
Al-Ishlahuddiny Kediri, Laboratorium Tua Para Ulama di Lombok
Dirintis pada masa pergantian kekuasaan kolonial hingga awal kemerdekaan, Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri bukan sekadar lembaga pendidikan. Dari halaqah-halaqahnya lahir jaringan tuan guru, pendiri pesantren, akademisi, dan pemimpin masyarakat yang tersebar dari Lombok Barat hingga Lombok Timur, bahkan melampaui Pulau Lombok.
Tidak semua lembaga besar lahir dari gedung yang megah. Sebagian tumbuh dari halaqah kecil, tikar pengajian, kitab yang dibaca berulang-ulang, serta hubungan panjang antara guru dan murid. Dari pola itulah Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny di Kediri, Lombok Barat, tumbuh menjadi salah satu laboratorium tua pembentukan ulama di Pulau Lombok.
Pesantren ini dirintis oleh dua ulama bersaudara, TGH Mustafa Al-Khalidi dan TGH Ibrahim Al-Khalidi, putra TGH Khalidi. Sejumlah sumber menuliskan tahun berdirinya secara berbeda. Namun, penelitian tentang otoritas keilmuan TGH Ibrahim Al-Khalidi menjelaskan bahwa aktivitas pengajaran dan perintisan pesantren dimulai setelah kepulangannya dari Makkah pada 1941, sedangkan rentang 1941–1947 merupakan fase pembentukan lembaga di tengah peralihan kekuasaan Belanda, Jepang, hingga Indonesia merdeka.
Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny dirintis sejak 1941 dan mengalami fase pembentukan kelembagaan pada 1941–1947. Pendidikan formalnya kemudian berkembang melalui Sekolah Rakyat Islam pada 1953, berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah pada 1955, disusul Madrasah Mu’allimin, Madrasah Mu’allimat, dan Pendidikan Guru Agama Pertama pada 1956. Kajian genealogi pesantren di Lombok mencatat perkembangan tersebut sebagai salah satu fase penting modernisasi pendidikan Islam di Lombok Barat.
Dari Kediri Menuju Haramain
Tokoh sentral dalam perkembangan Al-Ishlahuddiny adalah TGH Ibrahim Al-Khalidi Al-Anfanani. Ia lahir pada Muharram 1330 Hijriah atau sekitar 1912. Sebelum berangkat ke Makkah, Ibrahim kecil belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab Melayu kepada ayahnya, TGH Khalidi, serta kepada kedua kakaknya, TGH Abdussatar Al-Khalidi dan TGH Mustafa Al-Khalidi.
Pada 1922, ketika berusia sekitar 12 tahun, Ibrahim berangkat ke Makkah bersama TGH Muhammad Arsyad Sumbawa bin TGH Umar Sumbawa. Fakta ini menunjukkan bahwa hubungan intelektual yang membentuk Al-Ishlahuddiny sejak awal tidak hanya berada dalam lingkaran Lombok, tetapi telah tersambung dengan ulama Sumbawa dan komunitas ulama Nusantara diibaratkan.
Perjalanan belajarnya berlangsung panjang dan beberapa kali terputus akibat pergolakan politik di Jazirah Arab. Ia kembali ke Lombok pada 1924, berangkat lagi ke Makkah pada 1927, kembali pada 1934 untuk mengajar agama dan bahasa Arab di Kediri, kemudian berangkat lagi pada 1937. Pada 1941, di tengah Perang Dunia II, ia kembali dan menetap di Lombok. Jika seluruh masa belajarnya dihitung, TGH Ibrahim menghabiskan sekitar 15 tahun di lingkungan keilmuan Haramayn. Penelitian Suhailid tentang sanad TGH Ibrahim Al-Khalidi menjadi sumber akademik utama mengenai perjalanan tersebut.
Di Lombok, TGH Ibrahim juga berguru kepada sejumlah ulama, antara lain TGH Abdul Karim, TGH Abdul Hafiz Kediri, dan TGH Abdul Hamid Kediri. Hubungan ini memperlihatkan bahwa Kediri pada pertengahan abad ke-20 merupakan sebuah ekosistem keilmuan. Santri tidak hanya belajar kepada satu tuan guru, tetapi dapat mengikuti pengajian TGH Abdul Karim—pendiri Pesantren Nurul Hakim—kemudian belajar kepada TGH Ibrahim atau TGH Mustafa di Al-Ishlahuddiny, serta mengaji kepada TGH Lalu Abdul Hafiz—pendiri Pesantren Selaparang.
Hubungan Al-Ishlahuddiny dengan Nurul Hakim dan Selaparang karena itu bukan hubungan cabang secara kelembagaan. Ketiganya tumbuh dalam satu ruang sosial dan jaringan pengajaran yang saling menguatkan. Kediri dapat disebut sebagai salah satu simpul penting yang mengubah tradisi pengajian individual menjadi jaringan pesantren yang lebih terstruktur.
