Headline

Pengakuan Jujur Sumantri Suwarno, Konflik PBNU: Konflik Pribadi yang Dibawa ke Organisasi

“Cukup Ngopi Bertiga Sebenarnya Selesai”**

Bendahara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Haji Sumantri Suwarno, menyampaikan pernyataan mengejutkan melalui status Facebook pribadinya pada Sabtu, 13 Desember 2025. Ia menilai bahwa kisruh yang memanas di tubuh PBNU selama beberapa waktu terakhir sejatinya bukan konflik organisasi, melainkan konflik pribadi antara tiga tokoh sentral: Rais Aam, Ketua Umum, dan Sekretaris Jenderal.

Menurut Sumantri, memahami konflik harus dimulai dari membaca relasi antaraktor. “Konflik hari ini pada dasarnya hanya berpusat pada hubungan tiga orang ini,” tulisnya.

Jejak Kesepakatan yang Kini Menjadi Bumerang

Sumantri kemudian merinci empat keputusan besar yang dulu disepakati bersama dan kini menjadi bumerang.

Pertama, penyusunan kepengurusan, termasuk penunjukan Maming sebagai Bendahara Umum.

Kedua, pemberian panggung politik kepada Erick Thohir menjelang Pilpres, yang saat itu menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan Nahdliyyin.

Ketiga, keterlibatan ketiga tokoh ini dalam perusahaan tambang PBNU yang disebut-sebut sebagai bagian dari fasilitas Presiden Jokowi. Keempat, arah dukungan politik PBNU dalam Pemilihan Presiden.

Setiap keputusan tersebut, menurut Sumantri, mengandung misi politik masing-masing individu, terutama soal akses kekuasaan dan komunikasi dengan pemerintah. Ia menyinggung pula soal “tiket menteri” untuk tokoh tertentu, seperti Gus Ipul, sebagai bagian dari dinamika tersebut.

Konflik yang Terlambat Pecah

Dalam narasinya, Sumantri menilai konflik mulai pecah setelah Pilpres, terutama ketika muncul perbedaan pandangan mengenai “siapa mitra pengelola tambang PBNU” yang diberikan oleh Presiden Jokowi.

Ia menyebut PBNU masih beruntung karena konflik tidak meledak lebih awal—seperti saat penyusunan kepengurusan, penentuan dukungan Pilpres, atau pembagian jatah kabinet pemerintahan Prabowo. Seandainya pecah saat itu, ledakan bara konflik ini bisa lebih besar dan lebih rumit. 

Menurutnya, retaknya hubungan ini baru terasa setelah empat tahun ketiganya memimpin NU, seperti bara dalam sekam yang akhirnya menyala.

Konflik Sederhana yang Menjadi Drama Besar

Sumantri mengkritik keras cara konflik yang sebenarnya sederhana ini berkembang menjadi drama nasional. Seharusnya, kata dia, persoalan itu bisa diselesaikan dengan duduk bersama sambil ngopi, tetapi justru melebar hingga menyeret banyak pihak dan memunculkan perdebatan dalil agama, tafsir AD/ART, bahkan uji kealiman seseorang.

“Ini konflik yang melelahkan karena alasan yang terlalu sederhana,” tegasnya. “Alasan remeh-temeh itu dibungkus narasi pelanggaran syara’ dan sebagainya, sehingga menjauh dari akar masalah yang sebenarnya.”

Memilih Menjauh dari Pusaran Konflik

Di akhir pernyataannya, Sumantri menegaskan bahwa dirinya memilih mundur dari hiruk-pikuk konflik, kecuali jika diperlukan untuk memberikan klarifikasi terkait hal-hal yang ia ketahui langsung.

Ia menutup dengan satu pesan penting:

“Islah itu menjadi jalan logis lebih karena mereka yang memulai, ya mereka juga yang harus mengakhiri.”[]

Adsvertise
Selengkapnya
Back to top button