HeadlineHukum dan Kriminal

Kasus ADP: Dugaan Cinta Segitiga & Pembunuhan Nyaris Sempurna yang Dibelokkan Jadi Bunuh Diri?

“Ini bukan kematian biasa. Ini pembunuhan,” 
(Nikolaiy Aprilindo – Praktisi HAM)

Kamar sunyi di jantung ibu kota itu kini menjadi simbol kejanggalan yang menggantung. Kepala terbalut plastik, wajah terlilit lakban hingga tak menyisakan ruang bernapas. Arya Daru Pangayunan, diplomat muda penuh prestasi, ditemukan tak bernyawa. Polisi menyimpulkan: tak ada unsur pidana. Namun, bagi sebagian kalangan, kematian ini menyimpan lebih dari sekadar duka.

“Kesimpulan itu terlalu prematur,” ujar praktisi hukum dan HAM, Nikolaiy Aprilindo, dalam program Sindo Prime, Rabu (31/7). Dengan suara tegas dan tenang, Nikolaiy membedah satu per satu kejanggalan yang menurutnya mengarah pada rekayasa pembunuhan yang nyaris sempurna—tapi tetap tidak sempurna.

“Ini bukan kematian biasa. Ini pembunuhan,” ujarnya.

Luka-Luka yang Terlupakan

Pernyataan polisi menyebut ADP meninggal karena mati lemas. Tapi hasil forensik RS Cipto Mangunkusumo bicara lain. Luka terbuka pada bibir bagian dalam, lima lecet di leher, memar di kelopak mata dan lengan. Lendir bercampur busa kemerahan di tenggorokan, paru sembab, jantung kekurangan oksigen akut. Tidak ada penyakit dalam. Tidak ada racun. Tapi ada kekerasan benda tumpul.

“Ini jelas indikasi kekerasan. Bukan bunuh diri. Jangan tutup mata hanya karena sidik jari di lakban adalah milik korban,” ujar Nikolaiy.

Menurutnya, dugaan bahwa ADP melilit wajahnya sendiri dengan lakban hanya untuk bunuh diri adalah narasi yang dibentuk. “Pembunuhnya profesional. Mereka ingin kematian ini terlihat sebagai keputusan pribadi korban.”

Kamera yang Tiba-Tiba Berputar

Satu kejanggalan mencolok terletak pada rekaman CCTV. Awalnya mengarah ke lorong kos. Tapi saat jenazah ditemukan, CCTV justru mengarah ke kamar korban.

“Tidak mungkin kamera berubah sendiri. Ada yang mengarahkan. Siapa?” tanya Nikolaiy retoris.

Ia juga menyoroti sikap penjaga kos yang membuka jendela dengan cara yang “terlalu mudah”. “Seolah-olah paham betul struktur bangunan. Saya menduga dia bagian dari skenario. Dia tahu cara buka jendela dari dalam, bahkan tahu timingnya.”

Ketika polisi berdalih perubahan arah CCTV dilakukan atas permintaan keluarga korban, Nikolaiy meradang. “Logika hukumnya di mana? Keluarga hanya minta kamar dibuka, bukan CCTV diatur. Ini jelas rekayasa.”

Jejak Misterius di Rooftop

ADP sempat terekam kamera rooftop gedung Kemlu. Polisi menyebut ia mencoba melompat, tapi gagal. Mereka mengaitkan ini dengan tekanan batin, burnout, hingga depresi.

Namun Nikolaiy melihatnya berbeda.

“Dia bukan mau bunuh diri. Dia mencari tahu apakah ada yang membuntutinya. Raut tubuhnya penuh kegelisahan, bukan niat mengakhiri hidup,” ucapnya. “Kalau mau bunuh diri, kenapa tidak langsung melompat dari rooftop? Kenapa masih kembali ke kos?”

Barang-barangnya ditemukan sehari setelahnya, di tangga darurat. Termasuk laptop kerja.

“Apa isi laptop itu? Apa yang ia simpan? Ini penting. Jangan buru-buru simpulkan tanpa periksa semua kemungkinan.”

Ada Rumor, Cinta Segitiga dan Istri Seorang Oknum

Motif cinta segitiga mencuat. Ada nama perempuan: Farah. Sosok yang dikaitkan dengan ADP, dan disebut-sebut memiliki hubungan khusus. Polisi mengakui sudah memeriksa Farah, namun tak bersedia mengungkap detailnya.

“Kalau tidak bisa dibuka, berarti ada yang disembunyikan. Farah itu siapa? Istri siapa? Ini bukan urusan privasi lagi. Ini urusan nyawa manusia,” tegas Nikolaiy.

Ia menduga keterlibatan oknum tertentu yang memiliki kekuasaan dan mungkin ingin menyembunyikan hubungan terlarang.

“Penyelidikan ini tak bisa hanya oleh polisi. Harus libatkan POM TNI. Ada jejak yang hanya bisa diakses militer, kalau dugaan saya benar.”

Kesimpulan Polisi Sangat Prematur

Nikolaiy menutup pernyataannya dengan satu catatan tegas: jangan buru-buru menyimpulkan.

“Investigasi belum matang. Masih banyak yang tercecer. Ini belum A1,” katanya, merujuk pada istilah intelijen untuk data yang benar-benar sahih.

Menurutnya, terlalu cepat menyebut tak ada tindak pidana justru memberi ruang bagi pelaku untuk bertepuk tangan.

“Keberhasilan terbesar pelaku kejahatan adalah ketika polisi membenarkan skenario yang mereka buat.” []

Adsvertise
Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button