
Seratus anak muda dari beragam latar agama dan komunitas menginap bersama di Selak Aik. Mereka menonton film, berbicara tentang Tuhan dan kerusakan alam hingga malam, lalu turun ke sungai pada pagi hari untuk menanam pohon. Dari sebuah kemah sederhana, GUSDURian Lombok Tengah mencoba merajut toleransi dengan gerakan ekologis yang lebih panjang.
Menjelang pukul empat sore, satu per satu peserta mulai memasuki kawasan Selak Aik, Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah. Mereka datang dari tempat dan komunitas yang berbeda-beda. Ada mahasiswa B3KL IAIQH Qomarul Huda Bagu, Mapasma STITNU, Generasi Muda Buddhis, Pemuda Ahmadiyah, anggota Pokdarwis Selak Aik, hingga warga setempat.
Di meja registrasi, perbedaan identitas itu dicatat sekadarnya. Setelahnya, mereka melebur sebagai peserta Kemah Keakraban Lintas Iman dalam rangka Harlah Gus Dur 2026.
Sekitar 100 orang hadir.
Kemah itu diselenggarakan GUSDURian Lombok Tengah bersama B3KL IAIQH Qomarul Huda Bagu, Mapasma STITNU, dan Pokdarwis Selak Aik. Tetapi sejak awal, agenda yang dibawa melampaui sekadar pertemuan lintas iman.
Yang hendak dibicarakan malam itu adalah sesuatu yang justru paling dekat dengan semua orang: bumi tempat mereka hidup.
Selepas Magrib, peserta berkumpul untuk menonton film dokumenter “Agama Jaga Bumi” produksi Djogja Lebih Bike. Film itu menjadi semacam pintu masuk. Dari layar, percakapan bergerak ke soal hutan, air, sampah, perilaku manusia, hingga pertanyaan lama yang kerap muncul dalam pembicaraan keagamaan: apa arti iman ketika alam di sekitar terus mengalami kerusakan?
Di antara peserta malam itu hadir Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Lombok Tengah TGH. Lalu Mala Syar’i, Rektor IAIQH Qomarul Huda Bagu Dr. Ahyar Fadly, perwakilan pimpinan STITNU, Koordinator GUSDURian Lombok Tengah Ahmad Jumaili, Koordinator Program JAGAT Muhammad Fahmi, Ketua B3KL Sadip Sayuti, serta sejumlah tokoh dan pemuda lintas iman.
Film selesai. Percakapan justru baru dimulai.
Dari Toleransi ke Persoalan yang Lebih Konkret
Koordinator GUSDURian Lombok Tengah Ahmad Jumaili mengatakan kemah itu merupakan salah satu mata rantai dari rangkaian Harlah Gus Dur 2026 di Lombok Tengah.
Rangkaian tersebut sengaja dirancang tidak berhenti pada diskusi tentang toleransi. Ada penanaman pohon, peluncuran Box Donasi Sampah Plastik, hingga pengembangan budidaya maggot.
Bagi Jumaili, toleransi akan menemukan bentuknya yang lebih nyata ketika orang-orang dari identitas berbeda bersedia bekerja untuk kepentingan yang sama.
“Ini bukan sekadar kegiatan peringatan Harlah Gus Dur. Kami ingin nilai-nilai yang diperjuangkan Gus Dur diterjemahkan menjadi kerja bersama yang langsung menyentuh masyarakat dan lingkungan,” kata Ahmad.
Di Selak Aik, gagasan itu diwujudkan melalui program JAGAT—Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi.
Nama program tersebut mempertemukan tiga kata yang menjadi fondasinya: agama, alam, dan toleransi.
GUSDURian Lombok Tengah mencoba menarik percakapan keberagaman keluar dari ruang seminar. Dialog lintas iman tidak cukup jika hanya berakhir dengan kesepakatan untuk saling menghormati. Ada persoalan lain yang juga menyentuh semua manusia tanpa memeriksa agama mereka terlebih dahulu: air yang berkurang, sampah yang menumpuk, sungai yang kotor, dan pohon-pohon yang hilang.
Selak Aik kemudian dipilih menjadi salah satu ruang untuk menguji gagasan itu.
Sebuah Program yang Dimulai Sebelum Harlah
Koordinator Program JAGAT GUSDURian Lombok Tengah Muhammad Fahmi mengatakan pekerjaan di Selak Aik sebenarnya telah dimulai sejak Juni 2026.
Tahap awal bukan menanam pohon atau membersihkan sungai. Mereka lebih dulu duduk bersama.
Sejumlah Focus Group Discussion (FGD) dilakukan untuk membaca persoalan yang dihadapi masyarakat dan menentukan bentuk pendampingan yang memungkinkan dilakukan secara berkelanjutan.
Dari forum-forum itulah kegiatan kemudian bergerak.