Sanad yang Bersambung ke Ulama Besar Haramain
Kekuatan utama TGH Ibrahim Al-Khalidi bukan semata-mata lamanya bermukim di Makkah, tetapi kejelasan guru dan sanad keilmuannya. Di antara guru-gurunya dari kalangan ulama Nusantara yang bermukim di Haramayn adalah KH Marzuqi Palembang, KH Hasan Jambi, Syekh Muhammad Nur Fathani, KH Salim Cianjur, KH Raden Ahyad Bogor, KH Abdul Qadir Mandailing, dan KH Husain Palembang.
Adapun dari kalangan ulama Hijaz, ia belajar kepada Syekh Abbas Abdul Jabbar, Syekh Hasan Yamani, Syekh Isa Ruaes, Syekh Abdullah Al-Khadrami, Sayyid Abbas Al-Maliki, Syekh Umar Hamdan, Syekh Jamal Al-Maliki, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Syekh Ali Al-Maliki, Syekh Khalifah bin Nabhan dalam ilmu falak, Sayyid Muhammad Amin Kutbi, dan Syekh Hasan Muhammad Al-Masyath.
Penelitian yang diterbitkan dalam Buletin Al-Turas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menemukan dua bukti tertulis terpenting mengenai otoritas sanad TGH Ibrahim.
Pertama, sanad kitab Kifayah al-Mustafid karya ulama Nusantara Syekh Mahfudz Al-Tirmasi yang diterimanya melalui dua jalur guru, yakni Syekh Muhammad Amin Kutbi dan Sayyid Alwi Al-Maliki. Kedua, ijazah dari Syekh Hasan Muhammad Al-Masyath melalui karya Al-Irsyad bi Dzikr Ba’dh Ma li min Al-Isnad pada 1370 Hijriah.
Syekh Hasan Al-Masyath merupakan ulama hadis dan pemegang otoritas sanad di Makkah. Menariknya, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan, juga merupakan murid dekat Syekh Hasan Al-Masyath. Dengan demikian, TGH Ibrahim Al-Khalidi dan Maulana Syekh TGKH Zainuddin Abdul Madjid berdiri dalam jaringan besar keilmuan Haramayn yang saling beririsan. Keduanya bukan hubungan guru dan murid, melainkan dua pewaris tradisi keilmuan yang tumbuh sezaman dan memiliki sambungan kepada sejumlah mahaguru yang sama.
Dalam konteks organisasi keagamaan, TGH Ibrahim juga tercatat pernah menjadi Wakil Syuriah Nahdlatul Ulama pada masa kepemimpinan TGH Muhammad Sholeh Hambali Bengkel. Posisi ini memperlihatkan keterhubungannya dengan jaringan ulama pesantren dan NU di Lombok. Corak keilmuannya berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah, berakidah Asy’ariyah, berorientasi fikih Syafi’i, serta mempertemukan keteguhan fikih dengan kedalaman tasawuf.
Warisan intelektualnya tidak hanya ditransmisikan secara lisan. TGH Ibrahim menulis Tuhfah al-Shibyan, Siraj al-Qulub fi Ad’iyah ‘Allam al-Ghuyub, sejumlah risalah, serta puluhan brosur Pengajian Abituren yang diterbitkan antara 1973–1992. Karya-karya itu memperlihatkan Al-Ishlahuddiny sebagai pusat produksi sekaligus transmisi pengetahuan keislaman.
Pesantren yang Mengirim Ulama Kembali ke Kampung
Pada masa perintisannya, Al-Ishlahuddiny bermula dengan sekitar 70 pelajar. Pola pendidikannya mengambil inspirasi dari ribath dan halaqah di Haramayn. Para santri tidak hanya diarahkan menjadi orang alim, tetapi didorong kembali ke daerah masing-masing untuk mengajar, membuka majelis taklim, dan membangun lembaga pendidikan.
Daftar yang dihimpun dalam penelitian UIN Sunan Kalijaga tentang TGH Ibrahim Al-Khalidi menunjukkan luasnya penyebaran murid Al-Ishlahuddiny.
Di Lombok Barat dan wilayah yang kini menjadi Lombok Utara tercatat nama-nama seperti TGH Ridwanullah Bermi, TGH Hasbullah Munir, TGH Abdul Kahar Gerung, TGH Ahmad Sakaki Gunungsari, serta sejumlah tuan guru dari Pemenang dan Tanjung. Di Kota Mataram terdapat TGH Musyawar Babakan, TGH Mahudin Dasan Agung, TGH Mukhtar Fauzi, TGH Mawardi Dasan Cermen, dan sejumlah ulama lainnya.
Di Lombok Tengah, jaringan itu antara lain terlihat pada TGH Lukman Adnan Penaban, TGH Turmuzi Mantang, TGH Abdul Karim Puyung, TGH Abdul Hakam Sisik, TGH Muhammad Nizom Pringgarata, TGH Muhammad Syuti Tapon, dan TGH Ibrahim Kateng.
