HeadlineLingkungan

Dari Rinjani ke Paok Dandak, Tanda-Tanda Alam yang Mulai Berubah

Monyet yang dulu tak pernah terlihat kini berkeliaran di Paok Dandak, sebuah kampung di Janapria yang cukup jauh dari kawasan hutan. Di lereng Rinjani, cerita lain datang dari air terjun yang menghilang dan mata air yang melemah. Barangkali ada sesuatu yang sedang berubah pada ekologi Lombok.

Monyet bukanlah pemandangan yang biasa di Paok Dandak.

Kampung di Desa Durian, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah, itu bukan permukiman yang menempel di pinggir hutan. Di sekelilingnya terbentang perkampungan, sawah, kebun dan jalan-jalan yang menghubungkan satu desa dengan desa lainnya.

Saya tumbuh dan tinggal cukup lama di kampung ini. Seingat saya, belum pernah ada monyet berkeliaran seperti yang terlihat belakangan.

Itulah yang membuat kedatangan mereka terasa ganjil.

Mungkin bagi orang lain ini perkara kecil. Seekor monyet melompat dari pohon ke pohon, lalu hilang. Besok datang lagi. Paling-paling orang khawatir buah di kebun dimakan.

Tetapi bagi orang yang mengenal kampung ini selama puluhan tahun, ada pertanyaan yang sulit diabaikan:

Mengapa sekarang?

Dan, jika Paok Dandak cukup jauh dari hutan, dari mana mereka datang?

Belum ada penelitian yang bisa menjawab pertanyaan itu. Tak ada pula bukti bahwa monyet-monyet tersebut berjalan langsung dari hutan Batukliang Utara menuju Janapria.

Tetapi alam kadang-kadang memberi tahu perubahan tidak melalui laporan penelitian.

Ia mengirim tanda. Tanda yang jelas dari monyet monyet yang mulai berkeliaran di kampung kampung.

Air Terjun yang Hilang

Beberapa waktu lalu, seorang traveler dan peneliti air terjun, Kang Ari Garmono, bercerita kepada saya tentang perubahan lain yang ia lihat di kawasan Rinjani.

Bertahun-tahun menjelajahi kawasan itu membuat Ari akrab dengan aliran sungai, mata air dan air terjun.

Menurut penuturannya, dahulu ada ratusan air terjun yang bisa ditemukan di bentang kawasan Rinjani. Kini, kata dia, jumlah yang masih memiliki aliran air tinggal puluhan.

Angka itu tentu membutuhkan verifikasi dan pemetaan lebih lanjut.

Namun sebagai kesaksian seseorang yang lama keluar-masuk kawasan air terjun, ceritanya sulit dianggap angin lalu.

Sebab air terjun tidak benar-benar “hilang”.

Tebingnya masih ada.

Batunya masih ada.

Jalur tempat air dahulu jatuh mungkin juga masih terlihat.

Yang hilang adalah airnya.

Dan ketika sebuah air terjun mengering, pertanyaannya jauh lebih besar daripada urusan pariwisata.

Dari mana air yang dahulu mengalir itu berasal?

Mengapa sekarang berkurang?

Apa yang terjadi di atas sana?

Pohon dan Air Mempunyai Hubungan Panjang

Hutan adalah sebuah mesin penyimpan air yang bekerja tanpa suara.

Ketika hujan turun, tajuk pohon memperlambat jatuhnya air. Serasah dan tanah hutan membantu air meresap. Sistem perakaran menjaga struktur tanah sekaligus membantu proses penyimpanan air dalam bentang daerah tangkapan.

Air itu tidak seluruhnya langsung mengalir ke sungai.

Sebagian masuk ke tanah.

Sebagian kemudian muncul kembali sebagai rembesan dan mata air.

Dari mata air lahir aliran kecil. Aliran kecil bertemu menjadi sungai. Pada kontur tertentu, air jatuh dari tebing.

Kita lalu memberinya nama: air terjun.

Maka ketika tutupan hutan berubah, yang dipertaruhkan bukan hanya pohon.

Ada air di belakangnya.