Masyarakat mendapat pelatihan pengolahan sampah organik. Setelah itu disusun agenda penghijauan, bersih sungai, hingga budidaya maggot.
“Program ini dirancang berkelanjutan dan berdampak,” kata Fahmi.
Ia menegaskan Harlah Gus Dur bukan garis akhir.
“Setelah FGD, kami lanjutkan dengan pelatihan pengolahan sampah organik untuk masyarakat Selak Aik, lalu penghijauan, bersih sungai, dan budidaya maggot. Program ini tidak selesai pasca-Harlah. Akan dilanjutkan dengan beragam program lain yang sudah kami rancang melalui JAGAT,” ujarnya.
GUSDURian Lombok Tengah ingin menjadikan Selak Aik sebagai pilot project pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.
Artinya, wisata tidak semata-mata dihitung dari berapa banyak orang yang datang. Ada persoalan yang lebih panjang: bagaimana lingkungan tetap terjaga, sampah dikelola, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi, dan kerukunan sosial tidak tercerabut ketika kawasan berkembang.
“Kalau Bukan Kita, Lalu Siapa?”
Rektor IAIQH Qomarul Huda Bagu Dr. Ahyar Fadly melihat kolaborasi itu sebagai bagian terpenting dari gerakan tersebut.
Ia mengapresiasi GUSDURian Lombok Tengah yang mempertemukan B3KL, Mapasma STITNU, Pokdarwis Selak Aik, dan komunitas lintas iman dalam satu agenda.
Bagi Ahyar, urusan alam terlalu besar jika hendak dikerjakan sendirian.
“Kolaborasi seperti ini sangat penting dilakukan karena kita tidak mungkin bisa menjaga alam sendirian,” katanya.
Keterlibatan pemuda lintas iman, menurut Ahyar, membuat gerakan itu mempunyai peluang untuk tumbuh lebih luas. Ia berharap gagasan yang dimulai GUSDURian tidak terus-menerus bergantung pada satu organisasi sebagai penggerak.
Kampus, komunitas, organisasi keagamaan, dan masyarakat dapat mengambil giliran menjadi inisiator.
“Adakan terus-menerus, jangan pernah lelah. Kalau bukan kita, lalu siapa yang kita harapkan?” kata Ahyar.
Ia bahkan menawarkan agar kegiatan penanaman pohon berikutnya dapat bergerak ke lokasi lain.
“Nanti mungkin STITNU punya lahan yang bisa di situ dilakukan penanaman pohon juga. Silakan. Kami siap terlibat dan berkolaborasi lebih lanjut,” ujarnya.
Bagi Ahyar, salah satu capaian penting malam itu bukan hanya jumlah peserta atau pohon yang akan ditanam. GUSDURian telah menjadi jembatan yang mempertemukan dua kampus dan berbagai kelompok masyarakat dalam satu isu yang sama.
Sebuah titik temu yang, pada mulanya, bernama lingkungan.
Lima Belas Ribu Pohon
Kerja bersama itu bukan sepenuhnya baru.
Ketua B3KL IAIQH Qomarul Huda Bagu Sadip Sayuti mengatakan, B3KL dan GUSDURian Lombok Tengah telah sekitar dua tahun membangun kerja sama dalam isu lingkungan.
Salah satu bentuknya ialah penanaman pohon secara maraton di berbagai lokasi tempat mahasiswa B3KL berkegiatan.
Jumlahnya tidak kecil.
“Sejak tahun lalu tidak kurang dari 15 ribu pohon telah ditanam dan merata di desa-desa yang ada di Batukliang Utara,” kata Sadip.
Bagi kelompok mahasiswa itu, kegiatan lapangan menjadi cara untuk menggeser wacana lingkungan dari konsep menuju kebiasaan.
Sebab menanam pohon, sebagaimana menjaga toleransi, tidak selesai ketika acara ditutup. Pohon harus hidup setelah orang-orang yang menanamnya pulang.
Agama dan Larangan Merusak Bumi
Malam bergerak semakin larut ketika Ketua FKUB Lombok Tengah TGH. Lalu Mala Syar’i memperoleh giliran berbicara.
Ia memulai dari film yang baru saja ditonton bersama.
Baginya, pesan film “Agama Jaga Bumi” sederhana tetapi mendasar: bumi tidak mengenal sekat identitas manusia.
Kerusakan alam dapat mengenai siapa saja.
Karena itu, menjaganya juga tak dapat diserahkan hanya kepada satu agama atau kelompok.
“Menjaga alam ini adalah tugas kemanusiaan kita tanpa memandang suku dan agama. Kalau kita menyaksikan film dokumenter tadi, jelas itu adalah tugas semua agama. Karena pesan Tuhan adalah sama,” kata Mala Syar’i.
