HeadlineKesehatanLife StyleLingkungan

FMI Siapkankan Protokol Pendakian, Jika Dibuka Pada Masa Covid-19.

MATARAM – QOLAMA. COM | Pengurus Besar (PB) Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) mengatakan, jika pemerintah membuka kembali pendakian gunung di tengah pandemi covid-19, menyusul diberlakukannya kehidupan normal baru atau new normal, pihaknya telah menyiapkan aturan tatacara pendakian.

“Pandemi COVID-19 dengan penularan yang begitu cepat, tentu berimbas juga pada aktivitas mendaki gunung. Menyikapi kondisi ini pendaki gunung dan pengelola kawasan pendakian harus ekstra hati-hati dalam hal memastikan aspek kesehatan, keselamatan dan keamanan terkait aktivitas mendaki gunung,” kata Ketua PB FMI, Rahmat Abas melalui siaran persnya, Senin 15 Juni 2020.

Sebagaimana diketahui, hingga kini, sudah tiga bulan, berbagai destinasi wisata alam, termasuk pendakian gunung ditutup dari aktivitas kunjungan wisata. Guna mencegah penyebaran COVID-19.

Jumlah korban positif per harinya yang terkonfirmasi positif COVID-19 masih terbilang tinggi di Indonesia. Pandemi COVID-19 telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat dunia. Termasuk di Indonesia.

“Semua aspek mengalami perubahan dan pergeseran. Tidak terkecuali pendakian gunung. Sangat berhati-hati sekali. Dalam hal adaptasi pola perilaku baru dalam melakukan kegiatan mendaki gunung oleh masyarakat dan dalam penyelenggaraan pendakian gunung oleh pengelola kawasan” katanya.

Meski demikan Abas berharap, pandemi COVID-19 adalah momentum tepat bagi pendaki gunung untuk sejenak memikirkan dan merenung secara jernih terkait aspek kesehatan, keselamatan dan keamanan kegiatan mendaki gunung.

Keterbatasan dalam aktivitas mendaki gunung pada saat ini (misalnya karena gunung di tutup, pembatasan pergerakan orang, pencegahan penularan COVID-19 dan lain-lain), seharusnya membuat pendaki gunung dapat berfikir kembali, untuk dapat melakukan kegiatan mendaki gunung yang sehat, selamat dan aman.

Sebagai pendaki gunung, tentu tetap ingin mendaki. Namun, di sisi lain, pengelola kawasan, tentunya juga ingin terjamin kesehatan, keselamatan dan keamanan dalam penyelenggaraan kegiatan pendakian gunung.

“Kedua sisi ini harus dapat dipertemukan untuk mencapai win-win solution. Solusi yang efektif, tentu adalah adanya suatu panduan atau protokol mendaki gunung yang sehat (bersih), aman dan menjamin keselamatan seluruh pihak terkait” katanya.

Sehingga sangat penting adanya panduan atau protokol yang bersifat ‘khusus’, yang mengatur aktivitas mendaki gunung di masa pandemi COVID-19. Di mana nantinya, protokol tersebut, dapat dijadikan acuan bagi pendaki gunung, pengelola kawasan maupun stakeholder lain yang terkait dengan aktivitas mendaki gunung, seperti: masyarakat sekitar gunung, gugus tugas COVID-19, BASARNAS – terkait pertolongan dan pencarian jika ada kasus pendaki hilang dan lain-lain.

FMI, selaku organisasi masyarakat yang mewadahi pendaki gunung, memiliki kewajiban dan tanggungjawab moral untuk menjamin kesehatan, keselamatan, dan keamanan pendaki gunung, pengelola kawasan dan pihak terkait lainnya.

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Cek juga
Close
Back to top button