
Beranda Facebook Mendung, Abah Uhel dan Politik Ingatan
Dalam politik; ingatan rakyat itu seperti kompor minyak zaman dulu. Kelihatannya memang padam, tetapi kalau sumbunya masih basah, sekali disulut lagi-lagi ia bisa menyala. Itulah yang sedang terjadi pada nama “Abah Uhel”. Saat ia tak lagi berkuasa, justru banyak orang merasa perlu bicara. Saat kursi tidak lagi didudukinya, justru tampak siapa yang masih sayang dan menyimpan hormat padanya.
Di negeri +62, Facebook kadang lebih jujur daripada baliho. Baliho selalu tersenyum, bahkan saat rakyat sedang cemberut. Facebook lain lagi. Ia bisa menjadi pasar, pengajian, ruang duka, ruang marah, sekaligus tempat orang menulis kalimat panjang tanpa titik koma, seolah-olah tanda baca ikut berkabung.
Beberapa hari ini, beranda Facebook orang Lombok sedang dirundung mendung oleh satu nama: Abah Uhel. Nama lengkapnya H. Moh. Suhaili Fadhil Thohir, mantan Bupati Lombok Tengah dua periode. Ia divonis menjalani putusan hukum dalam perkara penipuan; Kejaksaan mengeksekusinya setelah putusan kasasi Mahkamah Agung berkekuatan hukum tetap dengan pidana delapan bulan. Itu fakta hukum yang harus ditempatkan pada tempatnya.
Tetapi Qolama Editorial ini bukan hendak menjadi panitera pengadilan. Kita serahkan itu kepada negara. Tulisan ini ingin melihat sesuatu yang lebih licin dari pasal, lebih hangat dari amar putusan, dan lebih sulit ditangkap oleh survei: ingatan rakyat.
Sebab yang ramai di beranda Facebook bukan hanya kabar hukum. Yang ramai adalah kenangan. Orang bercerita tentang jalan, pembangunan, Mandalika, keberanian, gaya bicara, dan masa ketika Lombok Tengah merasa punya pemimpin yang tidak hanya pandai memotong pita, tetapi juga berani menyuruh daerahnya berdiri lebih tegak.
Dalam politik, ingatan rakyat itu seperti kompor minyak zaman dulu. Kelihatannya padam, tetapi kalau sumbunya masih basah, sekali disulut bisa menyala lagi. Itulah yang sedang terjadi pada nama Abah Uhel. Saat ia tidak lagi menjabat, justru banyak orang merasa perlu bicara. Saat kursi tidak lagi di bawahnya, justru tampak siapa yang masih menyimpan hormat.
Pemimpin memang paling mudah diuji setelah turun dari jabatan. Saat masih berkuasa, semua orang bisa tampak mencintainya. Bahkan orang yang dalam hati menggerutu pun bisa tersenyum selebar jalan bypass. Pejabat datang terlambat disebut “maklum beliau sibuk”. Pejabat bicara biasa disebut “visi besar”. Pejabat batuk pun bisa dianggap sinyal kebijakan.
Tetapi begitu jabatan selesai, barulah layar dibuka. Ada mantan pejabat yang lenyap seperti kerupuk diguyur air hujan. Rumahnya mendadak sepi seperti kuburan, tak ada telepon, tak ada tamu yang dulu rajin datang selalu dengan map dan tanda tangan.
Abah Uhel, suka atau tidak suka, tidak masuk jenis itu. Ia masih dibicarakan. Ia masih dirindukan. Ia masih dijadikan ukuran oleh sebagian warga. Bukan karena ia manusia tanpa salah. Tidak ada politisi tanpa cela; kalau ada, mungkin ia belum cukup lama memegang kuasa. Tetapi karena rakyat merasa pernah melihat hasil kerjanya.
Di sinilah politik ingatan bekerja. Rakyat kecil tidak selalu hafal angka APBD. Mereka tidak selalu membaca RPJMD. Bahkan singkatan-singkatan pemerintah itu kadang lebih mirip sandi pramuka daripada bahasa publik. Tetapi rakyat hafal sesuatu yang sederhana: jalan yang dulu rusak lalu bisa dilewati, kawasan yang dulu sepi lalu hidup, daerah yang dulu minder lalu mulai percaya diri.
Abah Uhel pernah memimpin Lombok Tengah pada 2010–2015 dan 2016–2021, setelah sebelumnya menjadi Ketua DPRD NTB. Rekam jejak jabatan itu membuatnya bukan nama kecil dalam politik daerah. Dalam ingatan banyak orang, masa itu berkelindan dengan perubahan wajah Lombok Tengah: Mandalika makin kencang disebut, infrastruktur bergerak, dan daerah ini mulai tampil sebagai pusat perhatian NTB.
Tentu pembangunan bukan hasil kerja satu orang. Tidak ada bupati yang sendirian memanggul semen, pasir, SKPD, Perda, dan kontraktor sekaligus seperti tokoh silat membawa empat senjata. Tetapi pemimpin memberi arah. Ia menyalakan mesin. Ia membuat birokrasi bergerak.
Orang berandai-andai “bagaimana kalau Abah Uhel jadi Gubernur NTB” bukan karena mereka sedang kekurangan bahan obrolan. Mereka punya dasar ingatan. Mereka pernah melihat Lombok Tengah di bawah kepemimpinannya. Mereka juga ingat bahwa Abah Uhel bukan orang asing dalam gelanggang politik NTB.