Ia kemudian menyitir Al-Qur’an:
لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
Lā tufsidū fil-arḍi ba‘da iṣlāḥihā.
Jangan membuat kerusakan di muka bumi setelah keadaan diperbaiki.
Ayat itu membuat pembicaraan tentang lingkungan malam tersebut tak lagi hanya menjadi soal teknis penanganan sampah atau berapa pohon yang harus ditanam.
Ada dimensi etik di dalamnya.
Manusia, menurut Mala Syar’i, dapat berbicara tentang kesalehan, tetapi cara memperlakukan alam juga menjadi bagian dari tanggung jawabnya di hadapan Tuhan.
Bumi bukan sekadar tempat manusia mengambil air, kayu, makanan, dan keuntungan. Ia juga titipan yang dapat rusak oleh tangan manusia sendiri.
Puntung Rokok dan Kritik kepada Diri Sendiri
Justru pada bagian diskusi, percakapan malam itu menjadi lebih personal.
Sejumlah peserta mencoba menarik tema besar kerusakan lingkungan ke kebiasaan sehari-hari.
Salah seorang peserta menyinggung puntung rokok.
Contoh yang kelihatannya remeh, tetapi menyimpan ironi.
Orang dapat berbicara panjang tentang krisis lingkungan, menyalahkan penebangan hutan dan pencemaran sungai, tetapi beberapa menit kemudian menjatuhkan puntung rokok di tanah.
“Kalau kita bicara lingkungan tetapi puntung rokok kita sendiri masih dibuang sembarangan, berarti ada yang belum selesai,” kata seorang peserta.
Ia melanjutkan, perubahan harus dimulai dari kesadaran diri.
Ruangan diskusi seakan dibawa kembali ke skala yang paling kecil.
Bukan lagi semata pemerintah. Bukan perusahaan. Bukan pula orang-orang jauh yang menebang hutan.
Tetapi diri sendiri.
Sebab gerakan ekologis mudah terdengar megah ketika dibicarakan dalam forum. Ia jauh lebih sulit ketika harus diterapkan pada keputusan-keputusan kecil: di mana membuang sampah, berapa banyak plastik digunakan, apakah sungai dianggap tempat membuang limbah, dan apakah pohon yang sudah ditanam masih diperiksa beberapa bulan kemudian.
Film dan diskusi itu baru berakhir sekitar pukul 23.00 WITA.
Percakapan mengenai iman, toleransi, dan alam malam itu berhenti sementara.
Pagi menunggu.
Pagi Hari, Kata-kata Dibawa ke Tepi Sungai
Sekitar pukul sembilan pagi, peserta kembali berkumpul.
Jika malam sebelumnya mereka lebih banyak duduk dan berbicara, pagi itu rangkaian kegiatan bergerak ke lapangan.
Acara diawali dengan apel, kemudian peluncuran Box Donasi Sampah Plastik. Sekretariat Nasional GUSDURian juga memberikan apresiasi dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Box itu menawarkan gagasan sederhana: sampah plastik yang biasanya berakhir sebagai limbah dapat dikumpulkan, dikelola, dan ditempatkan dalam sistem yang memberi nilai guna.
Setelah rangkaian apel selesai, peserta bergerak menuju kawasan sekitar aliran Sungai Selak Aik.
Bibit-bibit pohon mulai ditanam.
Orang-orang yang pada malam sebelumnya datang dengan nama komunitas dan keyakinan yang berbeda kini mengerjakan pekerjaan yang sama: membuat lubang, menanam, dan menutup kembali tanah di sekitar bibit.
Tak ada pohon Islam, pohon Buddha, pohon Ahmadiyah, atau pohon milik sebuah kampus.
Yang ada hanyalah pohon yang kelak, bila tumbuh, memberi teduh dan menyimpan air bagi siapa saja.
Barangkali di situlah gagasan besar kemah lintas iman itu menemukan bentuknya yang paling sederhana.
Toleransi tak selalu harus dibicarakan melalui kalimat-kalimat besar tentang perbedaan.
Kadang ia tumbuh ketika orang-orang berbeda agama berdiri di tanah yang sama, mengotori tangan mereka dengan lumpur yang sama, lalu menanam sesuatu yang manfaatnya mungkin baru dirasakan bertahun-tahun kemudian.
Di Selak Aik, Harlah Gus Dur akhirnya bukan semata peringatan terhadap seorang tokoh yang telah tiada.
Gagasan Gus Dur tentang kemanusiaan dicoba ditarik lebih jauh: dari hubungan antarmanusia menuju hubungan manusia dengan bumi yang mereka tempati bersama.
Malam itu mereka berbicara tentang alam.
Paginya mereka menanam pohon.
Dan pekerjaan sesungguhnya, sebagaimana diingatkan Muhammad Fahmi, baru dimulai setelah semua peserta pulang.[]