
Sachs: Trump dan Netanyahu Dua Manusia Psikopat dan Megalomania
Ia menyebut Trump sebagai sosok yang “impulsif, paranoid, psikopat, dan megalomania”—sebuah kombinasi yang dinilai sangat berisiko dalam konteks kepemimpinan global
Ekonom ternama dunia Jeffrey Sachs kembali melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan global. Dalam wawancara bersama Glenn Diesen di kanal YouTube Glenn Diesen (GDiesen1), Sachs secara terbuka menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memiliki karakter psikologis yang berbahaya.
Dalam pernyataannya, Sachs tidak sekadar mengkritik kebijakan, tetapi langsung menyoroti kepribadian kedua pemimpin tersebut. Ia menyebut Trump sebagai sosok yang “impulsif, paranoid, psikopat, dan megalomania”—sebuah kombinasi yang dinilai sangat berisiko dalam konteks kepemimpinan global.
Menurut Sachs, penilaian itu bukan muncul secara tiba-tiba. Ia menegaskan bahwa sejak awal kemunculannya di panggung politik, banyak psikolog forensik dan psikiater telah memberikan penilaian serupa terhadap Trump. “Ini bukan pemimpin yang berpikir rasional berbasis data. Ini adalah sosok yang tidak stabil dan reaktif,” ujarnya.
Lebih jauh, Sachs menilai bahwa karakter yang sama juga dapat ditemukan pada Benjamin Netanyahu. Ia menyebut keduanya sebagai figur dengan kecenderungan agresif, emosional, dan cenderung melihat konflik sebagai ajang pembuktian kekuasaan pribadi.
Dalam wawancara tersebut, Sachs menekankan bahwa faktor kepribadian pemimpin memiliki dampak besar dalam situasi perang. Ia memperingatkan bahwa pemimpin dengan kecenderungan psikologis seperti itu sulit untuk mengambil langkah mundur atau de-eskalasi.
“Bagi mereka, setiap situasi adalah ujian kekuasaan. Mundur berarti kalah, dan itu tidak bisa diterima,” kata Sachs.
Ia juga menyoroti retorika ekstrem yang digunakan kedua pemimpin tersebut. Pernyataan Trump yang mengancam akan menghancurkan Iran hingga “kembali ke zaman batu” serta pidato Netanyahu yang menggunakan narasi keagamaan penuh kekerasan dinilai sebagai cerminan pola pikir yang tidak rasional dan berbahaya.
Menurut Sachs, kondisi ini memperparah situasi global yang sudah tegang. Ia menyebut dunia saat ini tidak hanya menghadapi konflik geopolitik biasa, tetapi juga krisis kepemimpinan.
“Ini bukan hanya soal strategi atau kepentingan negara. Ini tentang siapa yang memegang tombol kekuasaan,” tegasnya.
Sachs mengingatkan bahwa kombinasi antara kekuatan militer besar dan kepemimpinan yang tidak stabil secara psikologis dapat mendorong dunia menuju eskalasi yang tidak terkendali, bahkan membuka kemungkinan konflik yang lebih luas.
Pernyataan ini sekaligus menjadi peringatan keras bahwa dinamika global saat ini tidak bisa dilepaskan dari faktor personal para pemimpinnya—dan ketika faktor itu bermasalah, dampaknya bisa dirasakan oleh seluruh dunia.