AgamaFeaturesHeadline

Ketua JATMAN Tegaskan Istiqomah di Jalan Lurus, Sindir Kemunculan Tarekat Ilegal JATMA.

Ketua Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN), Prof. Dr. KH. Masykur Musa, menegaskan pentingnya istiqomah dalam ber-JATMAN, sekaligus mengingatkan umat agar tidak terjebak pada kelompok atau organisasi tarekat yang tidak memiliki kejelasan sanad keilmuan dan legalitas struktural di bawah Nahdlatul Ulama (NU).

Pernyataan itu disampaikan KH. Masykur Musa dalam acara Pelantikan Kepengurusan Pimpinan Pusat JATMAN, yang berlangsung selama dua hari, Senin-Selasa, 7-8 Juli 2025, di Pondok Pesantren An-Nawawi, Berjan, Purworejo, Jawa Tengah.

Acara pelantikan ini menjadi momentum konsolidasi besar keluarga besar JATMAN, diikuti ratusan ulama, mursyid, masyayikh, serta pengamal thariqah mu’tabarah dari seluruh Indonesia. Dari 200 kursi yang disiapkan panitia, seluruhnya terisi penuh, bahkan jamaah tumpah ruah hingga ke luar arena.

“Ini bukti loyalitas para ulama kepada JATMAN, loyal kepada NU, dan loyal kepada NKRI,” ujar Prof. Dr. KH. Masykur Musa di hadapan peserta yang memadati area pelantikan.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa JATMAN adalah satu-satunya wadah resmi thariqah mu’tabarah di Indonesia yang sah di bawah naungan NU, yang telah berdiri tegak sejak tahun 1957.

“Saya ulang, istiqomah dalam ber-JATMAN. Jangan toleh kanan, jangan toleh kiri. Kita tetap di jalan yang lurus, jalan para ulama, jalan para mursyid thariqah, jalan yang diridhoi Allah SWT,” tegasnya.

KH. Masykur Musa mengingatkan, umat Islam harus senantiasa bersama golongan yang benar dan terjaga sanad keilmuannya, sebagaimana firman Allah SWT:

“Wakunu ma’ash-shadiqin, bersama orang-orang yang benar. Yang lurus dan terjaga sanadnya adalah JATMAN sejak 1957, bukan yang lain,” kata Prof. Dr. KH. Masykur Musa disambut tepuk tangan para jamaah.

Pernyataan Ketua JATMAN ini sekaligus menjadi jawaban tegas atas polemik kemunculan organisasi tandingan yang mengklaim sebagai wadah thariqah, yakni JATMA (Jam’iyyah Ahlit Thariqah Ahlussunnah Wal Jama’ah), yang didirikan Habib Luthfi Bin Yahya di Pekalongan.

Sebagaimana diketahui, JATMA muncul pasca dinamika internal JATMAN, di mana Habib Luthfi selama lebih dari 15 tahun memimpin organisasi tersebut, namun dinilai tidak membawa perkembangan signifikan. Ketika masa pergantian kepemimpinan tiba, ia justru membentuk organisasi baru di luar struktur NU dengan nama JATMA Aswaja.

Fenomena ini menuai kekhawatiran di kalangan ulama dan masyarakat Nahdliyyin. Banyak yang menilai, pendirian JATMA adalah bentuk pembelokan sejarah thariqah mu’tabarah, sekaligus upaya mengkapling eksistensi thariqah demi kepentingan kelompok tertentu.

KH. Masykur Musa pun mengingatkan dengan tegas, agar umat tidak mengikuti jalan yang tidak jelas, sebagaimana peringatan dalam Al-Qur’an:

“Qad ujibat da’watukuma, faltattabi’anni sabilal-ladzîna ya’lamûn, walâ tattabi’anni sabilal-ladzîna lâ ya’lamûn,”
“Sungguh doa kalian telah diperkenankan, maka ikutlah jalan orang-orang yang berilmu, dan jangan kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.”

Menurutnya, jalan yang benar adalah jalan yang bersanad, memiliki legitimasi keilmuan, dan terhubung secara struktural dalam wadah resmi NU, yaitu JATMAN.

Acara pelantikan ini diakhiri dengan ikrar bersama untuk menjaga marwah JATMAN, melanjutkan perjuangan ulama, dan menjaga keutuhan NKRI dari infiltrasi kelompok-kelompok yang merusak tatanan sanad keilmuan maupun persatuan umat.

Adsvertise
Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button