
Ini organisasi para kiai, para ulama. Semua harus dikembalikan pada aturan, musyawarah, dan ketertiban organisasi. Jangan sampai dinamika sesaat mengurangi marwah NU
Mantan Ro’is Aam PBNU sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI, KH Ma’ruf Amin, menuturkan hasil sikap dan pandangan para masyaikh serta sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) yang berkumpul dalam forum khusus di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Kiai Ma’ruf menyampaikan bahwa dirinya mengikuti dan mencermati seluruh dinamika yang terjadi di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), termasuk pertemuan daring Forum Sesepuh dan Mustasyar NU yang menghasilkan empat poin penting.
Pertama, kata Kiai Ma’ruf, para sesepuh menilai bahwa proses pemakzulan Ketua Umum PBNU tidak sesuai dengan aturan organisasi, khususnya ketentuan yang telah diatur dalam AD/ART. Karena itu, forum memandang langkah tersebut tidak sah secara prosedural.
Kedua, forum juga mencatat adanya informasi mengenai dugaan pelanggaran atau kekeliruan serius dalam pengambilan keputusan oleh Ketua Umum. Namun, menurut para masyaikh, isu tersebut harus diklarifikasi melalui mekanisme organisasi yang utuh, bukan melalui opini publik atau tekanan eksternal.
Ketiga, para sesepuh merekomendasikan agar Rapat Pleno PBNU untuk menetapkan Penjabat (PJ) Ketua Umum ditunda. Forum menegaskan bahwa pleno hanya bisa digelar bila seluruh proses musyawarah dan prosedur internal benar-benar telah dipenuhi.
Keempat, Forum Sesepuh dan Mustasyar NU mengajak seluruh pihak di tubuh PBNU untuk menahan diri, menjaga suasana tetap kondusif, serta menghindari langkah yang bisa memperbesar ketegangan.
Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa para masyaikh menginginkan seluruh persoalan PBNU ini diselesaikan melalui mekanisme internal, tanpa membawa-bawa institusi lain atau proses di luar jam’iyyah. Hal itu penting, tegasnya, untuk menjaga kewibawaan organisasi serta memelihara NU sebagai aset besar bangsa.
“Ini organisasi para kiai, para ulama. Semua harus dikembalikan pada aturan, musyawarah, dan ketertiban organisasi. Jangan sampai dinamika sesaat mengurangi marwah NU,” ujar Kiai Ma’ruf.
Dengan pandangan itu, para sesepuh berharap seluruh pihak dapat kembali tenang, bermusyawarah dengan jernih, serta mengutamakan persatuan di tengah situasi yang sensitif. NU, kata Kiai Ma’ruf, terlalu besar untuk dibiarkan terseret dalam konflik internal berkepanjangan.