Kekhawatiran semacam itu bukan tanpa jejak. Kerusakan hutan di kawasan Rinjani pernah dikaitkan dengan ancaman terhadap sumber air. Pada 2019, misalnya, aktivitas pengelolaan kawasan tanpa izin di salah satu bagian Taman Nasional Gunung Rinjani dilaporkan mencapai sekitar 110 hektare. Bekas penebangan, pembakaran dan tanah gersang ditemukan di kawasan tersebut, sementara debit mata air ikut dikhawatirkan.

Maka cerita tentang air terjun yang mengering menemukan konteks ekologinya.

Api dari Oven Tembakau

Di Lombok, pohon juga berhadapan dengan kebutuhan ekonomi yang sangat nyata.

Salah satunya tembakau.

Ketika musim panen tiba, oven-oven pengeringan harus menyala. Sebagian menggunakan bahan bakar yang membutuhkan kayu.

Di kampung, hubungan itu terlihat sederhana.

Petani membutuhkan api.

Api membutuhkan bahan bakar.

Kayu tersedia.

Pohon ditebang.

Tetapi persoalan lingkungan hampir tidak pernah sesederhana urutan itu.

Sebab sepotong kayu yang masuk ke tungku mempunyai sejarah ekologis jauh lebih panjang daripada waktu yang dibutuhkan untuk membakarnya.

Pohon mungkin tumbuh belasan atau puluhan tahun.

Di dalam oven, ia selesai dalam hitungan jam.

Kalau kecepatan menanam tidak mampu mengejar kecepatan menebang, manusia sebenarnya sedang mengambil tabungan ekologis yang dikumpulkan alam selama bertahun-tahun.

Dan suatu saat tabungan itu habis.

Yang perlu ditegaskan: persoalan ini tidak adil bila seluruh bebannya diletakkan di pundak petani tembakau.

Petani juga sedang mempertahankan hidup.

Tembakau membiayai sekolah anak, membayar utang, memperbaiki rumah, dan menggerakkan ekonomi desa.

Karena itu pertanyaan yang benar bukan, “Mengapa petani memakai kayu?”

Melainkan: mengapa sistem produksi kita masih memungkinkan kebutuhan energi dibayar dengan tekanan terhadap pohon?

Dari mana kayu oven berasal?

Berapa volumenya setiap musim?

Berapa yang berasal dari hutan dan berapa dari kebun produksi?

Berapa pohon yang ditanam kembali?

Dan adakah pilihan energi yang cukup murah sehingga petani tidak dipaksa memilih antara keuntungan ekonomi dan keselamatan ekologi?

Di situlah pemerintah semestinya hadir.

Air Juga Menjadi Komoditas

Ari Garmono mengajukan dugaan lain.

Selain perubahan tutupan pohon, menurut dia, sumber-sumber air juga menghadapi tekanan akibat pemanfaatan air dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan air bersih, termasuk yang kemudian dikelola secara komersial oleh perusahaan air minum daerah.

Dugaan ini tentu memerlukan data.

Berapa debit yang diambil?

Dari mata air mana?

Bagaimana perubahan debitnya selama sepuluh atau dua puluh tahun?

Berapa bagian yang mengalir secara alami dan berapa yang masuk ke jaringan perpipaan?

Tanpa angka-angka tersebut, terlalu dini menyimpulkan bahwa pengambilan air oleh PDAM menyebabkan air terjun tertentu mengering.

Namun pertanyaannya sah.

Sebab air hari ini tidak hanya menjadi unsur ekologi.

Air telah menjadi sumber daya ekonomi.

Ia ditangkap di hulunya, masuk pipa, melewati meteran, kemudian tiba di rumah sebagai layanan yang harus dibayar.

Tidak ada yang salah dengan menyediakan air bersih. Justru negara dan pemerintah daerah berkewajiban memastikan masyarakat mendapatkannya.

Masalah muncul bila jumlah air yang diambil melampaui kemampuan sebuah sumber untuk memulihkan dirinya atau bila kawasan resapannya pada saat bersamaan mengalami tekanan.

Bayangkan sebuah bak mandi.

Kerannya semakin kecil, tetapi lubang pembuangannya semakin besar.

Suatu saat permukaan air pasti turun.

Pada bentang alam, “keran” itu adalah hujan dan proses resapan. Pohon, tanah, batuan dan daerah tangkapan bekerja menyimpan air.

