AgamaFeaturesHeadlineHukum dan Kriminal

Warga Ahmadiyah Tak Lagi Sendiri: Ketika Solidaritas Datang Menyapa Mereka di Transito

Bagi warga Ahmadiyah disini, solidaritas bukan sekadar bantuan material, melainkan pengakuan bahwa mereka masih bagian dari warga negara dan warga NTB yang tidak dilupakan.

Gorden tipis dan lembaran triplek tua menjadi sekat ruang-ruang kecil yang kini disebut rumah.

Rapuh. Lapuk dimakan waktu. Namun di sanalah puluhan kepala keluarga bertahan, menjalani hari demi hari di Asrama Transito, Kota Mataram.

Memasuki halaman asrama, suasana kehidupan tetap berdenyut. Anak-anak kecil bermain kelereng di tanah berdebu, berlarian tanpa beban. Beberapa gadis berseragam SMA dan aliyah baru pulang sekolah. Salah seorang di antaranya menyapa ramah. Namanya Shinta Nuriyah — persis nama istri almarhum Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid. Belakangan kami tahu, ia lahir 17 tahun lalu, saat Hj. Shinta Nuriyah Wahid berkunjung sahur ke lokasi pengungsian ini. Sebuah kebetulan yang terasa simbolik: kenangan solidaritas yang masih hidup dalam nama.

Sudah hampir dua dekade mereka tinggal di sini. Sejak Februari 2006, ketika rumah-rumah warga Ahmadiyah di Ketapang, Lombok Barat, dirusak dan dibakar massa, puluhan keluarga terusir dari kampung halaman mereka. 

Sebagian besar akhirnya menetap di Transito Mataram, membangun hidup dari nol, jauh dari lahan pertanian yang dulu menjadi sandaran ekonomi mereka. 

Jumlahnya tidak besar — sekitar puluhan kepala keluarga — tetapi kisahnya panjang. Mereka pernah hidup tanpa dokumen kependudukan yang layak, kesulitan mengakses layanan kesehatan dan pendidikan, bahkan menghadapi hambatan administratif untuk akta kelahiran anak-anak mereka. 

Di sisi lain, kondisi hunian juga jauh dari kata ideal: gubuk-gubuk sempit berdinding gedek berdiri berdempetan, mencerminkan keterbatasan ruang dan fasilitas. 

Hari itu, kami — peserta Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) PW GP Ansor NTB — datang bukan sekadar berkunjung. Kami ditugaskan melakukan silaturahim sekaligus analisis sosial, mencoba memahami realitas dari dekat, bukan dari laporan atau diskusi ruang kelas.

Interaksi berlangsung sederhana. Tanpa seremoni. Tanpa jarak.

Anak-anak tetap bermain. Orang tua menyapa hangat. Percakapan mengalir tentang sekolah, pekerjaan serabutan, hingga harapan masa depan. Bertahun-tahun hidup dalam pengungsian membuat mereka terbiasa berjuang dalam sunyi, menjalani hari dengan pekerjaan apa pun yang tersedia — dari buruh angkut hingga pekerjaan informal lain — demi menjaga keluarga tetap bertahan. 

Di tengah kondisi itu, kehadiran organisasi masyarakat sipil termasuk PW GP Ansor menjadi penguat moral tersendiri. Bagi warga Ahmadiyah di sini, solidaritas bukan sekadar bantuan material, melainkan pengakuan bahwa mereka masih bagian dari warga negara dan warga NTB yang tidak dilupakan.

Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa persoalan kemanusiaan tidak selalu hadir dalam headline besar. Kadang ia tersembunyi di balik bilik-bilik sempit, di sela tawa anak-anak yang tumbuh dalam ruang sementara yang terlalu lama menjadi permanen.

Dan pada akhirnya, perjalanan ke Transito bukan sekadar tugas kaderisasi.

Ia berubah menjadi cermin: tentang empati, tentang keberanian merawat kemanusiaan, dan tentang tanggung jawab sosial yang tak selesai hanya dengan memahami — tetapi menuntut keberpihakan.

Adsvertise
Selengkapnya
Back to top button