HeadlineIqro'Resensi

Dibalik Penerbitan Buku “Membangun Inklusi, Gerakan, Kontestasi dan Tradisi

Buku ini adalah salah satu langkah nyata untuk merawat karakter bangsa kita yang plural dan religius

Alamsyah M Dja’far

Menerbitkan buku lebih baik dari tidak menerbitkannya. Gagasan dan pikiran yang baik adalah yang didokumentasikan. Tanpa dokumen, semuanya hanya melayang-layang di pikiran atau dibicarakan dari mulut ke mulut. Mungkin itu yang dipikirkan Mas Ridwan Al-Makassary ketika ia mengusulkan agar kami menyusun buku pascapelatihan inklusi tahun lalu. Tahun lalu, sebagai dosen ia mengajak kami mengembangkan program pengabdian masyarakat dalam bentuk pelatihan.

Sebagai sesama penulis, saya berpikiran serupa. Menulis dan menerbitkannya lebih baik dari pada omon-omon saja. Jika Anda penulis seperti kami, paling tidak kelak akan ditemui pengalaman ini. Saat membaca lagi tulisan lama yang terserak, Anda terkejut bagai seseorang yang tiba-tiba saja dipanggil Presiden dan ditawarkan jabatan menteri atau staf khusus. Saya pernah membaca tulisan lama dan tersenyum-senyum sebab membayangkan betapa kenesnya tulisan itu. Pernah juga saya kagum karena ternyata bisa menulis seluwes dan sebagus itu – tentu dari kacamata diri sendiri.

Begitulah yang saya rasakan setelah membaca tulisan pengantar pada buku berjudul Membangun inklusi: Gerakan, Kontestasi, dan Tradisi. Setelah diperiksa, tulisan ini kenes, genit sekali, tapi dalam banyak hal sangat diperlukan demi mencari perhatian. Coba dengarkan kalimat pembukanya. “Ketika sebuah perkara bergerak ke level global, di saat bersamaan ia bergerak – dan menyimpan sesuatu—ke arah sebaliknya: perkara-perkara lokal. Dua arah ini mengingatkan kita pada percakapan tentang globalisasi dan glokalisasi.”

Agar seolah-olah mentereng, kami tambahkan satu istilah yang kami comot dari bahan bacaan agar pembaca perlu menenggak Bodrex untuk bisa memahaminya: grobalization sebuah fenomena yang berfokus pada ambisi negara, perusahaan, organisasi, dan entitas lain yang menginginkan dan untuk memaksakan diri di berbagai wilayah geografis. Judulnya juga kami buat ringkas yang mungkin dipadu dengan ketidakjelasan di satu sisi dan kerumitan di sisi lain. Membangun Inklusi: Gerakan, Kontestasi, dan Tradisi. Bayangkan ada berapa kata kunci yang kami angkat?

Agar bisa punya pembaca lebih luas, buku ini sebetulnya didesain dengan bahasa popular yang bertutur. Karena itu kami berusaha menyunting tulisan yang akademis menjadi lebih cair. Tapi, kami berpikir jangan-jangan kalau hanya popular, akan dianggap kurang ilmiah. Maka kami mencampurkan “unsur ilmiah-akademis” –seberapa pun tidak jelasnya istilah itu—ke dalam tulisan-tulisan yang ada.

Kami bersyukur sebab teman-teman yang tak ikut pelatihan yang kami tawarkan menulis bersedia. Saya menghubungi Libasut Taqwa, Mukhlisin, Ngasiran, Yusuf Tantowi, Nurhidayat, dan Fahmi Syahirul Alim. Tim lain Mbak Slyvi dan Wulan –dua teman mahasiswa UIII– termasuk Mas Ridwan menghubungi teman-teman lain jaringan mereka. Sebagian mereka menangkap gaya yang perlu ada dalam tulisan dan membuat tim penyunting lebih ringan dalam bekerja. Pengalaman-pengalaman lapangan mereka amat menarik dan penting.

Beruntung sekali, lobi Mas Ridwan pada Mas Syafiq Hasim berhasil. Mungkin pengaruh amalan-amalan tertentu. Siapa tahu? Buku ini diterbitkan UIII Pers setelah melewati ulasan dua pengulas yang namanya disembunyikan. Kalimat penguat dalam buku seringkali menawarkan kejujuran, kejelian, kegenitan, bahkan pelebihan-pelebihan dari kenyataan. Tapi karena itulah menjadi salah satu redaksi paling menarik buat saya. Coba dengarkan kalimat ini: buku ini adalah salah satu langkah nyata untuk merawat karakter bangsa kita yang plural dan religius.[]

Adsvertise
Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button