
Gelombang Protes Meluas di AS, Kebijakan Perang Donald Trump terhadap Iran Picu Kemarahan Publik
Kebijakan perang Amerika Serikat terhadap Iran memicu gelombang protes besar di dalam negeri. Jutaan warga turun ke jalan dalam aksi “No Kings”, menandai penolakan luas terhadap eskalasi militer yang dinilai berisiko menyeret AS ke konflik berkepanjangan.
Gelombang demonstrasi anti-perang meluas di berbagai kota di Amerika Serikat menyusul keputusan pemerintahan Presiden Donald Trump yang terlibat dalam konflik militer dengan Iran. Aksi ini menjadi bagian dari gerakan nasional “No Kings” yang berlangsung serentak di seluruh 50 negara bagian.
Menurut laporan CNN dan BBC News, kemarahan publik tidak hanya dipicu oleh situasi ekonomi dan kebijakan domestik, tetapi juga oleh keputusan perang yang dianggap berbahaya dan tidak transparan.
Konflik ini sendiri berawal dari operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, yang menargetkan fasilitas strategis dan memicu eskalasi regional.
Seiring berjalannya waktu, konflik berkembang menjadi krisis geopolitik yang lebih luas. Laporan terbaru menyebutkan bahwa militer AS bahkan telah menyiapkan kemungkinan operasi darat, meskipun belum diumumkan secara resmi oleh Gedung Putih.
Di berbagai kota, para demonstran membawa pesan tegas: menolak perang dan menuntut penghentian intervensi militer. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi mengulang kesalahan masa lalu seperti perang Irak, sekaligus memperburuk stabilitas global.
Sejumlah kelompok masyarakat sipil, serikat pekerja, hingga organisasi politik progresif ikut terlibat dalam mobilisasi ini. Mereka menilai perang terhadap Iran tidak hanya berisiko secara militer, tetapi juga berdampak besar pada ekonomi domestik, termasuk kenaikan harga energi dan beban anggaran negara.
Selain itu, ketidakjelasan tujuan akhir perang juga menjadi sorotan. Bahkan di kalangan pejabat AS sendiri, muncul pertanyaan mengenai strategi jangka panjang dan arah kebijakan militer di kawasan tersebut.
Gelombang protes ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri kini menjadi isu domestik yang krusial di Amerika Serikat. Perang melawan Iran tidak hanya memicu ketegangan global, tetapi juga memperdalam polarisasi politik di dalam negeri, dengan masyarakat semakin vokal menuntut transparansi dan akuntabilitas pemerintah.[]