
Bentrok PWI-Laskar Sabilillah dan FPI di Pemalang: Diduga Tensi Lama Akibat Ceramah Provokatif HRS
Sebuah acara berbungkus pengajian yang menghadirkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS), di Desa Pegundan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, berujung bentrok antarormas. Rabu malam (23/7/2025), bentrokan pecah antara massa FPI dan Perjuangan Walisongo Indonesia – Laskar Sabilillah (PWI-LS). Akibatnya, sedikitnya lima orang mengalami luka-luka, termasuk satu polisi.
Video bentrokan antara dua kubu ini viral di media sosial, tampak kedua kubu saling serang menggunakan kayu, senjata tajam dan juga pelemparan batu.
Dihimpun dari berbagai sumber, sejumlah saksi mata menyebutkan, suasana mencekam dimulai sejak menjelang acara dimulai. Massa PWI-LS yang menolak kedatangan HRS sempat melakukan aksi dan meminta polisi agar membubarkan acara itu. Mereka menyatakan kehadiran HRS bukan untuk berdakwah, melainkan hanya akan menyulut provokasi dan konflik di Pemalang.
Setidaknya 6 orang luka-luka dalam peristiwa ini. Salah seorang korban dari pihak PWI-LS bahkan mengalami luka bacok cukup parah di bagian belakang kepala dan dilarikan ke rumah sakit.
Bara Panas Sudah Tercium Sejak Lama
Penolakan terhadap HRS bukan tiba-tiba. Sekitar sepekan sebelum acara berlangsung, PWI-LS Pemalang secara terbuka menolak rencana kedatangan HRS. Mereka mengeluarkan pernyataan bahwa kehadiran HRS hanya akan memecah belah masyarakat. Bagi mereka, HRS bukan ulama, tetapi simbol kekerasan yang membahayakan kerukunan sosial.
Ketua Umum PWI-LS, KH Abbas Billy Yacsyi—atau yang lebih dikenal dengan Gus Abbas—sebelumnya telah mengimbau anggotanya untuk tidak terpancing emosi, tidak membuat kerusuhan dan tetap menjaga kondusifitas di wilayah masing-masing.
Diduga Karena Ceramah Provokatif HRS
Habib Rizieq Shihab memang bukan figur yang asing bagi publik Indonesia. Ia dikenal dengan gaya ceramahnya yang frontal dan provokatif. Dalam berbagai dokumentasi ceramahnya yang tersebar luas di media sosial, HRS tak jarang menggunakan retorika kekerasan. Ungkapan seperti “asah golok, parang, dan celurit” dan “siap perang” kerap dilontarkan dipanggung-panggung ceramah diduga menjadi penyebab.
Bagi sebagian orang, gaya itu dianggap bentuk ketegasan. Namun sebagian besar masyarakat termasuk PWI-LS menganggap ini mengancam keutuhan berbangsa dengan mengadu domba kelompok-kelompok yang berbeda ditengah masyarakat.
FPI Datangkan Massa dari Luar Daerah
Tensi memuncak ketika diketahui bahwa FPI mengerahkan massa tidak hanya dari Pemalang, tetapi juga dari luar daerah seperti Jawa Barat dan Madura. Hal ini memicu kekhawatiran akan terjadinya bentrokan skala besar. Aparat gabungan TNI–Polri sebenarnya telah bersiaga di lokasi sejak siang hari. Namun bentrokan tetap pecah saat dua kubu saling lempar batu, botol, dan benda tumpul lainnya.
Laporan dari berbagai media menyebutkan bahwa sedikitnya lima orang terluka, termasuk satu anggota polisi. Jumlah korban diduga bisa lebih banyak karena sebagian besar tidak langsung dirawat di rumah sakit.
Pemerintah Daerah: Jangan Terprovokasi
Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, langsung merespons kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa Pemalang harus tetap kondusif dan masyarakat diminta tidak terprovokasi oleh konflik yang dibawa dari luar.
“Kami imbau masyarakat untuk tetap tenang dan jangan mudah terpancing. Pemalang ini tanah damai, jangan bawa bara ke mari,” kata Bupati Anom dalam konferensi pers Kamis pagi (24/7).
Acara ceramah tetap dilanjutkan hingga pukul 00.00 dini hari, dan bubar di bawah pengawalan ketat aparat. Namun aroma ketegangan masih terasa hingga Kamis pagi, dengan aparat masih berjaga dan warga di sekitar lokasi trauma oleh kericuhan semalam.[]