HeadlineTekhnologi

Ahmad Suaedy: Teknologi dan Inovasi Harus Berlandaskan Spiritualitas

Sebut Masa Depan UNU NTB Menjanjikan, Dorong Riset Mendalam tentang Kebudayaan Sasak

Mataram — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. KH. Ahmad Suaedy, mendorong Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) mengembangkan teknologi dan inovasi dengan menjadikan spiritualitas sebagai landasan utama.

Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Pendampingan dan Penguatan Sumber Daya Manusia UNU NTB yang berlangsung di Ballroom ATQIA UNU NTB, Senin, 13 Juli 2026.

Ahmad Suaedy menilai UNU NTB mempunyai masa depan yang sangat menjanjikan. Menurutnya, berbagai negara seperti Korea Selatan, China, Iran, dan negara-negara Eropa kini memberikan perhatian serius terhadap pengembangan mahasiswa dan sumber daya manusia.

“Masa depan UNU NTB luar biasa ke depan,” ujar Ahmad Suaedy.

Perkembangan global tersebut harus dibaca sebagai peluang bagi UNU NTB untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat penelitian, serta mempersiapkan mahasiswa menghadapi perubahan dunia.

Dorong Penelitian Budaya Sasak

Ahmad Suaedy meminta dosen dan mahasiswa agar tidak mempelajari suatu disiplin ilmu secara sempit. Setiap bidang keilmuan perlu dikembangkan secara lebih komprehensif dan dihubungkan dengan realitas yang dihadapi masyarakat.

Ia mencontohkan pentingnya melakukan penelitian mendalam mengenai kebudayaan Sasak. Sebagai perguruan tinggi yang berada di NTB, UNU NTB memiliki posisi strategis untuk mengembangkan kajian tentang masyarakat, agama, tradisi, sejarah, dan kebudayaan lokal.

“Setiap ilmu yang didalami hendaknya dikembangkan secara lebih komprehensif. Misalnya, melakukan penelitian tentang budaya Sasak,” katanya.

Hasil penelitian tersebut diharapkan tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah.

Inovasi Harus Ditopang Riset Mendalam

Ahmad Suaedy juga menyoroti kebijakan pemerintah yang saat ini banyak mendorong lahirnya inovasi. Menurutnya, dorongan tersebut harus diikuti dengan penguatan budaya penelitian di lingkungan perguruan tinggi.

Tanpa riset yang mendalam, inovasi berisiko hanya mengikuti tren dan tidak menyentuh persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat.

Oleh karena itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan produk yang disebut inovatif. Kampus harus memastikan setiap inovasi dibangun berdasarkan penelitian yang serius, sistematis, dan berkelanjutan.

Agama Semakin Mendapatkan Tempat

Dalam pemaparannya, Ahmad Suaedy turut membahas hubungan antara perkembangan ilmu pengetahuan dan agama.

Menurutnya, dahulu terdapat anggapan bahwa semakin maju ilmu pengetahuan, agama dan spiritualitas akan semakin kehilangan tempat. Namun, fenomena yang terjadi saat ini justru menunjukkan arah sebaliknya.

“Dahulu ada kecenderungan bahwa semakin berkembang ilmu pengetahuan, agama akan semakin surut. Tetapi fenomena yang terjadi sekarang justru agama semakin memperoleh tempat di ruang publik,” jelasnya.

Kecenderungan serupa, lanjutnya, pernah muncul dalam pembicaraan mengenai hak asasi manusia. Dahulu, penerapan HAM seolah-olah menuntut manusia meninggalkan agama. Kini, agama dan spiritualitas justru dapat menjadi sumber nilai dalam memperkuat penghormatan terhadap kemanusiaan.

Karena itu, persoalan yang perlu dijawab saat ini bukan lagi apakah agama masih dibutuhkan, melainkan bentuk agama dan spiritualitas seperti apa yang akan dikembangkan.

“Masalahnya sekarang adalah spiritualitas dan agama seperti apa yang akan kita kembangkan,” tegasnya.

Belajar dari Perkembangan China

Ahmad Suaedy kemudian mencontohkan perkembangan China. Menurut pengamatannya, China pernah mengambil sikap keras terhadap agama pada masa Mao Zedong. Namun, pada era Deng Xiaoping, ruang bagi kehidupan beragama dan spiritualitas mulai berkembang kembali.

China kemudian dinilai mampu mempertemukan kemajuan teknologi dan inovasi dengan nilai-nilai spiritualitas yang hidup dalam masyarakatnya.

Nilai-nilai Konfusianisme, menurutnya, menjadi salah satu landasan penting dalam perkembangan teknologi dan inovasi China. Fenomena tersebut membantah pandangan bahwa agama, spiritualitas, dan teknologi harus selalu berbenturan.

“China berhasil menggabungkan inovasi dengan nilai-nilai agama dalam satu napas. Hal ini membantah anggapan bahwa agama dan teknologi selalu bertentangan,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung cara memahami demokrasi dalam sistem politik. Menurut Ahmad Suaedy, keberadaan banyak partai tidak secara otomatis membuat sebuah negara demokratis. Sebaliknya, sistem satu partai juga tidak dapat langsung dinilai tidak demokratis tanpa melihat bagaimana keadilan dan kepentingan masyarakat dijalankan.

“Multipartai tidak selalu demokratis. Partai tunggal juga tidak selalu berarti tidak demokratis,” katanya.

Tujuan Akhir Teknologi adalah Keadilan

Ahmad Suaedy menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh hanya diukur dari kecanggihan perangkat atau produk yang dihasilkan.

Teknologi harus diarahkan untuk memperbaiki kehidupan manusia, mengurangi kesenjangan, dan menciptakan keadilan. Pendekatan spiritual diperlukan agar perkembangan teknologi tetap memiliki orientasi moral dan kemanusiaan.

“Pada akhirnya, hasil dari perkembangan teknologi itu haruslah keadilan,” tegasnya.

Ia pun menutup pemaparannya dengan mengajak seluruh sivitas akademika UNU NTB membangun teknologi dan inovasi yang tidak tercerabut dari nilai-nilai spiritualitas.

“Kesimpulan saya, saya mendorong kita semua berusaha membangun teknologi dan inovasi dengan menjadikan spiritualitas sebagai landasan utama,” pungkas Ahmad Suaedy.

Adsvertise
Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button