FeaturesHeadlineLingkunganLombok TengahPendidikan

Menuju Festival JAGAT, GUSDURian Lombok Tengah Mulai Gerakan Go Green dari Pesantren

LOMBOK TENGAH — Menjelang Festival JAGAT yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur, 27 Agustus 2026, GUSDURian Lombok Tengah mulai membawa isu lingkungan masuk lebih dekat ke kehidupan pesantren.

Gerakan itu dimulai melalui program “GUSDURian Road to Pesantren: Go Green!”, sebuah agenda kunjungan ke pondok pesantren untuk mengajak pengelola, guru, dan para santri terlibat dalam pengelolaan sampah serta menjaga kelestarian lingkungan.

Pondok Pesantren Sirajul Huda di Dusun Paok Dandak, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, dipilih menjadi lokasi pertama program tersebut.

Kegiatan perdana dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026, di Aula SMK Islam Sirajul Huda Paok Dandak. Para santri dan guru akan mengikuti workshop pengelolaan sampah organik, pembuatan pupuk organik cair, hingga budidaya maggot.

Wakil Kepala SMK Islam Sirajul Huda, Supriadi, S.Pd., menyambut baik program tersebut. Menurut dia, pelatihan pengelolaan sampah sangat relevan dengan kebutuhan pesantren, terlebih SMK Islam Sirajul Huda memiliki kompetensi keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura.

“Di SMK kami ada jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura. Mereka selama ini belajar teori pembuatan pupuk, tetapi memang belum banyak belajar bagaimana pengelolaan sampah yang baik,” kata Supriadi.

Karena itu, ia berharap workshop tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat melahirkan praktik pengelolaan sampah yang bisa diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan pesantren.

“Workshop ini akan sangat penting, baik untuk yayasan maupun seluruh civitas pesantren. Harapannya setelah pelatihan, santri dan siswa bisa mulai mengelola sampah organik yang mereka hasilkan sendiri,” ujarnya.

Sirajul Huda Jadi Titik Awal

Koordinator Program JAGAT GUSDURian Lombok Tengah, Muhammad Fahmi, mengatakan Pondok Pesantren Sirajul Huda akan menjadi salah satu titik awal untuk melihat bagaimana model pengelolaan sampah dapat diterapkan di lingkungan pesantren.

Menurut Fahmi, lembaga pendidikan dengan jumlah santri dan siswa yang besar juga menghasilkan sampah dalam jumlah yang tidak sedikit setiap harinya. Karena itu, pesantren memiliki posisi strategis untuk membangun kebiasaan baru dalam memperlakukan sampah.

“Pondok Pesantren Sirajul Huda akan menjadi baseline kita dalam pengelolaan sampah di lingkungan pondok pesantren. Kita punya agenda untuk menyasar pesantren-pesantren karena lembaga pendidikan dan pondok pesantren merupakan salah satu produsen sampah yang cukup besar,” kata Fahmi saat ditemui Qolama.com.

Menurut dia, persoalannya bukan hanya bagaimana sampah dibuang, tetapi bagaimana sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat.

Sampah organik, misalnya, bisa diolah menjadi pupuk cair, kompos, maupun dimanfaatkan dalam budidaya maggot. Selain membantu mengurangi timbunan sampah, pengelolaan tersebut juga berpotensi memiliki nilai ekonomi bagi pesantren.

“Kalau sampah bisa diolah menjadi pupuk, manfaatnya sangat besar. Pupuk dibutuhkan masyarakat, baik pupuk cair maupun pupuk organik biasa. Sejumlah pesantren di Jawa sudah lama menerapkan model seperti ini,” ujarnya.

Fahmi mengatakan GUSDURian Lombok Tengah ingin memulai gerakan tersebut secara bertahap.

“Di Lombok Tengah insyaallah kita akan memulainya. Tidak harus langsung besar. Kita mulai dari yang kecil dulu, lalu kita lihat bagaimana praktiknya bisa terus berkembang,” katanya.

Libatkan Jejaring Gusdurian MAPASMA STITNU Al Mahsuni Lombok Timur 

Dalam workshop di Pondok Pesantren Sirajul Huda, GUSDURian Lombok Tengah akan melibatkan jejaring Gusdurian Lombok Tengah yaitu mahasiswa pecinta alam MAPASMA STITNU Al Mahsuni Lombok Timur sebagai fasilitator dan pemateri.

Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai persoalan sampah, tetapi juga akan diajak melihat dan mempraktikkan secara langsung proses pengolahan sampah organik, pembuatan pupuk cair, hingga budidaya maggot.

Model pelatihan praktis tersebut diharapkan membuat santri tidak sekadar memahami persoalan lingkungan secara teoritis, tetapi mampu memulainya dari lingkungan terdekat mereka: asrama, sekolah, dapur, halaman, dan aktivitas sehari-hari di pesantren.

Program GUSDURian Road to Pesantren: Go Green! juga menjadi bagian dari rangkaian persiapan GUSDURian Lombok Tengah menuju Festival JAGAT GUSDURian 2026 yang akan berlangsung di Jombang, Jawa Timur, pada 27 Agustus mendatang.

Dua orang akan mewakili GUSDURian Lombok Tengah dalam agenda tersebut, yakni Koordinator GUSDURian Lombok Tengah Ahmad Jumaili dan Koordinator Program JAGAT Muhammad Fahmi.[]

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button