
Rektor IAIQH Bagu dan Seknas GUSDURian Bakal Luncurkan Box Donasi Sampah dan Ekowisata Magot
LOMBOK TENGAH – Perayaan Harlah Gus Dur 2026 di Lombok Tengah tak berhenti pada perjumpaan lintas iman. Sejumlah gerakan lingkungan berbasis masyarakat juga disiapkan untuk diluncurkan dalam rangkaian kegiatan yang dipusatkan di Dusun Selak Aik, Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara.
Rektor Institut Agama Islam Qamarul Huda (IAIQH) Bagu, Dr. H. Muhammad Ahyar, M.Si., bersama perwakilan Sekretariat Nasional (Seknas) GUSDURian dijadwalkan meluncurkan Box Donasi Sampah, gerakan reboisasi, serta Ekowisata Magot dalam rangkaian Harlah Gus Dur 2026.
Tiga program tersebut menjadi bagian dari ikhtiar GUSDURian Lombok Tengah menerjemahkan nilai-nilai Gus Dur ke dalam gerakan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Isu keberagaman dan kerukunan lintas iman dipertemukan dengan persoalan lingkungan yang kini semakin terasa di tingkat lokal.
Box Donasi Sampah dirancang sebagai ruang partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah bernilai ekonomi. Sampah yang selama ini dibuang begitu saja dapat dipilah dan dikumpulkan melalui box yang disediakan. Gagasan itu diharapkan mengubah cara pandang masyarakat bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai limbah, tetapi dapat menjadi sumber manfaat sosial.
Sementara itu, gerakan reboisasi diarahkan untuk memperkuat kepedulian terhadap kawasan hijau, sumber mata air, dan ekosistem di sekitar Aik Berik yang berada di kawasan penyangga kaki Gunung Rinjani.
Isu lingkungan menjadi salah satu perhatian dalam Harlah Gus Dur tahun ini karena perubahan ekologi tak hanya berdampak pada alam, tetapi juga langsung menyentuh kehidupan masyarakat yang menggantungkan kebutuhan air, pertanian, dan mata pencaharian pada lingkungan sekitar.
Program lain yang bakal diperkenalkan adalah Ekowisata Magot. Program ini menggabungkan edukasi pengelolaan sampah organik dengan kegiatan ekonomi dan wisata berbasis lingkungan.
Melalui budidaya magot atau larva black soldier fly, limbah organik rumah tangga dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Model tersebut sekaligus diharapkan menjadi ruang belajar bagi masyarakat, pelajar, mahasiswa, komunitas, maupun pengunjung yang ingin mengetahui pengelolaan sampah organik secara sederhana.
Pengembangan Ekowisata Magot juga menjadi bagian dari pendampingan GUSDURian Lombok Tengah bersama masyarakat Selak Aik. Konsepnya tidak semata membangun tempat budidaya, tetapi menjadikannya ruang edukasi lingkungan yang dapat dikunjungi dan dikembangkan bersama masyarakat setempat.
Peluncuran program lingkungan itu akan menjadi salah satu agenda dalam rangkaian Harlah Gus Dur 2026 di Lombok Tengah, yang juga diisi dengan Kemah Keakraban Lintas Iman dan sejumlah kegiatan sosial serta lingkungan.
Sekitar 100 peserta dari berbagai komunitas dan latar belakang dijadwalkan mengikuti kemah lintas iman tersebut. Mereka akan bertemu, berdiskusi, dan terlibat dalam sejumlah kegiatan bersama di Aik Berik.
Pilihan menjadikan lingkungan sebagai salah satu tema utama Harlah Gus Dur bukan tanpa alasan. Bagi jaringan GUSDURian, kemanusiaan, keberagaman, dan kelestarian alam merupakan persoalan yang saling berhubungan. Kerukunan tidak hanya dibangun melalui dialog, tetapi juga lewat kerja bersama menghadapi persoalan yang menyentuh kehidupan semua orang.
Dari Selak Aik, Harlah Gus Dur tahun ini ingin membawa pesan sederhana: merawat warisan Gus Dur tak cukup dengan mengenangnya. Nilai-nilainya perlu diterjemahkan menjadi kerja nyata—merawat sesama sekaligus menjaga bumi tempat manusia hidup bersama.I