
Di hadapan Umar dan para sahabat, Hormuz melepaskan keangkuhannya. Ia menyadari bahwa kemenangan Islam bukan karena jumlah pasukan, melainkan karena kebenaran yang mereka bawa. Dengan suara lantang di tengah kesederhanaan kota Madinah, Hormuz bersyahadat, memilih untuk meninggalkan kemegahan api demi cahaya iman.
L. Faqih Saiful Hadie
Bangsa Persia, yang hari ini kita kenal sebagai leluhur agung bangsa Iran, bukan sekedar sebuah peradaban kuno, melainkan embrio dari kemegahan administratif dan militer dunia. Berasal dari dataran tinggi Fars (Barat Daya Iran), mereka bertransformasi dari suku nomaden menjadi penguasa tiga benua di bawah panji Kekaisaran Akhemeniyah (Achaemenids). Kejayaan ini bukan sekedar tentang luas wilayah, melainkan tentang bagaimana mereka membangun infrastruktur seperti Royal Road dan sistem satrap yang memungkinkan pesan tersampaikan dari ujung barat ke ujung timur dalam hitungan hari, sebuah keajaiban logistik di zamannya.
Puncak kejayaan bangsa ini dipahat dengan pedang oleh sosok legendaris, Koresh Agung (Cyrus the Great). Ia adalah arsitek kekaisaran yang tak hanya menaklukkan Medes dan Lidia, tetapi juga memenangkan hati rakyat yang dijajahnya melalui Dekrit Koresh yang menjunjung hak asasi manusia. Di bawah kepemimpinannya, Persia memenangkan perang besar melawan Kekaisaran Babilonia Baru. Koresh masuk ke gerbang Babilonia tanpa pertumpahan darah yang berarti, sebuah kemenangan moral dan militer yang membebaskan bangsa Yahudi dari pembuangan dan menetapkan Persia sebagai standar baru kepemimpinan dunia.
Tongkat estafet kekuasaan kemudian dilanjutkan oleh Darius Agung, sang organisator ulung yang memperluas jangkauan Persia hingga ke Lembah Indus. Di bawah komando jenderal-jenderal tangguh dan pasukan elit The Immortals, Persia mendominasi medan laga di Timur Tengah. Meskipun mereka menghadapi perlawanan sengit dalam Perang Yunani-Persia, kemenangan di Pertempuran Thermopylae (di bawah Xerxes I) tetap menjadi bukti betapa hebatnya kekuatan militer mereka. Bahkan setelah keruntuhan Akhemeniyah, semangat Persia bangkit kembali melalui Kekaisaran Sasaniyah yang menjadi rival terberat Romawi dan Bizantium, berabad-abad lamanya.
Salah satu kemenangan paling spektakuler dalam sejarah Sasaniyah terjadi di bawah pimpinan Syahansyah Shapur I. Dalam Pertempuran Edessa, Persia tidak hanya memenangkan peperangan, tetapi juga berhasil menangkap Kaisar Romawi, Valerianus, hidup-hidup, sebuah penghinaan yang belum pernah dirasakan Romawi sebelumnya. Di masa ini, panglima perang seperti Surenas (yang menghancurkan pasukan Crassus di Carrhae) menjadi simbol tak terkalahkan dari kavaleri berat Cataphract Persia yang mampu menerjang formasi infantri sekuat apa pun.
Namun, roda zaman terus berputar, dan kelelahan akibat perang berkepanjangan dengan Bizantium mulai menggerogoti sendi-sendi kejayaan Sasaniyah. Di ufuk timur, sebuah kekuatan baru muncul dari gurun pasir Arabia dengan semangat tauhid yang membara. Kekaisaran Persia yang megah mulai goyah ketika pasukan Muslim di bawah komando pedang Allah, Khalid bin Walid, mulai mengetuk pintu-pintu perbatasan mereka. Pertempuran demi pertempuran pecah, menandai berakhirnya era Api Zoroaster dan dimulainya fajar baru di tanah Iran.
