AgamaFeaturesHeadlineSesenggak SasakSosial

TUSELAK: Konstruksi Horor dalam Memori Kolektif Sasak

Kini, Tuselak mungkin telah benar-benar pensiun dari dunia malam yang nyata, namun jejak mereka tetap tertinggal sebagai artefak sosial yang menyimpan pesan moral tentang sisi buruk manusia. Apakah makhluk horor yang ultra rakus ini benar-benar telah meninggalkan panggung horornya di kultural masyarakat Sasak.

Dr. TGH. L. Faqih Saiful Hadie

Bagi masyarakat Sasak hingga dekade 90-an, Tuselak adalah realitas sosiologis yang mengerikan, bukan sekadar dongeng. Secara etimologis, Tuselak adalah bahasa Sasak yang berasal dari kata Tau (manusia) dan Selak (sangat rakus). Ia adalah manusia yang terjebak dalam pusaran kutukan yang kemudian mengubahnya menjadi makhluk nokturnal yang sangat rakus, pemburu dan penggemar hal-hal yang menjijikkan.

Sebagai padanan dari Leak di Bali, Tuselak dipahami sebagai entitas hibrid, ia adalah manusia biasa yang terikat kontrak dengan ilmu hitam, yang memungkinkannya melampaui batas-batas fisik melalui proses metamorfosis yang mengerikan. Salah satu ​objek paling menonjol dari Tuselak adalah kemampuan trans-mutasi fisiknya. Mereka diyakini mampu mengubah bentuk menjadi binatang apa saja, atau menjadi sosok horor yang meminum darah, memakan ari-ari bayi, bahkan kotoran manusia sebagai penopang kekuatan mistisnya.

Detail yang paling ikonik dalam memori kolektif masyarakat Sasak di Lombok adalah cahaya di kening Tuselak yang menyerupai kunang-kunang. Cahaya redup ini merupakan manifestasi dari ramuan khusus—sering kali diidentifikasi sebagai minyak selak—yang tidak hanya berfungsi sebagai penanda eksistensi mereka di kegelapan malam.​ Lebih dari itu, cahaya tersebut merupakan bagian dari sistem navigasi supranatural saat mereka terbang di ketinggian.

Dalam kecepatan dan sunyinya malam, cahaya ini bekerja layaknya sensor yang memandu arah, membantu mereka mendeteksi rintangan fisik maupun frekuensi energi calon mangsa di bawahnya. Dengan navigasi ini, Tuselak mampu bermanuver dengan presisi di antara pepohonan atau atap rumah penduduk tanpa kehilangan orientasi di tengah pekatnya langit Lombok

​Kehidupan Tuselak dibelah oleh dua dunia yang sangat kontras, siang yang normal dan malam yang abnormal. Pada siang hari, mereka adalah bagian dari struktur sosial, bisa jadi seorang gadis cantik yang pemalu, pemuda pekerja keras, atau seorang kakek nenek yang ramah, tanpa ciri fisik yang mencolok. Rahasia ini menciptakan atmosfer kecurigaan yang permanen di kalangan masyarakat Lombok kala itu. Ketidakmampuan masyarakat untuk mengidentifikasi mereka secara visual pada siang hari melahirkan sistem proteksi sosial dalam bentuk pengucilan bagi siapa pun yang “tercium” memiliki silsilah ilmu hitam tersebut.

​Aspek keturunan atau genetika menjadi poin krusial dalam eksistensi mereka. Dalam pandangan masyarakat Sasak, ilmu selak tidak hanya dipelajari, tetapi juga diwariskan melalui garis darah. Hal ini menciptakan stigma turun-temurun yang mempengaruhi struktur pernikahan dan interaksi sosial. Menghindari jodoh dari keturunan Tuselak bukan hanya soal menjaga keselamatan fisik, melainkan upaya menjaga keturunan dan kemurnian spiritual sebuah keluarga agar tidak tercemar oleh “penyakit” gaib yang dianggap memalukan dan berbahaya bagi tatanan norma masyarakat.

​Diskusi tentang Tuselak ini akan mencapai titik paling menarik pada momen yang disebut sangkep (kumpul) . Ini adalah saat di mana para Tuselak berkumpul di tempat-tempat tertentu seperti kuburan atau rimbun pohon besar untuk melakukan-mungkin-ritual kolektif yang diorkestrasi oleh seorang “Datu” atau pemimpin dalam komunitas mereka. Bagi warga yang memiliki nyali ekstra, pemandangan sangkep ini ibarat pertunjukan cahaya kunang-kunang yang berseliweran di kegelapan, sebuah orkestra horor yang estetik namun mengerikan. Dus, sangkep menjadi bukti bahwa kekuatan gelap ini memiliki struktur organisasi tersendiri, sebuah kerajaan bayangan yang beroperasi di luar nalar manusia normal.

​Namun, memasuki milenium baru, eksistensi mereka perlahan memudar dan hampir lenyap dari perbincangan harian. Modernisasi, penguatan nilai-nilai religius, hingga perubahan pola pikir dan kehidupan masyarakat agraris menjadi industrial-informasional ditengarai menjadi penyebabnya. Selain itu, ada sebuah ironi besar, panggung horor yang dulu mereka kuasai secara eksklusif kini telah beralih ke layar-layar filem dan media sosial. Ketakutan manusia masa kini tidak lagi berakar pada cahaya di kening yang terbang dari satu pohon ke pohon lain, tapi pada simulasi horor buatan manusia yang jauh lebih visual dan bombastis.

Kini, Tuselak mungkin telah benar-benar pensiun dari dunia malam yang nyata, namun jejak mereka tetap tertinggal sebagai artefak sosial yang menyimpan pesan moral tentang sisi buruk manusia. Apakah makhluk horor yang ultra rakus ini benar-benar telah meninggalkan panggung horornya karena cahaya lampu jalanan yang kini terlalu terang benderang, ataukah karena panggung mereka telah disabotase oleh filem dan media sosial, atau mungkin mereka telah bermetamorfosis total menjadi entitas yang tampak keren dan terhormat, yang tidak lagi terbang dari satu pohon ke pohon lain, tapi dari satu meja biro ke meja biro yang lain dalam ruang-ruang biro-krasi yang wangi dan nyaman itu? Hmmm, bisa jadi.[]

PENULIS :

Dr. TGH. L. Faqih Saiful Hadie adalah Dosen dan Ketua Ikatan Sarjana NU Kabupaten Lombok Tengah NTB

Adsvertise
Selengkapnya
Back to top button