Pada Pilgub NTB 2024, Abah Uhel adalah calon wakil gubernur mendampingi Zulkieflimansyah. Pasangan itu dikenal sebagai Zul–Uhel dan mendapat nomor urut 2. Lawannya, Lalu Muhamad Iqbal berpasangan dengan Indah Dhamayanti Putri, dikenal sebagai Iqbal–Dinda, mendapat nomor urut 3. Data nomor urut ini diumumkan KPU NTB.
Hasil akhirnya, Iqbal–Dinda menang dengan 1.163.194 suara, sedangkan Zul–Uhel memperoleh 887.791 suara. Kalah, jelas. Tetapi suara hampir 900 ribu bukan suara kecil. Kalau suara sebanyak itu dijadikan jamaah pengajian, kursi plastik satu provinsi bisa menyerah sebelum acara dimulai.
Artinya, Abah Uhel tidak berangkat dari nol. Ia sudah punya basis politik, basis emosional, dan memori publik. Kekalahan Zul–Uhel pada 2024 bukan berarti dukungan itu mati. Dalam politik, suara yang kalah kadang hanya tidur sebentar. Ia bisa bangun lagi kalau pemerintahan pemenang tidak segera memberi rasa perubahan.
Di sinilah nama Lalu Muhamad Iqbal masuk sebagai pembanding. Ia bukan musuh pribadi Abah Uhel. Ia adalah petahana, simbol pemerintahan yang sedang diuji. Ia bersama Indah Dhamayanti Putri resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode 2025–2030 pada 20 Februari 2025.
Tentu terlalu dini menilai satu periode pemerintahan seperti menilai ketupat yang baru lima menit direbus. Tetapi rakyat bukan pegawai humas. Mereka tidak selalu menunggu laporan kinerja lengkap, grafik warna-warni, atau pidato yang kalimatnya rapi seperti undangan pernikahan. Rakyat menilai dari rasa: jalan berubah atau tidak, harga terasa atau tidak, birokrasi bergerak atau tidak, lapangan kerja terbuka atau tidak, janji kampanye turun ke dapur atau masih bergelantungan di spanduk.
Dan kalau suasana politik NTB masih seperti hari ini—ketika sebagian publik merasa perubahan belum terlalu terasa, ketika pemerintahan baru masih tampak sibuk memanaskan mesin, sementara rakyat sudah menunggu kendaraan bergerak—maka nama Abah Uhel berpotensi menjadi bayangan alternatif yang menggoda.
Bukan karena Iqbal pasti gagal. Itu terlalu tergesa. Tetapi karena politik tidak hanya diukur dari siapa yang sedang menjabat, melainkan siapa yang sedang dirindukan. Petahana punya kursi, aparat, panggung, dan mikrofon. Tetapi penantang yang punya ingatan rakyat sering kali punya sesuatu yang lebih sulit dibeli: rasa pernah terbukti.
Inilah yang membuat Abah Uhel berbahaya secara politik. Ia membawa politik bukti, sementara petahana masih harus membuktikan diri. Orang bisa berkata: dulu di Lombok Tengah begini, dulu jalan itu dibuka, dulu daerah itu bergerak, dulu Mandalika mulai menggema. Benar atau tidak seluruhnya, begitulah cara rakyat merawat kesan. Mereka tidak membawa dokumen tender dalam saku, tetapi mereka membawa ingatan dalam kepala.
Kalau suatu saat Abah Uhel benar-benar mencalonkan diri sebagai Gubernur NTB dan berhadapan dengan Lalu Muhamad Iqbal, sementara suasana batin publik masih merasa pemerintahan hari ini belum menampakkan perubahan signifikan, maka kemungkinan besar Abah Uhel akan menarik hati banyak rakyat. Terutama rakyat yang rindu pemimpin yang dianggap bekerja, bukan sekadar berbicara dengan bahasa diplomatik yang halus tetapi sulit dimasak menjadi nasi.
Namun Abah Uhel juga tidak boleh hanya mengandalkan nostalgia. NTB tidak bisa dipimpin dengan album foto lama. Rakyat boleh berkata, “dulu waktu Abah,” tetapi suatu hari mereka tetap akan bertanya, “nanti Abah mau membawa NTB ke mana?” Ia harus datang dengan gagasan baru: ekonomi rakyat, pertanian, pesantren, pendidikan, pariwisata, lapangan kerja, dan tata kelola pemerintahan yang bersih.
Sebab rindu adalah modal, tetapi bukan program. Cinta rakyat adalah bahan bakar, tetapi bukan peta jalan. Kalau hanya modal rindu, politik bisa berubah menjadi reuni. Ramai, haru, banyak foto, tetapi setelah pulang orang tetap bertanya siapa yang bayar listrik.
Di situlah tantangan Abah Uhel bila suatu hari hendak kembali ke gelanggang. Ia harus mengubah politik ingatan menjadi politik gagasan. Mengubah simpati menjadi agenda. Mengubah luka menjadi pelajaran. Mengubah cinta Lombok Tengah menjadi visi NTB.
Untuk sementara, satu hal jelas: Abah Uhel belum pulang dari ingatan rakyat. Namanya masih berjalan dari beranda ke beranda, dari komentar ke komentar, dari warung kopi ke percakapan keluarga. Dan dalam politik, orang yang masih tinggal di ingatan rakyat kadang lebih kuat daripada orang yang sedang duduk di kursi.
Kursi bisa empuk. Tetapi ingatan bisa bergerak. Dan kalau ingatan itu berubah menjadi suara, petahana mana pun tidak boleh tidur terlalu nyenyak.