
Matangkan Persiapan Bahtsul Masail, LBM PWNU NTB Rapat Bersama Lakpesdam NU dan Ponpes Darul Qur’an
Diperkirakan sekitar 250 musyawirin akan hadir. Panitia telah mengirim undangan kepada 65 pondok pesantren, serta menyiapkan sembilan kiai dan tuan guru untuk mendampingi jalannya kajian
Lombok Barat – Qolama.com | Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat terus memantapkan persiapan penyelenggaraan forum Bahtsul Masail yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Salah satu topik utama yang akan dibahas adalah fenomena maling nine dalam tradisi perkawinan masyarakat Sasak Lombok, yang dinilai memiliki keterkaitan dengan tingginya praktik perkawinan usia anak.
Forum ini dirancang sebagai respons atas kegelisahan para ulama dan pemerhati sosial terhadap dampak perkawinan dini, yang dianggap berpotensi menghambat perkembangan anak sekaligus memunculkan persoalan sosial baru di dalam keluarga.
Ustadz Januar Ismail menuturkan bahwa praktik perkawinan melalui cara melaik atau maling—yakni melarikan perempuan sebagai bagian dari tradisi perkawinan Sasak—perlu ditelaah secara mendalam dari sudut pandang hukum Islam serta kemaslahatan sosial.
“Topik ini diangkat sebagai respons atas kegelisahan melihat praktik perkawinan dini yang dampaknya cukup mengkhawatirkan bagi perkembangan anak dan keluarganya,” ujar Januar.
Forum Bahtsul Masail tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Haul ke-57 almarhum TGH Muhammad Saleh Hambali Bengkel, seorang masyaikh sekaligus tokoh pendiri NU di Nusa Tenggara Barat.
Sebagai langkah pematangan kegiatan, panitia menggelar rapat pada Minggu (8/2) di Mushala Putra Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, Lombok Barat. Pertemuan ini dihadiri pengurus LBM PWNU NTB, Lakpesdam PWNU NTB, pimpinan Pondok Pesantren Darul Qur’an, serta perwakilan dewan guru MTs dan SMK. Rapat dibuka oleh Sekretaris LBM PWNU NTB, Ustaz Referendi.
Ketua LBM PWNU NTB, TGH Nuzulul Umam el Mawardi, menyampaikan bahwa forum Bahtsul Masail akan dilaksanakan pada Kamis, 12 Februari 2026, bertempat di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Haul ke-57 almaghfurlah TGH Muhammad Saleh Hambali,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan yang diinisiasi bersama Lakpesdam NU dan Pondok Pesantren Darul Qur’an tersebut akan melibatkan perwakilan pesantren dari seluruh Pulau Lombok.
“Diperkirakan sekitar 250 musyawirin akan hadir. Panitia telah mengirim undangan kepada 65 pondok pesantren, serta menyiapkan sembilan kiai dan tuan guru untuk mendampingi jalannya kajian,” ujarnya.
Perwakilan Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, Gus Toni, memastikan kesiapan pondok dalam mendukung pelaksanaan kegiatan.
“Persiapan pondok sudah mencapai sekitar 90 persen. Tempat acara, penginapan peserta, sistem suara, konsumsi, dan kebutuhan lain insyaallah telah disiapkan. Dalam dua hingga tiga hari ke depan kami targetkan seluruh persiapan tuntas,” katanya.
Ketua Lakpesdam PWNU NTB, Muhammad Jayadi, menambahkan pihaknya akan memperkuat penyebarluasan informasi kegiatan melalui publikasi dan pemberitaan agar hasil kajian Bahtsul Masail dapat diakses masyarakat luas.
“Lakpesdam NU akan membantu publikasi, berkoordinasi dengan wartawan, serta menyiapkan tim dokumentasi untuk merekam seluruh rangkaian acara,” ujarnya.
Selain membahas isu perkawinan usia dini, forum Bahtsul Masail juga akan mengkaji sejumlah persoalan kontemporer lain, seperti hukum kontrak harga emas, hukum pemberian hadiah kepada kepala sekolah dari penyedia kebutuhan sekolah, status akad sande-tanggep sebagai bentuk bai’ al-‘uhdah atau akad bersyarat, serta standarisasi status aqil bagi penderita gangguan jiwa, mental, maupun kelainan hormon.