
Terbatas Bukan Berarti Terhenti: Kisah Inspiratif Lia Septiani, Santriwati Sirajul Huda Yang Kini di Taiwan
Lombok Tengah — Lia Septiani, seorang siswi asal Desa Kerembong, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, menulis cerita hidup yang menginspirasi banyak orang di akunnya di Facebook. Anak dari keluarga kurang mampu ini kini menginjakkan kakinya di Taiwan, bukan untuk berlibur, melainkan menjalani masa magang di Kaishen Starlight Hotel— sebuah pencapaian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Perjalanan Lia menuju Taiwan bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Berbekal tekad kuat dan keyakinan diri, ia melawan pesimisme orang tuanya yang awalnya tidak sanggup membiayainya sekolah. “Awalnya orang tua saya tidak yakin saya bisa melanjutkan sampai kuliah, tapi saya percaya, kalau saya sungguh-sunggu pasti ada jalan,” tutur Lia.
Lia adalah alumni SMK Islam Sirajul Huda yang berada dibawah binaan Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda Paok Dandak, Desa Durian, Kecamatan Janapria. Lingkungan pesantren yang suportif telah menjadi batu loncatan penting bagi dirinya terutama dalam membentuk kepercayaan diri. Salah satu program yang sangat membekas baginya adalah English Camp, program unggulan pesantren ini yang memperkuat kemampuan bahasa Inggris para santri sejak masuk.
“Dari English Camp itulah saya mulai belajar dan berani bermimpi. Tidak hanya belajar bahasa Inggris, tapi saya demikian termotivasi dan membangkitkan semangat saya untuk maju terus,” kenangnya.
Keberaniannya untuk kuliah juga di motivasi oleh para ustadz di Pondok, terlebih lagi banyak kakak-kakak kelasnya yang juga dalam kondisi ekonomi yang serupa mampu kuliah. Karenanya, dengan uang tabungan sendiri, Lia memberanikan diri mendaftar kuliah di Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok di Praya. Tak berhenti di situ, beberapa bulan setelah resmi menjadi mahasiswa, ia berpartisipasi dalam ajang Duta Bahasa NTB 2024 yang diadakan oleh Lembaga Bahasa di Mataram. Berkat kemampuan bahasa Inggris yang ia dapatkan di Pondok lia berhasil menjadi finalis tahun 2024.
Keberhasilannya ini membuka jalan bagi Lia. Lalu dengan penuh keyakinan ia-pun mencoba mengikuti seleksi mahasiswa berprestasi untuk magang ke luar negeri yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Hasilnya? Lia berhasil lolos dan kini menjalani magang profesional di Taiwan.
Karena itu, Lia menyampaikan pesan kepada teman-temannya, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu:
“Walaupun saya sekolah di kampung, saya merasakan betul kami tidak kalah bersaing dengan sekolah-sekolah di kota. Yang penting yakin, berusaha, dan jangan ragu untuk masuk pesantren. Karena di pesantren, kita dibekali dunia dan akhirat.”
Lia juga menegaskan bahwa peran para ustadz dan lingkungan pondok sangat besar dalam membentuk karakter dan semangatnya. Ia adalah bukti nyata bahwa santri zaman sekarang bukan hanya bisa baca kitab, tapi juga bisa bersaing secara global. []