Sementara di Lombok Timur terdapat TGH Mutawalli Jerowaru, TGH Muhammad Sibawaihi Mutawalli, TGH Abu Bakar Sakra Sepit, TGH Abdul Muhit Labuhan Haji, TGH Fauzan Mamben, TGH Abdul Fatah Masbagik, serta TGH Abubakar Suralaga. Daftar tersebut tidak dapat dianggap sebagai keseluruhan jaringan, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa Al-Ishlahuddiny merupakan salah satu pusat pembibitan tuan guru lintas wilayah.
Salah satu contoh paling konkret adalah TGH Muhammad Ridwanullah At-Tauhidy. Ia mulai belajar di Al-Ishlahuddiny pada 1945, melanjutkan pengajian selama sekitar sembilan tahun, kemudian dipercaya TGH Ibrahim mengajar di Takhassus sejak 1954. Ia selanjutnya mendirikan Pondok Pesantren Darussalam Bermi, lengkap dengan MI, MTs, MA, Takhassus, Ma’had Aly, dan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah. Biografi resmi STIS Darussalam Bermi memperlihatkan dengan terang bagaimana seorang murid Al-Ishlahuddiny kemudian membangun pusat keilmuan baru.
Di Lombok Timur, TGH Mutawalli Jerowaru mengembangkan dakwah dari kampung ke kampung dan merintis Pondok Pesantren Darul Aitam atau Darul Yatama wal Masakin. Jejak seperti ini menjelaskan mengapa pengaruh Al-Ishlahuddiny tidak selalu hadir dalam bentuk cabang yang memakai nama serupa. Pengaruhnya lebih banyak hidup melalui pribadi para alumninya, majelis pengajian yang mereka bangun, dan pesantren baru yang mereka dirikan.
Dari Kitab Kuning hingga Perguruan Tinggi
Al-Ishlahuddiny kemudian berkembang dalam dua kaki pendidikan. Kaki pertama mempertahankan pendidikan tradisional melalui Diniyah Putra dan Putri, Tahfizul Qur’an, serta Ma’had Aly Takhassus dengan metode wetonan, bandongan, sorogan, hafalan, musyawarah, dan muzakarah.
Kaki kedua mengembangkan pendidikan formal dari madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah, sekolah menengah kejuruan, hingga perguruan tinggi. STID Mustafa Ibrahim Al-Ishlahuddiny memperoleh izin operasional Kementerian Agama pada 2005 dan mengembangkan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam serta Bimbingan Penyuluhan Islam. Data resmi Kementerian Agama mengukuhkan keberadaan perguruan tinggi tersebut.
Sebuah penelitian tahun 2023 mengenai Al-Ishlahuddiny mendokumentasikan kiprah alumni dalam bidang dakwah, pendidikan, pemerintahan, dan pengelolaan pesantren. Di lingkungan akademik terdapat nama seperti Prof. Dr. TGH Musawar, Prof. Dr. H. MS Udin, Prof. Dr. Supriadi, Dr. Hj. Lubna, dan sejumlah dosen serta pendidik lainnya. Alumni lainnya memimpin pesantren, menjadi imam, khatib, pemimpin majelis taklim, pejabat pemerintahan, dan penggerak sosial di daerah masing-masing.
Buku Sosiologi Pesantren yang diterbitkan melalui repositori UIN Mataram mencatat bahwa hingga 2008 Al-Ishlahuddiny telah meluluskan sekitar 17.077 santri. Mereka disebut tersebar di Lombok, Sumbawa, NTT, Bali, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Angka itu merupakan data lama yang perlu diperbarui, tetapi tetap memberi gambaran mengenai luasnya jangkauan sosial pesantren. Buku tersebut juga menempatkan Al-Ishlahuddiny sebagai salah satu pesantren awal yang mengembangkan sistem klasikal di kawasan Lombok Barat.
Di sinilah sebutan “laboratorium tua para ulama” menemukan pijakannya. Al-Ishlahuddiny tidak hanya mengajar santri untuk mengetahui agama, tetapi menguji pengetahuan itu dalam pengabdian. Santrinya dikirim kembali ke masyarakat, kemudian tumbuh menjadi tuan guru, mendirikan pesantren, menghidupkan majelis, mengajar di perguruan tinggi, dan membangun jaringan sosial keagamaan.
Gedung dapat berubah, kurikulum dapat berkembang, dan generasi kepemimpinan dapat berganti. Namun, warisan paling besar Al-Ishlahuddiny tetap berada pada sesuatu yang tidak mudah dihitung: mata rantai ilmu yang terus berpindah dari seorang guru kepada murid, dari Kediri menuju kampung-kampung, dan dari satu pesantren melahirkan pesantren berikutnya.[]