Penaklukan Persia mencapai puncaknya pada masa Khalifah Umar bin Khattab, dengan Sa’ad bin Abi Waqqas sebagai panglima tertinggi. Pertempuran al-Qadisiyyah menjadi titik balik dramatis di mana gajah-gajah perang Persia tak lagi mampu membendung deru kavaleri Muslim yang amat lincah dengan pedang khanjar di tangan. Di sinilah, struktur feodal dan kemegahan istana Ctesiphon mulai runtuh, bukan hanya karena kalah secara fisik, melainkan karena pesan kesetaraan yang dibawa oleh Islam mulai merasap ke dalam sanubari rakyat jelata Persia yang selama ini terbebani oleh sistem kasta.
Di tengah hiruk-pikuk keruntuhan imperium ini, terselip sebuah kisah epik tentang Hormuz (Hormuzan), seorang jenderal besar dan penguasa wilayah Ahvaz yang sangat ditakuti. Jenderal Hormuz adalah simbol perlawanan terakhir Sasaniyah, ia adalah pejuang yang cerdik dan gigih yang berkali-kali merepotkan barisan tentara Muslim. Namun, setelah pengepungan benteng Shushtar yang melelahkan, Jenderal perkasa ini akhirnya tertangkap dan dibawa sebagai tawanan perang menuju Madinah untuk menghadap Khalifah Umar bin Khattab dalam keadaan mengenakan mahkota dan jubah kebesarannya yang bertahtakan permata.
Pertemuan di Madinah itu menjadi panggung bagi sebuah drama spiritual yang luar biasa. Hormuz, jenderal yang terbiasa dengan kemewahan istana, tertegun melihat sang Khalifah sedang tidur di atas tanah berbantalkan lengan, tanpa pengawal. Saat akan dieksekusi, Hormuz meminta seteguk air. Dengan tangan gemetar, ia berkata bahwa ia takut akan dibunuh sebelum sempat meminum air tersebut. Umar menjamin keselamatannya dengan berkata: “Engkau tidak akan disentuh (dibunuh) sampai engkau meminum air ini.”
Dengan kecerdikan yang luar biasa, Hormuz segera menumpahkan air tersebut ke tanah. Sesuai janji Umar bahwa ia tidak akan dibunuh sebelum meminum air itu, sedangkan airnya sudah tumpah dan tak mungkin diminum, maka secara hukum Islam, nyawanya harus dilindungi. Umar terenyuh melihat kecerdasan sang jenderal, namun yang lebih menyentuh hati Hormuz adalah keadilan dan kesederhanaan sang Khalifah yang belum pernah ia temui pada raja-raja Persia mana pun.
Di hadapan Umar dan para sahabat, Hormuz melepaskan keangkuhannya. Ia menyadari bahwa kemenangan Islam bukan karena jumlah pasukan, melainkan karena kebenaran yang mereka bawa. Dengan suara lantang di tengah kesederhanaan kota Madinah, Hormuz bersyahadat, memilih untuk meninggalkan kemegahan api demi cahaya iman. Jenderal besar Persia itu pun bertransformasi dari musuh bebuyutan menjadi penasihat terpercaya Khalifah, menandai sebuah babak di mana kejayaan Persia tidak benar-benar hilang, melainkan melebur dan memperkaya peradaban Islam dengan intelektualitas dan kebudayaanya yang tinggi.
Bahan Bacaan :
Axworthy, Michael. A History of Iran: Empire of the Mind. Joesoef Sou’yb. Sejarah Daulat Khulafaurrasyidin. Al-Tabari. (Berbagai edisi). The History of al-Tabari (Ta’rikh al-Rusul wa al-Muluk). Donner, Fred M. The Early Islamic Conquests. Kennedy, Hugh.The Great Arab Conquests: How the Spread of Islam Changed the World We Live In. Haekal, Muhammad Husain. Al-Faruq Umar.