Sementara “lubang keluarnya” adalah aliran alami ditambah air yang diambil manusia.

Jika kawasan resapan rusak pada saat kebutuhan manusia terus meningkat, persoalannya bukan lagi siapa mendapat air lebih dulu.

Persoalannya adalah berapa banyak air yang masih tersisa.

Monyet dan Air Terjun Mungkin Sedang Bercerita Hal yang Sama

Di titik inilah monyet di Paok Dandak dan cerita air terjun Ari Garmono bertemu.

Keduanya tampak tidak berhubungan.

Yang satu binatang.

Yang lain air.

Yang satu muncul di kampung.

Yang lain menghilang dari gunung.

Tetapi keduanya bergantung pada sesuatu yang sama:

ekosistem yang sehat.

Monyet membutuhkan habitat dan makanan.

Mata air membutuhkan daerah tangkapan yang terjaga.

Sungai membutuhkan pasokan air.

Air terjun membutuhkan aliran.

Manusia membutuhkan semuanya.

Ketika satu bagian dari jaringan itu berubah, akibatnya dapat berjalan jauh dari tempat kerusakan bermula.

Itulah sebabnya kerusakan ekologis sering menipu.

Pohon ditebang di gunung, tetapi orang yang suatu hari kekurangan air bisa tinggal berkilo-kilometer di bawahnya.

Daerah resapan berubah, tetapi yang mengering mungkin mata air di desa lain.

Habitat terpecah, tetapi monyet bisa muncul di kampung yang selama puluhan tahun tak pernah didatanginya.

Alam tidak mengenal batas administrasi.

Air tidak berhenti karena papan bertuliskan “Kecamatan Batukliang Utara”.

Monyet juga tidak tahu kapan ia telah memasuki Kecamatan Janapria.

Jangan Tunggu Sampai Menjadi Biasa

Ada bahaya yang lebih besar daripada melihat monyet berkeliaran di kampung.

Yaitu ketika kita mulai terbiasa melihatnya.

Hari ini orang memotret.

Besok mengusir.

Lusa buah kebun habis dan monyet mulai disebut hama.

Beberapa tahun kemudian anak-anak mungkin tumbuh dengan anggapan bahwa monyet memang biasa berkeliaran di Paok Dandak.

Ingatan ekologis manusia pendek.

Satu generasi mengenang sungai selebar lima meter.

Generasi berikutnya mengenalnya selebar dua meter.

Anaknya hanya mengenal parit.

Cucunya kemudian mendengar cerita bahwa dahulu orang pernah mandi di sana.

Begitu pula air terjun.

Hari ini kita mengatakan jumlahnya tinggal puluhan.

Kelak jangan sampai anak-anak hanya mengenalnya dari nama sebuah dusun, lokasi Google Maps, atau foto-foto lama para traveler.

Karena itu, cerita Kang Ari tentang air terjun dan kemunculan monyet di Paok Dandak seharusnya tidak berhenti sebagai nostalgia dan kegelisahan.

Keduanya layak menjadi pertanyaan kebijakan.

Bagaimana keadaan tutupan hutan Rinjani dan Batukliang Utara?

Seberapa besar kebutuhan kayu untuk pengovenan tembakau?

Dari mana kayu itu berasal?

Bagaimana perubahan debit mata air?

Berapa volume air yang diambil untuk pelayanan air bersih?

Berapa banyak air terjun yang benar-benar kehilangan aliran permanen?

Dan apakah pemerintah mempunyai satu peta yang mempertemukan seluruh data itu?

Sebab mungkin persoalan terbesar kita bukan belum mempunyai jawaban.

Kita bahkan belum cukup serius mengajukan pertanyaannya.

Sementara alam terus mengirimkan tanda.

Sebagian berupa air yang tidak lagi jatuh dari tebing.

Sebagian berupa pohon yang hilang dari bukit.

Dan sebagian lagi datang dari tempat yang tak pernah kita sangka.

Melompat dari dahan ke dahan di sebuah kampung bernama Paok Dandak.

Mungkin monyet-monyet itu tidak sedang tersesat.

Bisa jadi kitalah yang perlahan kehilangan arah tentang bagaimana seharusnya hidup bersama alam.

AHMAD JUMAILI

(Koordinator Gusdurian Lombok Tengah)

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button