
Rangkaian Harlah Gus Dur 2026 di Lombok Tengah, Gusdurian Rajut Kerukunan Lewat Aksi Lingkungan
LOMBOK TENGAH – Gusdurian Lombok Tengah memperingati Harlah Gus Dur 2026 dengan cara yang berbeda. Tak berhenti pada seremoni, peringatan hari lahir KH Abdurrahman Wahid itu dirangkai dengan kemah lintas iman, aksi penghijauan, bersih sungai, hingga peluncuran bank sampah.
Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di Dusun Selak Aik, Desa Aik Berik, Lombok Tengah, Sabtu–Minggu, 15–16 Agustus 2026.
Koordinator Gusdurian Lombok Tengah, Ahmad Jumaili, mengatakan Harlah Gus Dur tahun ini diarahkan menjadi ruang perjumpaan sekaligus kerja bersama antar-komunitas. Isu lingkungan dipilih sebagai titik temu yang melampaui perbedaan agama, organisasi maupun latar belakang sosial.
Menurut Jumaili, nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum. Semangat kemanusiaan, keberagaman dan perdamaian, kata dia, perlu hadir dalam tindakan nyata yang bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat.
Rangkaian kegiatan dimulai Sabtu, 15 Agustus 2026, melalui Temu Jejaring Gusdurian Lombok Tengah. Forum tersebut mempertemukan organisasi masyarakat, komunitas lokal, unsur pemerintah, serta jaringan lintas iman yang selama ini bersinggungan dengan kerja-kerja Gusdurian di Lombok Tengah.
Temu jejaring menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat komunikasi dan membuka kemungkinan kolaborasi antarkelompok, terutama pada isu kemanusiaan, lingkungan, keberagaman dan perdamaian.
Sore harinya, kegiatan dilanjutkan dengan Kemah Keakraban Lintas Iman. Sekitar 100 peserta dari berbagai agama dan komunitas dijadwalkan mengikuti kemah tersebut.
Peserta berasal dari kalangan Muslim, Hindu, Buddha, Kristiani, Jemaat Ahmadiyah, komunitas Baha’i, komunitas adat, serta sejumlah komunitas lokal lainnya.
Pada malam hari, peserta akan mengikuti pemutaran film bertema lingkungan, dilanjutkan refleksi dan diskusi bersama. Forum tersebut dirancang sebagai ruang perjumpaan yang lebih cair bagi peserta untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, sekaligus membicarakan persoalan lingkungan dari sudut pandang yang beragam.
Bagi Gusdurian Lombok Tengah, persoalan lingkungan menjadi salah satu isu yang dapat mempertemukan semua kelompok. Kerusakan alam, persoalan sampah hingga keberlangsungan sumber air tidak mengenal batas identitas maupun agama.
Selain Ahmad Jumaili, kegiatan ini juga melibatkan sejumlah penggerak Gusdurian Lombok Tengah, di antaranya Koordinator Sekolah Jagat Gusdurian, Sadip Indra, Hairul Fahmi.
Peluncuran Bank Sampah Selak Aik Akan Dibuka Langsung Bupati Lombok Tengah
Rangkaian Harlah Gus Dur berlanjut pada Minggu, 16 Agustus 2026. Pada hari kedua, Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri dijadwalkan hadir bersama sejumlah pejabat organisasi perangkat daerah, termasuk dari Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pariwisata.
Salah satu agenda utama adalah peluncuran bank sampah sebagai ikhtiar mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat di kawasan Selak Aik.
Peluncuran bank sampah akan dirangkaikan dengan pembagian bibit dan penanaman pohon bersama. Penanaman diarahkan terutama di kawasan resapan serta sekitar aliran sungai yang menjadi bagian penting dari ekosistem setempat.
Peserta dan masyarakat juga akan terlibat dalam aksi bersih-bersih sungai.
Lewat rangkaian itu, Gusdurian Lombok Tengah ingin membawa pembicaraan mengenai lingkungan keluar dari ruang diskusi. Kepedulian terhadap alam, menurut mereka, harus diterjemahkan menjadi gerakan bersama yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Pemilihan Selak Aik sebagai lokasi kegiatan pun tak lepas dari perhatian terhadap kawasan tersebut sebagai ruang hidup masyarakat sekaligus wilayah yang perlu dijaga keberlanjutan lingkungannya.
Harlah Gus Dur 2026 akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang sosok dan pemikiran Presiden ke-4 RI tersebut. Di Selak Aik, nilai-nilai Gus Dur coba dibumikan melalui perjumpaan orang-orang yang berbeda keyakinan, duduk dalam satu forum, bermalam dalam satu kemah, lalu turun bersama menjaga sungai dan menanam pohon.
Melalui perjumpaan ini, Gusdurian Lombok Tengah berharap tumbuh jejaring yang lebih kuat antara masyarakat, komunitas lintas iman dan pemerintah dalam merawat keberagaman sekaligus menjaga lingkungan sebagai rumah bersama.[]