragmen yang tidak jelas hubungannya.

Untuk menjembatani fragmen-fragmen tersebut diciptakanlah ayat – ayat baru dan tersusunlah Avesta versi Vologeses I yang terdiri dari 5 buah kitab. Sedangkan sisanya yang 16 kitab tidak diketahui lagi keberadaanya. (Bersambung ke Bagian II).

Adsvertise
Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button